Nyawa dalam Tulisan
30 Agustus 2012; 03:50 pagi, selepas begadang membaca Perahu Kertasnya Dee
Membaca kisah Kugy seperti melihat diriku sendiri. Seperti dengan Mia Thermopolis, aku dan Kugy memiliki beberapa persamaan. Dia ini kecil -yang artinya nggak tinggi-tinggi amat dan nggak gendut-gendut amat-, seneng nulis, jayus, berkepribadian ekstrovet, dan kalo ketawa nagkak begitu. Aku nggak tahu apakah yang satu ini sama denganku, tapi si Kugy ini benar-benar apa adanya. Dia adalah sosok tercuek, ter-PD, dan punya keteguhan hati yang patut diacungi empat jempol sekaligus. Singkatnya, cewek yang satu ini ajaib. Ia begitu menjadi dirinya sendiri.
Kemudian Keenan. Kamu itu kok ganteng banget siiih, haaah?! hahahaha! Caramu memanggil kugy dengan sebutan 'Kecil' benar-benar membuatku iri.
Ah, Dee ... Mbak Dee ... Kok bisa sih bikin cerita yang ringan tapi bermakna kayak ginii? Kok bisa sih merangkai kata seindah setiap paragraf yang tersusun dalam Perahu Kertas-mu? Satu lagi, kok tahu-tahunya Bahasa Belanda sih?! Ah, Mbak Dee engkau bikin aku superiri padamuuu! Gara-gara dirimu, aku kemarin ngebut nulis apa juga nggak ngerti pokoknya nulis deh!
Kau tahu, Mbak Dee? Dengan Perahu Kertas-mu itu kau mengajariku untuk iku menjadi diriku sendiri nggak peduli orang mau bilang apa, mempertahankan mimpiku apapun yang terjadi, dan satu lagi yang paling membekas di hatiku adalah bukan soal hati yang akan memilih sendiri tempatnya berlabuh, tetapi soal karya yang mempunyai nyawa. Yang dibuat bukan hanya untuk disukai banyak orang, tapi juga merepresentasikan jiwa sang pencipta. I simply call it: show the real you.
Bagaimana Keenan menyatakan kejujurannya bahwaia tak menyukai cerpen Kugy yang dimuat di majalah karena nggak ada nyawa dalam tulisannya -meskipun bagi seseorang yang nggak mengenal Kugy cerpen itu bagus banget- benar-benar mengingatkanku dengan kejadian saat aku mengikuti lomba menulis cerpen dua tahun lalu.
Aku membuat dua cerpen untuk lomba itu. Cerpen yang satu itu 'aku banget' dan lainnya aku tulis dengan perencanaan yang matang. Kupikir, cerpenku yang kedualah yang lebih berpotensi memenangkan lomba itu karena dari segala aspek -bahasa dan jalan cerita- ia lebih unggul. Setelah pengumuman, ternyata yang keluar sebagai juara -juara tiga- adalah cerpenku yang pertama.
Aku baru menyadarinya. Perbedaan kedua cerpen itu hanya satu: nyawa. Menulis dengan hati memang lebih berarti. Menjadi diri sendiri memang yang terbaik!
Well, Mbak Dee ... I've got it. Tengkyu :)
Well, Mbak Dee ... I've got it. Tengkyu :)

Komentar
Posting Komentar