Catatan Akhir Tahun 2022
Pada suatu hari, saya membaca twit seorang besti: “Pingin balik ke aku yang dulu tapi pakai kepala yang sekarang.” Saya menyukai twit itu. Dalam sekilas lalu, saya juga menginginkannya. Kepala saya betul-betul mengalami renovasi yang signifikan tahun ini, persisnya pasca tragedi akhir tahun 2021 di tempat dulu saya belajar.
Dulu, saya pikir tidak mungkin saya bisa berdiri sendiri tanpa naungan intelektual dari tempat itu. Rupanya sering sekali apa yang mulanya sangat tidak mungkin terjadi saat dipikirkan, ternyata mampu dilampaui saat dilakukan. Ada hari-hari di mana saya sepenuhnya buta pada apa yang tejadi di hadapan saya. Lalu, saat saya dipaksa mengambil jarak, “tiba-tiba” saya melihat semuanya.
Saya tidak pernah menampik bahwa sudah ada begitu banyak hal yang saya peroleh dari tempat itu, manis dan pahit. Tapi, saya tidak menyesal untuk pergi membawa hal-hal yang masih berguna dan meninggalkan sisanya, termasuk cara pandang yang bagi saya kini, sempit dan sangat bermasalah.
Alangkah menyenangkannya jika saya menjalani hari-hari dengan kepala saya yang sekarang di masa muda penuh gelora itu: hari-hari akan terasa ringan, mudah, dan seru walau badai tetap menderu dari berbagai sisi. Tapi tentu saja itu mustahil. Saya tetap saja telah melalui seminggu penuh kemewahan di Ubud tahun 2017 lalu hanya dengan kepala seluas batok kelapa sehingga tidak ada yang cukup menarik untuk dinikmati kecuali ejekan-ejekan yang saya lontarkan dalam hati pada banyak hal di sekitar saya.
Saya juga baru tahu belum lama ini dari salah satu teman saya bahwa saat itu saya memang betul-betul manusia yang angkuh dan menyebalkan. Dulu ataupun sekarang, saya tahu betul bahwa sikap saya angkuh pada banyak hal. Bedanya, sekarang saya malu pernah merasa begitu tinggi dibanding orang-orang di sekitar saya. Kata Han, mungkin semua ini memang perlu saya lalui. Kalau tidak, belum tentu saya bisa menghargai banyak hal di sekeliling saya sebagaimana sekarang.
Kepala saya dulu penuh batu yang membara. Sekarang air pelan-pelan menetes di atasnya dan suatu ekosistem hijau yang mungil mulai terbentuk.
Dalam cuaca hati yang seperti itulah beberapa peristiwa penting di tahun 2022 terjadi: pelan-pelan saya mulai mengajar lagi–kali ini tanpa beban ingin menyelamatkan siapa-siapa, membuat situs web saya sendiri di nairinaket.com untuk rumah bagi ilustrasi-ilustrasi saya, kehilangan kucing dan menyambut kucing baru, pindah rumah dan mulai membiasakan diri mengelola rumah sendiri, pameran ilustrasi luring di Jakarta, dan mulai belajar dasar menggambar lagi.
Saya tidak banyak membaca, apalagi menulis sepanjang tahun ini. Tapi, saat menamatkan sebuah buku atau sebuah tulisan untuk mengisi situs web saya, hati saya penuh dengan kegembiraan. Sudah lama sekali sejak saya merasakan hal seperti ini setelah selesai menulis: perasaan gembira karena telah melakukan hal yang selalu saya sukai.
Kalau diingat-ingat lagi, saya dan Han tidak begitu banyak bertemu orang baru tahun ini, tapi berkali-kali kami akui, perubahan cara pandang yang terjadi secara radikal sepanjang tahun ini mengubah cara pandang kami terhadap dunia, lalu, “tiba-tiba” saja banyak hal terasa berbeda. Pertemuan dengan teman-teman lama kami semasa kuliah terasa lebih hangat lebih dari sebelumnya, apa yang kami makan bisa kami nikmati dengan sepenuhnya, hubungan kami dengan orang-orang di sekitar kami secara umum juga tidak membebani. Ya, ya, hidup terasa lebih ringan, apalagi bila mengikuti kata Soleh Solihun, “Politik itu fardhu kifayah,” jadi diwakilkan saja. Hahaha.
Hubungan-hubungan antar-manusia ini masih menjadi misteri (menyenangkan) bagi kami. Menyadari beberapa hal di antaranya tampaknya memiliki dampak positif terhadap keterampilan sosial yang kemudian juga berdampak terhadap baiknya kolaborasi-kolaborasi yang terjadi dalam rumah tangga mungil kami. Hahaha!
Selain itu, menyadari bahwa saya sama sekali bukan pusat dunia ternyata berhasil meredam banyak hal tidak perlu dari dalam diri saya. Dulu, saya mungkin sangat tidak menyukai kata ini: kompromi. Mungkin kata ini dulu terasa sebagai sebentuk kekalahan telak yang sangat tidak menyenangkan. Kini, kompromi adalah sebentuk seni. Ceilah. Hahaha, mungkin saya betul-betul sudah menua.
Yah, secara umum, tahun ini cukup memuaskan. Rencana untuk tahun depan kecil-kecil saja, berhasil ke Bologna, misalnya. Ha! 😛

Komentar
Posting Komentar