Dari Mahasiswa untuk Negeri Tercinta

Sabtu, 11 Agustus 2012

Aku mendengar "hidup mahasiswa" diteriakkan dengan lantang disini, di aula FISIP UNS. Mereka mengepalkan tangan dan meninjunya ke udara seiring dengan semangat yang menggebu-gebu, menguar bersama kebanggaan menjadi mahasiswa baru. Entah kenapa, aku sama sekali nggak tersentuh mendengarnya. Nggak ada sedikitpun kebanggaan kurasakan dalam kata "maha" di depan siswa. Kata mereka yang di depan itu, kami adalah agent of changes. Kata mereka yang baru saja meneriakkan "hidup mahasiswa" itu, Indonesia merindukan mahasiswa bersuara, memperjuangkan hak mereka yang tertindas, membuat Indonesia lebih baik lagi ...
Rasanya aku kembali melihat mahasiswa-mahasiswa di era Soe Hok Gie. Mereka bersama-sama mengenakan jaket almamater kebanggaan, turun ke jalan, berorasi menurunkan Soekarno, lalu berhasil. Orde lama telah diturunkan, Soeharto menggantikan Soekarno. Ketika mereka yang dulu menyuarakan keadilan menjadi pejabat, mereka melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme tanpa rasa bersalah. Lalu untuk apa perjuangan yang telah mereka lakukan itu?

Aku sama sekali tidak bangga menyandang kata "maha" di depan siswa. Tidak sebelum aku benar-benar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, berkontribusi penuh untuk membangun negeriku.



Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpang jalan
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Komentar

Postingan Populer