Pahlawanku

Selasa, 24 Juli 2012 06:38:36
                Halo teman-temaan :) Hari ini puasa hari keempat ya? Belum bolong kan pastinyaaa? Yakan yakan yakan? Well, pagi ini masih sedingin kemaren dan kemarennya lagi. Dingin-dingin begini, jadi inget waktu aku naik gunung. Hihihi tapi aku nggak akan nulis tentang naik gunung lagi, aku kan udah cerita :P
                Mmm... Nulis apa ya hari ini? Oh iya. Aku akan membuatmu bosan saja ah dengan tulisanku tentang pahlawanku. *jeng jeng jeng!* Jadi, kamu sudah tahu kalau namaku adalah Na’ima. Tapi, lebih umum dipanggil imut, cantik, atau bunga sih. Hwahahaa bercanda ding. Jadi, namaku Na’ima. Aku tumbuh di sebuah desa yang terpencil –memang iya- Watubonang yang terletak di pedalaman Jawa Timur. Beruntungnya, aku bisa sekolah di sebuah SMA terfavorit sekotaku, SMA Negeri 1 Ponorogo. Dan sekarang aku sudah resmi menjadi calon maba di sebuah universitas di Surakarta. Waktu benar-benar cepat berlalu bukan? Aku masih ingat ketika aku berlari-lari dengan teman-temanku untuk berangkat sekolah pertama kali waktu SD dulu. Hari itu masih jam 05.00, tetapi aku dan teman-temanku udah semangat aja berangkat sekolah. Ah, sekolah memang sangat menyenangkan! Buku-buku, pensil, tas baru, seragam baru, topi, dasi, sepatu baru, semuanya terasa sangat keren! Sekarang, bangku sekolah telah kutinggalkan beberapa bulan silam. Beruntunglah aku yang masih sempat mengenyam pendidikan sampai setinggi ini. Padahal, teman-temanku SD sudah banyak yang punya anak sekarang.
                Aku nggak akan bisa memperoleh semua ini tanpa mereka, orang tuaku. Yup, merekalah pahlawanku. Mereka telah mengorbankan hampir segalanya untukku. Hutang sana-sini, bekerja siang malam, semuanya hanya untukku. Rasanya, aku nggak mungkin membalas semua jasa mereka. Tapi, tentu saja aku akan melakukan yang terbaik buat ayah sama ibuku, mumpung mereka masih ada. Kali ini, aku akan kuliah sungguh-sungguh, jadi yang terbaik, lalu bisa memberikan “sesuatu” buat ayah sama ibu. Wajah mereka yang semakin bertambah kerutannya itu, telapak tangan ayah yang semakin kasar karena bekerja, senyum bahagia ibu ketika melihatku lolos SNMPTN dulu, malam-malam yang dihabiskan mereka untuk kerja lembur untukku, semuanya nggak akan kubiarkan sia-sia.
                Ayah, ibu, terimakasih untuk selalu memberiku kesempatan bermimpi setinggi-tingginya.

Komentar

Postingan Populer