Sebelas




Sabtu, 4 Agustus 2012
Jadi, kelompok sebelas bernama Disiplin. Alasan kenapa mereka menamai kelompok kami dengan istilah-istilah semacam ini –eksekutor, kreatif, spekulatif-, mungkin supaya kami menjadi orang-orang yang berkepribadian seperti ini. Ya, mungkin saja. Dan nama kelompokku ini sebenarnya sangat menyindirku. Bukannya aku ini orang yang disiplin banget lho, aku lebih baik dari itu. Maksudku, seperti yang bisa kau harapkan dari remaja Indonesia zaman sekarang, aku sama sekali tidak disiplin. Itu pasti sangat mengecewakan. Hahaha. Dan ngomong-ngomong, aku mempunyai tiga belas teman lain dalam kelompok ini: Dany, Jannet, Riana, Syarif, Yeni, Yesica,  Jatmiko, Linda, Monic, Arief, Dedi, Lina, dan Ara. Oh iya, aku hampir lupa memberitahumu bahwa kami, sekelompok orang disiplin ini adalah para mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret Surakarta yang akan menjalani hari-hari penuh siksaan dalam momen indah tahunan kampus kami: OSPEK, yang disini biasa disebut sebagai OSMARU.
            Jadi, bersama mereka bertigabelaslah –plus satu koordinator kelompok kami, Mbak Addin- aku berkutat selama seminggu ini, mengerjakan tugas kelompok yang harus kami selesaikan sebelum OSMARU dimulai. Tugas pertama kami, fotografi -yang mengharuskan kami berfoto bersama seorang tokoh di lingkungan FISIP yang terabaikan oleh para mahasiswa- berhasil kami selesaikan dengan cukup lancar dengan sedikit kekecewaan atas keterlambatan jadwal pemotretan selama dua jam. Sedangkan tugas kedua, membuat yel-yel, menuai sedikit kontroversi meskipun akhirnya kami mempunyai sebuah lagu yang cukup keren –sebenarnya keren sekali menurutku, dan aku menyukainya- sebagai yel-yel kelompok kami. Sejauh ini, yang kurasakan adalah kami terlalu berbeda. Maksudku, bukannya berbeda itu buruk. Tapi kurasa, kami nggak bisa benar-benar menyatu. Tiap ketemu, ada saja yang diributkan. Soal beberapa dari kami –termasuk aku- yang sering sekali telat kalau berkumpul dan jarangnya kami benar-benar berkumpul sebagai satu kelompok yang utuh. Seperti ketika membuat peta kampus, tugas kelompok ketiga kami, kami semua ribut seperti anak kecil dan adu pendapat sampai emosi tentang siapa yang harus menggambar, survey, pokoknya sesuatu yang sebenarnya sepele banget deh. Nggak tahu kenapa, tapi kami ini memang nggak jodoh kali ya. Kelompok bernama Disiplin ini benar-benar membuatku nggak betah. Aku sama sekali nggak kenal sama orang-orang di dalamnya. Atau mungkin, kami semua memang tak mau tahu satu sama lain. Hubungan kami tidak membaik sampai tiga hari yang lalu, saat kami harus menyelesaikan tugas terakhir kami: membuat video.
*
Rabu, 1 Agustus 2012

      Video selama sepuluh menit itu harus jadi besok lusa pagi. Jadi, kami hanya mempunyai waktu untuk menyelesaikannya hari ini dan besok. Kami mulai pukul sepuluh pagi ini, lagi-lagi terlambat dari waktu yang telah dijadwalkan. Sutradara kelompok kami, Arief, menampakkan wajah jengkel sewaktu sebagian besar dari kami –termasuk aku- datang terlambat. Dan syutingpun dimulai dengan suasana yang kurang menyenangkan, namun kali ini agak lebih buruk daripada biasanya. Sepertinya, sutradara kami sedang dalam suasana hati yang kurang baik sehingga untuk ke sekian kalinya, ia menyuruhku dan Jannet mengulangi adegan.
            “Kamu bisa nggak sih, lebih serius sedikit?!” teriak Arief padaku. Ia tak menutup-nutupi kemarahannya lagi.
            “Apa?! Bukannya kamu ingin agar video ini tampak sedikit-lucu?!” balasku, mulai tak tahan dengan sifatnya yang moody itu.
            “Tapi tidak dengan kamu bergerak-gerak kayak bebek begitu!”
            “Lalu, aku harus gimana?! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh-nyuruh, nggak peduli sama capeknya kami yang harus mengulang-ulang adegan!”
            “Kalo kamu mainnya bener ya nggak bakal diulang-ulang!”



            “Hei kalian, udah! Kita semua udah capek, tolong jangan nambah buruk suasana dengan pertengkaran nggak mutu kaya gini!” Syarief yang bertugas sebagai kameramen berusaha menengahi kami.
            “Kamu sih enak, cuma bawa-bawa kamera, nggak harus ngomong berkali-kali sampe bibir dower!” Jannet yang menjadi lawan mainku menimpali.
            “Kalo ngomong jangan sembarangan, ya!”
            “Please, kalian! Tolong hentikan!” Kali ini Monic yang bersuara.
            “Kalo kita kerjanya sesuai jadwal, pasti nggak bakal jadi gini ....” Linda berkata pelan.
            “Iya. Padahal adegan tadi harusnya kemaren kan, takenya?” Lina menimpali dengan sama pelannya.
            “Kalo gini mulu, nggak akan kelar nih kerjaan kita,” sungut Yesica.
            “Udah, nggak usah ngeluh! Ayo semuanya, kerja lagi!” Jatmiko berkata tegas. Ia berusaha tak menanggapi pertengkaran yang baru saja terjadi.
            “Nggak mau. Aku udah bosen di kelompok ini! Aku mau pulang aja!” kataku sebal. “Lagian, kalo kita nggak buat tuh video juga kenapa?”
            “Kita nggak boleh kayak gini.” Riana yang sedari tadi menjadi pengamat pertengkaran kami akhirnya angkat bicara.
            “Riana bener. Kita nggak boleh mementingkan diri sendiri. Kita ini satu tim, jadi harus kerja bareng-bareng.” Ara berkata lembut. Tak ada yang berkata-kata lagi setelah itu. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sejumput sesal tiba-tiba saja menguar dari dalam hatiku. Yah, benar. Sepertinya, selama ini kami memang tak pernah merasa bahwa kami ini satu tim.
            “Terus, kita mau ngapain sekarang? DL tinggal lusa. Dan kalau kita ingat-ingat lagi, semua jadwal yang telah kita susun kemarin hanya terealisasi dua buah,” Yeni melihat catatan jadwalnya dengan putus asa.
            “Ya kita mulai dari awal lagi. Kita bisa kok. Yang penting, mulai sekarang kita harus bener-bener disiplin, Jangan buang-buang waktu dengan pertengkaran nggak berguna.” Dedi memberi solusi terbaik kami saat ini.
            “Ehm. Sebelum itu, kita maaf-maafan yuk. Kenalan lagi juga boleh. Kita mulai dari awal lagi.” Celetuk Dany tiba-tiba. Kami berpandangan satu sama lain, lalu tersenyum. Kami pun bersalaman satu persatu. Sesuatu banget deh rasanya.
*
Sabtu, 4 Agustus 2012
Untunglah insiden itu bisa terselesaikan dengan damai. Kalau tidak, apa kata dunia? Hahaha! Kau lihat, kan? Sebenarnya, kami ini nggak terlalu cuek satu sama lain, kok. Hanya saja, sepertinya karena tekanan terlalu banyak tugas dengan waktu yang sempitlah kami bersikap seperti ini. Yah, pokoknya setelah kejadian itu, Kelompok Disiplin berubah menjadi benar-benar menyenangkan. Maksudku, memang menyenangkan. Kami sekarang lebih banyak tertawa bersama, bercanda, dan ngobrol tentang segala hal. Well, aku kurang ngerti juga sih kenapa sekarang kami bisa sedekat ini. Yang aku tahu, semuanya memang terasa lebih mudah diatasi kalau kita tidak sendiri dan mau berbagi bersama orang lain. Dan tentunya, semuanya akan beres kalau kita disiplin dalam melakukan apapun. Termasuk disiplin tertawa agar tidak cepat tua. Hehehe.

PS.
Video kami benar-benar keren! Kami merayakannya dengan makan-makan enak kemarin malam. Kurasa, OSMARU besok nggak akan seburuk dugaanku setelah semuanya kembali membaik :)

Sebelas/END



By Na’imatur Rofiqoh/Ilkom/Disiplin
FISIP UNS 2012

Komentar

Postingan Populer