Tentang Saya
/ 2015
Aku tidak ingin kaya. Aku hanya ingin hidup. Aku ingin melihat banyak tempat. Aku ingin mendengar banyak suara. Aku ingin menghirup seribu satu bau kehidupan. Alangkah mengerikannya terpenjara di satu tempat. Alangkah menjemukannya. Alangkah memuakkan. Aku mesti pindah tempat setiap saat, meski cuma selangkah.
(Seno Gumira Ajidarma)
/ 2018
Halo.
Ini aku lagi. Tadinya, aku berniat menghapus kutipan yang telah tiga tahun lebih "aku putuskan" untuk menarasikan diri. Tapi tidak jadi saja. Ternyata aku masih menyukai kutipan itu meski setelah kubaca ulang, rupanya, "ingin" saja tidak cukup untuk sampai pada satu tempat. "Ingin" saja benar-benar tidak cukup untuk sampai "hanya ingin hidup". "Seribu satu bau kehidupan" itu mesti terhalang tembok besar nan tinggi bernama kemalasan pada diriku. Sepertinya, kutukan "ingin" inilah yang menimpaku bertahun ini. Usiaku sudah dua puluh empat setengah dan aku masih menjadi "manusia ingin" yang belum banyak mengalami.
Aku juga tidak tahu apa yang membawaku ke sini lagi setelah sangat lama aku tidak menulis di blog ini. Mungkin, aku agak buncah karena inilah tempat yang masih memungkinkanku bertemu dengan teman-teman baru di gang-gang sempit sepi jagat maya. Aku sedang jengah dengan keriuhan yang terjadi di Facebook, Twitter (yang sudah lama aku abaikan), Instagram (yang kugunakan hanya demi eksistensi diriku sebagai tukang gambar), bahkan Whatsapp yang pernah jadi sangat pribadi, tak perlu membuatku seperti sedang berada di sebuah balai pertemuan ramai orang tiap waktu.
Jadi, halo lagi.
Aku tidak yakin harus mulai dengan nama. Sejujurnya, baru kusadari sekarang, aku tidak begitu menyukai namaku yang terlampau "arab". Mungkin aku akan lebih senang dipanggil Denok saja, seperti Lik Yem memanggilku selalu. Aku (terlalu) kurus, kecil, berambut keriting sebahu yang cat kemerahannya belum pudar, berkacamata hampir selalu. Mata cokelat tanpa bulu mata yang berarti. Gigi besar-besar, rapi di dereta atas, berantakan di bawahnya. Tidak bisa dibilang cantik dalam ratusan kali pandang. Aku tidak bisa melukis alis meski bisa melukis untuk cerita-cerita anak yang ditulis teman-temanku. Kata beberapa teman, aku lumayan humoris. Kalau kamu sedang sangat iseng dan membuka tulisan-tulisanku lima tahun lalu di sini, kamu akan menemukan orang yang sungguh berbeda dari yang sedang kamu baca di sini. Semakin lama, aku semakin bermasalah dengan kata dan bahasa (tertulis). Apalagi sejak banyak berurusan dengan buku dan esai. Oh!
Blog ini kubuat pada tahun pertama aku kuliah di Solo. Lamat-lamat, aku masih ingat bagaimana dulu bertekad akan rajin menulis di blog ini, dengan atau tanpa pembaca. Sepertinya, itu sewaktu aku masih sangat menyukai gaya tulisan Raditya Dika di buku-bukunya, terutama di Cinta Brontosaurus. Kadang-kadang, aku ingin saja menghapus tulisan-tulisan lamaku yang nggilani itu. Untunglah tidak kulakukan.
Masa kanakku habis di desa kecil di ujung barat kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Bukan sebuah masa kanak yang penuh tawa, meski aku tidak selalu berduka. Dulu, aku rajin bangun pagi pada hari Minggu demi kartun-kartun kesukaanku, terutama Detektif Conan dan Scooby-Doo yang waktu itu belum pernah ditayangkan di manapun. Sore-sore, aku menantikan Honeybee Hutch di Lativi, benar-benar ingin segera melihat Hachi bersatu kembali dengan ibunya--itu kartun yang benar-benar menyedihkan. Huhu. Dan tentu saja, Indomi goreng telur yang kubuat sendiri di sela kartun Tom and Jerry jam empat sampai setengah lima sore. Ah, aku masih sangat ingat saat mengimajinasikan diri masuk surga dan boleh minta apa saja, aku akan minta Tuhan untuk membolehkanku nonton semua film kartun yang ada di dunia.
Bapak yang mengenalkanku pada huruf-huruf latin pertamaku. Begitu meninggalkan dunia buta huruf, aku membaca semua huruf di depan mataku, meski itu belum memiliki arti buatku. Sepertinya, semua buku Inpres koleksi perpustakaan SD-ku yang tidak pernah didatangi siapa pun sudah habis kubaca. Di rumah, masih ada setumpuk buku perpustakaan berlabel milik negara yang belum aku kembalikan. Oh, aku tidak mencuri, kok. Hanya meminjam. Tapi lama.
Mungkin aku beruntung memiliki Ibu yang sering membelikanku majalah Bobo dan Mentari di kota. Sekali-sekali, ada komik Detektif Conan juga. Gara-gara komik itulah aku ingin bisa menggambar seperti Aoyama Gosho. Kelas enam, aku minta Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran sebagai hadiah ulang tahun ke-12. Kebetulan saja aku ikut ibu ke kota, mampir ke sebuah toko buku, dan sampul buku berwarna hijau lumut itu nongol di depanku. Ibu mau membelikan. Itu novel pertama milikku sendiri! Aku girang dan menghabiskan buku tebal seperti kitab suci itu dengan pandangan aneh teman-temanku.
Tujuh buku seri Harry Potter aku tamatkan saat SMP, meminjam perpustakaan dan teman. Aku tidak lagi menyukai Bobo, hanya membeli edisi khusus Harry Potter-nya, lalu beralih ke Teen. Saat SMA, aku (dan berjuta remaja Indonesia, kurasa) menyukai novel-novel remaja terbitan Gagasmedia dan Gramedia. Perpustakaan SMA-ku, sayangnya tidak senyaman perpustakaan SMP. Koleksinya juga buruk. Tidak banyak buku yang bisa kubaca waktu itu. Aku pembenci sekolah dan nilai, sering tidur di kelas, tidak termasuk jajaran elite SMA yang konon paling yahud sekota itu, tidak terperhitungkan, meski pacarku saat itu adalah bocah olimpiade Matematika yang manis (tapi tidak menyukai buku-buku). Untunglah aku selamat, bisa lulus SMA.
Saat kuliah, kukira aku akan jadi manusia supercanggih yang akan bisa menakhlukkan dunia. Jebulnya, masuk ke kelas seperti memasuki mesin waktu dan meluncur mulus ke masa bertahun-tahun di masa lalu. Aku masih tidak menyukai kelas, kuliah, nilai. Kuputuskan hubungan dengan pacarku pada tahun pertama kuliah karena dia semakin tidak masuk akal. Aku sudah tidak begitu menaruh hormat pada perkuliahan di kelas, menemu tempat menyenangkan penuh buku di sebuah UKM kampus. Bertemu teman-teman baru... Dan kurasa itulah saat aku agak tahu apa yang ingin kulakukan pada hidupku.
Aku menyukai hal-hal sederhana seperti berhasil bangun pagi, menulis catatan harian, berhasil mencuci dan nyetrika meski sedang banyak kerjaan, mendapatkan pesan pendek selamat pagi dan selamat tidur, mi ayam, es teh tidak terlalu manis, angkringan Mas Joko, angkringan Pak Hono, buku-buku, tidur saat tubuh benar-benar telah sampai pada puncak kelelahan, tidak kehabisan stok sabun, syampo, deterjen, warna gincu yang pas untuk bibirku, dan kadang-kadang menghabiskan waktu cukup lama dengan luluran sebelum mandi.
/ Natal 2018
Ternyata aku tidak selalu melakukan hal-hal yang aku sukai. Kita juga tidak pernah mencintai seseorang tanpa cela. Hm. Sekarang, pagiku semakin siang saja bermula. Catatan harianku tiga bulan terakhir berubah radikal menjadi daftar buku-buku yang berhasil kubaca (tanpa sebarispun komentar). Kurasa, aku di catatan harianku bisa lebih baik menjelaskan tentang ini.
4 September 2018, kamar kos jelang pulang, 01.18
Apakah sebuah catatan harian tidak lebih berharga dan bermutu dari sebuah esai? Itu bukan pertanyaan yang mengharap penjelasan serius merunut konteks kesejarahan untuk mengatakan sebuah catatan harian lebih bernilai ketimbang jenis tulisan lain dan sebaliknya. Pertanyaan itu muncul saat aku memikir-mikirkan penjelasan yang tepat untuk tak selesainya "hanya" sebentuk pengalaman biografis di lembar-lembar ini, hari-hari yang teramat lama berlalu tanpa ingatan tertulis.
Berkali lagi, penjelasan paling tepat dan tak mau aku akui itu ternyata kepastian yang tak dapat kuelak saat huruf-huruf ini membentuk diriku yang lain: saat menulis catatan harian, bukan esai, puisi, cerita pendek, dan pusparagam tulisan lain, aku berhadapan dengan satu-satunya orang yang rasa-rasanya sedang ingin aku hindari--diriku sendiri.
Betapapun aku ingin membangun sebuah lansekap agak utuh tentang diriku di setiap peristiwa--bahwa aku adalah sosok yang terbentuk oleh kultur tertentu pada suatu masa yang amat spesifik, dan aku mengalaminya tidak sendirian; juga raga ini berada di latar geografis yang mestinya bisa terbayangkan--yang tertulis hanyalah diriku dan diriku, dengan mata , pikiran, dan pertanyaan yang sama, yang sangat mungkin belum beranjak dari lembar pertama catatan ini bermula.
Tidak ada yang berani menelanjangi isi kepalaku dengan cara begitu rupa selain sebuah catatan harian. Di huruf-huruf ini, aku mesti menerima segala, pada akhirnya, sejujurnya, tanpa dalih referensi-referensi, bersembunyi di belakang diksi.
Katanya, orang yang sangat mendalami diri sendiri sering jatuh ke jurang keterpurukan. Itu sangat mungkin, kurasa. Tapi, lebih sial lagi orang yang kehilangan kesadaran pada dirinya sendiri. Dan sangat sial lagi orang yang memikirkan satu hal dengan cara yang sama dengan dirinya bertahun-tahun lalu. Kurasa, krisis semacam inilah yang sedang aku alami.
Ah, aku sering merasa sangat minder dan tidak yakin pada diriku sendiri. Juga sekarang.
Aku seseorang yang tidak terlalu nyaman dengan diksi "uang", meski sungguh "aku mau pulang/ dan membawa uang/ segudang/ segudang/ segudang." Aku hanya cukup senang bisa menebus buku-buku, kuas, cat, kertas gambar, dan segala yang aku butuhkan untuk hidup hari ini, juga bisa menghindarkan diriku dari mati kelaparan di kos. Gagasan "menjadi orang kaya" secara material tidak mungkin memenuhi isi kepalaku. Aku harap, yang ini tidak berubah sampai aku tua.
Hal lain yang kupikirkan saat ini, soal kemapanan intelektual. Ah, hidup saja bisa anti-kemapanan lho, intelektualitas sebaiknya tidak mengenalnya juga. Gawat juga kalau kita sampai merasa aman dan nyaman lalu menolak berpikir lagi.
Hmm.
Aku tidak tahu.
Tahun depan, aku mungkin beda lagi.
/ 2021, jelang usia ke dua puluh tujuh
Pandemi sudah berlangsung selama dua lebaran. Kami orang-orang di dunia ketiga ini terlalu diberkahi keterampilan adaptasi yang mumpuni. Orang-orang telah "berdamai" dan "hidup berdampingan" dengan virus corona sebagaimana yang diusulkan dengan amat bijaksana oleh negara. Dan aku, karena tidak memiliki apapun untuk kulakukan di Solo kecuali menyengsarakan diri bekerja di sepetak kamar kos sendirian, kembali ke rumah dalam keadaan dhedhel dhuwel.
Satu minggu yang lalu aku mengepak barang-barang yang paling kuperlukan untuk bekerja dan tinggal cukup lama di rumah. Hal-hal yang merisaukan diriku, seperti yang aku kira akan mengikatku selamanya di kota itu pun berusaha kutinggalkan--setidaknya untuk sementara.
Tidak aku sangka, perjalanan dua setengah jam dari Solo ke Ponorogo itu juga serasa meninggalkan bagian diriku yang lain di sana. Aku sama sekali tidak risau kalau tidak akan menemukan diriku yang itu lagi saat kembali.
Kurasa tahun-tahun lalu aku terlalu percaya diri mengatakan, aku agak tahu apa yang akan kulakukan dengan hidupku. Kenyataannya, harapan yang bertambah sejalan dengan usia semakin membuat pandanganku memburam. Saat ini, aku tidak benar-benar tahu apa yang sedang dan akan aku lakukan dengan hidupku. Tapi, apalah arti kata "hidup" dan kepemilikan "-ku" itu. Aku tidak benar-benar memiliki diriku sendiri, betapapun aku ingin. Dia hanya memandangiku seperti aku orang asing akhir-akhir ini.
Saat ini aku hanya berusaha untuk bertahan hidup saja.
/ 2024, tiga puluh tahun yang pertama
Rupanya, beberapa hal hanya mungkin diterima dan dimengerti di usia tiga puluh. Setidaknya, tiga putuh tahun yang pertama. Tentu ini semua tidak hadir secara tiba-tiba, tapi banyak hal baik terjadi dalam rentang tiga tahun.
2021 adalah tahun bersejarah: menikah, meninggalkan Bilik Literasi (BL) tanpa sedikitpun penyesalan--tidak secara baik-baik dengan alasan yang sangat sepadan, tentu--, dan berusaha menjalani hidup sewajar mungkin seperti orang-orang kebanyakan. Bagian yang terakhir itu terdengar agak sok, tapi kalau mengingat kembali diriku tahun-tahun sebelumnya, itu sama sekali tidak berlebihan. Aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya, tapi, pada tahun 2018 itu barangkali aku sedang mengalami fase yang sangat tertekan karena fanatisme yang dilahirkan oleh BL.
Tempat itu menjadikanku manusia yang amat menyebalkan, sinis, angkuh, dan melihat orang lain lebih rendah dari diriku hanya karena mereka tidak membaca (buku) dan menulis. Segala hal di sekitarku terasa mencurigakan, tidak benar, dan pantas dicemooh. Namun begitu, aku pernah berpikir tempat itulah yang selama ini kucari. Walau belum menghasilkan apapun yang pantas aku banggakan sebagai karya, tapi aku masih sangat suka membaca dan menulis--setidaknya di blog ini. Haha--dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesenangan sama adaah hal yang menyenangkan.
Banyak hal memang terasa menyenangkan di tahun-tahun awalku belajar di sana. Namun, lama-lama, membaca dan menulis lebih terasa dilakukan untuk pembuktian dibandingkan untuk bersenang-senang. Setiap hari, aku meraa seperti pendosa saat tidak melewatkan waktu dengan membaca buku atau menulis esai.... sampai suatu saat aku menjelma seperti mayat hidup yang hanya menuliskan daftar judul buku yang telah berhasil kubaca di catatan harian dan tidak lagi menyenangi peristiwa menulis. Waktu itu, tidak ada yang lebih membenci aku kecuali diriku sendiri. Padahal, ada masa-masa saat aku benar-benar menulis dan membaca seperti bernapas. Blog ini pun lahir 12 tahun yang lalu hanya karena obsesiku pada kegiatan ini: menulis; dan aku merasa diriku utuh hanya karena telah berhasil menulis sebuah postingan.
Hanya pada saat terjadi kekerasan seksual yang menimpa temanku belajar di BL-lah--dan semua runtunan peristiwa yang terjadi setelahnya--aku baru bisa melihat semuanya dengan jelas. Aku tidak serta merta meninggalkan tempat itu walau sudah merasa ada yang janggal--setidaknya dalam diriku--dalam kurun 2018-2020. Kupikir, ini hanya karena etosku saja yang buruk. Rupanya, hanya butuh sebuah ledakan kecil untuk memantik ledakan-ledakan berikutnya.
Aku harus menuliskan tentang hal ini (dalam versi yang paling luas) karena bagaimanapun, ini adalah titik penting yang mengubah cara pandangku terhadap dunia dan orang-orang di sekitarku. Sampai saat aku memperbarui tulisan ini, ingatan itu masih segar di benakku. Aku mengingat peristiwanya, semua orang yang terlibat, yang mengecapku sebagai pengkhianat, yang pura-pura tidak tahu, dan terutama, mana orang-orang yang datang dengan pertemanan yang tulus.
Aku tidak pernah menduga seberapa besar efek peristiwa itu padaku. 2023, pandemi berakhir secara resmi. Begitu pula hari-hariku di BL, ia telah menjadi sebuah bab yang telah berakhir dari sebuah buku yang sedang kubaca (atau kutulis. Ha!) sejak akhir 2021.
2021 adalah tahun bersejarah: menikah, meninggalkan Bilik Literasi (BL) tanpa sedikitpun penyesalan--tidak secara baik-baik dengan alasan yang sangat sepadan, tentu--, dan berusaha menjalani hidup sewajar mungkin seperti orang-orang kebanyakan. Bagian yang terakhir itu terdengar agak sok, tapi kalau mengingat kembali diriku tahun-tahun sebelumnya, itu sama sekali tidak berlebihan. Aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya, tapi, pada tahun 2018 itu barangkali aku sedang mengalami fase yang sangat tertekan karena fanatisme yang dilahirkan oleh BL.
Tempat itu menjadikanku manusia yang amat menyebalkan, sinis, angkuh, dan melihat orang lain lebih rendah dari diriku hanya karena mereka tidak membaca (buku) dan menulis. Segala hal di sekitarku terasa mencurigakan, tidak benar, dan pantas dicemooh. Namun begitu, aku pernah berpikir tempat itulah yang selama ini kucari. Walau belum menghasilkan apapun yang pantas aku banggakan sebagai karya, tapi aku masih sangat suka membaca dan menulis--setidaknya di blog ini. Haha--dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesenangan sama adaah hal yang menyenangkan.
Banyak hal memang terasa menyenangkan di tahun-tahun awalku belajar di sana. Namun, lama-lama, membaca dan menulis lebih terasa dilakukan untuk pembuktian dibandingkan untuk bersenang-senang. Setiap hari, aku meraa seperti pendosa saat tidak melewatkan waktu dengan membaca buku atau menulis esai.... sampai suatu saat aku menjelma seperti mayat hidup yang hanya menuliskan daftar judul buku yang telah berhasil kubaca di catatan harian dan tidak lagi menyenangi peristiwa menulis. Waktu itu, tidak ada yang lebih membenci aku kecuali diriku sendiri. Padahal, ada masa-masa saat aku benar-benar menulis dan membaca seperti bernapas. Blog ini pun lahir 12 tahun yang lalu hanya karena obsesiku pada kegiatan ini: menulis; dan aku merasa diriku utuh hanya karena telah berhasil menulis sebuah postingan.
Hanya pada saat terjadi kekerasan seksual yang menimpa temanku belajar di BL-lah--dan semua runtunan peristiwa yang terjadi setelahnya--aku baru bisa melihat semuanya dengan jelas. Aku tidak serta merta meninggalkan tempat itu walau sudah merasa ada yang janggal--setidaknya dalam diriku--dalam kurun 2018-2020. Kupikir, ini hanya karena etosku saja yang buruk. Rupanya, hanya butuh sebuah ledakan kecil untuk memantik ledakan-ledakan berikutnya.
Aku harus menuliskan tentang hal ini (dalam versi yang paling luas) karena bagaimanapun, ini adalah titik penting yang mengubah cara pandangku terhadap dunia dan orang-orang di sekitarku. Sampai saat aku memperbarui tulisan ini, ingatan itu masih segar di benakku. Aku mengingat peristiwanya, semua orang yang terlibat, yang mengecapku sebagai pengkhianat, yang pura-pura tidak tahu, dan terutama, mana orang-orang yang datang dengan pertemanan yang tulus.
Aku tidak pernah menduga seberapa besar efek peristiwa itu padaku. 2023, pandemi berakhir secara resmi. Begitu pula hari-hariku di BL, ia telah menjadi sebuah bab yang telah berakhir dari sebuah buku yang sedang kubaca (atau kutulis. Ha!) sejak akhir 2021.
Hari-hari setelah bab Bilik Literasi sungguh berbeda. Bab baru itu seperti dunia yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya ada--padahal dia selalu ada! Dunia yang lebih dari replika di dalam buku-buku, yang sejak dulu selalu ada di situ, menunggu... Dunia yang penuh dengan segala sukacita, tragedi, hari-hari yang biasa sekaligus luar biasa, tempat setiap orang yang hidup di dalamnya menciptakan sejarah mereka sendiri. Dunia yang tidak selalu aku mengerti, tapi begitu aku belajar melihat, mendengar, dan berbicara lagi dengan lebih sedikit prasangka buruk, ia tersenyum dan membentangkan tangannya lebar-lebar, seolah-olah berkata, "Kemarilah, datanglah padaku! Aku masih memiliki banyak hal untuk kutawarkan padamu!"
Hari-hari terasa jauh lebih mudah dan ringan. Hubunganku dengan keluarga dan orang-orang terdekat terjalin makin baik. Kini, aku juga lebih menghargai setiap pertemuan dan hubungan yang bisa terjalin dengan sesama manusia. Aku menikmati hubungan pertemanan yang tulus dengan segala kekonyolan dan kompleksitasnya. Aku tidak lagi memandang orang-orang di sekitarku lebih rendah atau lebih tinggi. Pada akhirnya, kini aku bisa mencintai manusia, bersama dengan segala kompleksitas yang dimilikinya.
Hari-hari terasa jauh lebih mudah dan ringan. Hubunganku dengan keluarga dan orang-orang terdekat terjalin makin baik. Kini, aku juga lebih menghargai setiap pertemuan dan hubungan yang bisa terjalin dengan sesama manusia. Aku menikmati hubungan pertemanan yang tulus dengan segala kekonyolan dan kompleksitasnya. Aku tidak lagi memandang orang-orang di sekitarku lebih rendah atau lebih tinggi. Pada akhirnya, kini aku bisa mencintai manusia, bersama dengan segala kompleksitas yang dimilikinya.
Pada usia 30 tahun, aku kembali mulai menyukai apa adanya diriku, buku-buku terasa mulai kembali jadi teman baik yang membantuku memahami dunia, dan aku mulai tahu bagaimana cara hidup yang ingin aku jalani dan apa yang ingin aku lakukan di antaranya, sebelum tiga puluh tahun yang kedua.
Saat ini, aku hidup dengan baik di dusun Butulan bersama suami dan dua kucing.
Saat ini, aku hidup dengan baik di dusun Butulan bersama suami dan dua kucing.
