Ikatan

Amaya

"Woy! Ayok!"
"Udah selesai?" kataku serasa membereskan barang dengan serabutan.
"Udah, yuk ah cabut!" Roro menggamit lenganku. Kami pun berjalan keluar dari salah satu perpustakaan kampus terbesar se-Asia itu.
"Mau latihan lagi hari ini?"
"Iya, Ro. Tinggal tiga hari lagi nih pertunjukannya. Maaf yaa nggak bisa nemenin kamu sering-sering nongkrong di perpus akhir-akhir ini," kataku padanya. Cewek berkacamata bulat itu tersenyum dan  hanya berkata,"Lu kayak pembantu gue aja kerjaannya minta maap mulu!"
"Sialan." Aku pura-pura ngambek dan berjalan beberapa langkah di depannya.
"Yee tungguin! Hari ini gue mau nemenin elu latian, pianis bego!" Roro mempercepat langkahnya sehingga menjajariku.
"He? Tumben?"
"Iyaa. Gue denger dari anak-anak instrumen lu kali ini bikin trenyuh banget"
"Halah trenyuh apaan? Lu didustai anak-anak mah kaga bakalan nyadar kecuali soal buku!"
"Sial. Kalo nggak penasaran udah gue tinggal pulang lu!"
"Idih, sahabat macam apa tuh?"
"Sahabat macam ini nih!" Roro memasukkan ujung jari telunjuknya pada salah satu lubang hidungnya. Aku tertawa ngakak melihatnya. Roro Pengestu Rahayuningtyas. Cewek asli Surabaya ini adalah sahabat sehidup sematiku sejak dalam kandungan. Eh enggak ding. Tentu saja sejak aku kenal dia. Dia begitu nyaman menjadi dirinya sendiri -baca: malu-maluin tapi tetep keliatan keren- dimanapun ia berada.
*
Dalam perjalanan menuju balairung, kami masih berceloteh rame kayak anak kecil. Kuputuskan untuk menyimpan memori ini baik-baik sebelum aku meninggalkan kampus kenangan ini. Danau Kenanga yang tenang menyambut kami. Aku dan Roro memasuki balairung yang sudah ramai. Semua orang tampak sibuk. Aku tak terlalu memperhatikan mereka.
"Ini dia yang ditunggu-tunggu dari tadi!" Pak Wibisono menyongsong kedatanganku.
"Maaf, Pak. Telat."
"Ayo, langsung mulai saja latihannya."
*
Roro

Jari-jari mungil itu menari perlahan di atas tuts-tuts piano. Matanya tertutup seolah-olah nada-nada indah ini bahkan akan berbunyi sendiri hanya dengan dia berada di depan alat musik itu. Amaya Adhi Subrata. Perawakannya kecil, wajahnya dipenuhi oleh pipi alias bulat, dan senyumnya selalu bisa membuat orang lain ketularan bahagia hanya dengan melihatnya. Dia adalah pianis muda genius yang telah mengadakan berbagai konser di berbagai negara sejak masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Aku yang syukurlah adalah tetangga sekaligus sahabatnya selalu kebagian kursi VVIP kalau dia mengadakan konser.

Semua orang yang tengah sibuk di ruangan ini menghentikan pekerjaan mereka. Instrumen-instrumen Amaya memang selau mampu menghasilkan efek seperti ini. Kami semua terbius oleh nada-nada menyayat hati yang tengah ia mainkan. Kupikir, ia sengaja membuat instrumennya kali ini terasa begitu merana karena ia akan segera meninggalkan kampus ini untuk Juilliard School di New York. Tapi, wajah sendu itu mengungkapkan hal lain. Sahabatku itu terlihat begitu ... rindu.
*
Amaya

"May, saya kepengin banget bisa konser berdua sama kamu," cowok bermata kelabu itu menatapku sungguh-sungguh.
"Duet, maksud kamu?"

"Iyaa. Kita buat instrumen berdua, kolaborasi antara piano dan biola tok, Nggak ada yang lain." Kata-katanya barusan membuat darahku berdesir. Ada perasaan semacam hangat yang menjalari tubuhku. Tiba-tiba aku bersemangat sekali akan ide ini.
*
Roro

Instrumen itu berakhir. Amaya mematung selama beberapa detik sebelum berpaling ke arah kami, penontonnya.
"Bagaimana?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya, kami semua memberikan standing applause yang cukup panjang padanya. Instrumennya kali ini benar-benar seperti seperti magis. Ia seperti Dementor yang siap melahap kebahagiaan siapapun yang mendengar nada-nada ini. Baru aku ketahui setelah tepukan kami berakhir dari seseorang di sebelahku, semua orang yang ada di ruangan orang ini selalu ber-standing applause setiap Amaya menyelesaikan lagunya. Walaupun Amaya latihan hampir setiap hari selama sebulan ini, mereka selalu merasa baru pertama kali ini mendengarkan nada-nada seindah itu.
"Bravo! Kamu memang luar biasa!" Pak Wibisono merangkul Amaya setelag menghapus air di sudut matanya.
"Bapak bisa aja," dan Amaya tidak pernah menganggap dirinya luar biasa.
"Baiklah, kamu besok nggak usah latihan. Kita langsung gladi resik aja hari Minggu nanti, ya?"
"Oke, Pak! Kalo gitu, saya pulang dulu ya!"
"Ya, ya, ya"
"Yuk, Ro!"
Aku pun berjalan mendekatinya cepat-cepat. Ada yang pengen banget aku tanyakan dari tadi.
*
Amaya

"May,  di instrumen lo itu ... Rasanya kok ada yang kurang ya," Roro mengatakan hal yang sudah kuduga akan dia katakan begitu dia mendengar instrumenku barusan.
"Wah, ni anak minta diapain? Masa instrumen se-wow itu lu katain ada yang kurang? Wah parah lo ...  Baru lo yang bilang kayak gini ke gue. Dosen di Juilliard aja nggak ada yang nyacatin karya gue kok, lu berani-beraninya bilang gitu. Sakiiit!"
"Mulai deh alaynya. Tapi beneran deh. Rasanya tuh instrumen lo kayak kehilangan sesuatu. Gimana ya jelasinnya? Ada yang kurang lengkap gitu lho disana. Ada yang harusnya ada tapi nggak ada," Roro mengatakan kalimat yang tepat menohok ulu hatiku. Meskipun dia nggak pernah ngeh sama yang namanya not-not, dia selalu bisa mengetahui apa yang ingin aku ungkapkan lewat instrumen-instrumenku.
"Telinga lu tuh yang lagi eror! Ayok ah, pulang!"
"Tapi tuh ... bentar, deh! Coba lu dengerin sendiri instrumen lu ini. Gue rekam kok tadi." Dia mengubek-ubek isi tasnya mencari perekam. Sepertinya dia memang sengaja menemaniku latihan untuk mendapatkan lagu pengantar tidurnya lagi. Anak yang satu itu emang nggak pernah berubah, nggak terkecuali soal rasa penasarannya.
"Ntar aja deh, sekarang kita pulang dulu. Nyokap gue masak enak lhooo hari inii ... Makan di rumahku, yuk!"
"Oh, ya? Masak apa? Ada kare, nggak?" kalau sudah disuap makanan, apalagi masakan ibuku, si maniak buku ini nggak pernah bisa menolak. Kali ini, aku bisa bernafas lega.
*
"Kenapa nadanya harus sedih gini, sih?" aku langsung protes begitu melihat not-not yang ia tulis.
"Ini tuh bukan sedih, Maaay ... Tapi rindu. Saya mau siapapun yang denger lagu ini bisa tiba-tiba kangeeen banget sama orang-orang yang mereka sayangi." Jelasnya padaku.
"Hmm ... Kalau rindu sih, boleh. Aku nggak pernah suka sama yang sedih-sedih," aku manggut-manggut. Disitu ada nada-nada yang menjadi bagiannya. Bagiannya dan biolanya. Kuamati dengan seksama barisan not-not itu. Kupejamkan mataku, lalu suara piano mengalun lembut mengawali instrumen itu. Selanjutnya, gesekan biola menyambut, dan berpadulah dua alat musik itu dalam harmoni yang begitu indah. Aku merasakan rindu yang amat sangat ...
"Rasanya, instrumen ini mengikat kuat nada piano dan biolanya ... Tapi ..." kataku masih dengan mata terpejam.
"Hmmm ... Kamu menyadarinya juga ya, ternyata?" suara jernihnya membuatku membuka mata. Mendadak, rasa rindu yang begitu menyiksaku tadi menghilang.
"Iya. Rasanya, nggak papa juga sih kalo instrumen ini hanya dimainkan dengan piano aja atau biola aja. Tapi, hanya orang yang bener-bener dengerin yang bakal tau kalo dimainkan dengan piano aja atau biola aja, instrumen ini kayak kehilangan setengah bagiannya," lanjutku.
"Kamu memang yang paling klop sama saya, Amaya!"
*
Roro

Sore itu, aku sedang dalam perjalanan pulang dari Pusat Administrasi Universitas ketika tuts-tuts piano dari dalam balairung terdengar. Karena penasaran, aku pun mendekati sumber suara itu. Sepertinya, aku mengenal nada-nada ini. Seperti instrumen yang selalu aku dengarkan sebelum tidur. Masa Amaya? Bukannya dia tadi bilang kalau mau beristirahat saja di rumah? Dasar pianis bego, awas kamu ya!
"Am ...." aku urung melanjutkan kata-kataku. Nada pengantar tidurku itu sudah berhenti, menyisakan kesunyian yang ganjil di tempat besar ini.
*
Amaya

"Kenapa harus aku yang memulai instrumen ini?" tanyaku.
"Karena kamulah yang bakal duluan kangen sama saya, Amaya," godanya.
"Dan kamu yang kangennya paling akhir gitu? Setelah rasa kangenku ke kamu ilang?" tanyaku ketus. Sebenernya, berusaha agar terdengar ketus, sih.
"Hahaha dasar. Kamu ini kayak anak kecil!"

"Bisakah kamu mendengar ini? Aku kangen sekali sama kamu ... Instrumen ini nggak pernah lengkap semenjak kamu pergi." Kataku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali menangis saat ini. Tapi, konjungtivaku tak mau berkompromi. Aku hanya bisa merasakan sesak yang teramat sangat di dadaku. Aku pun memejamkan mata, lalu mulai menekan tuts-tuts piano.
*
Roro

Kedua sosok itu bagai siluet senja yang begitu indah. Cahaya matahari yang menerobos melalui kisi-kisi balairung adalah lighting alami yang menyempurnakan panggung ini. Aku yakin, Amaya tak menyadari kehadiran laki-laki tampan itu. Dia meletakkan biola di bahu kirinya, siap menggesek. Amaya menekan tuts-tuts pianonya dengan segenap rasa. Begitu Amaya sampai pada nada rendah yang halus, laki-laki itu menggesekkan bow-nya pada senar biola dan sempurnalah senja di balairung sore itu. Aku tak bisa mendeskripsikan keindahan nada-nada yang sedang kudengar ini. Aku merasakan rindu yang amat sangat sampai mataku meneteskan air mata. Gesekan biola laki-laki itu dan tarian jari-jari Amaya di tuts-tuts piano bersatu membentuk paduan nada yang begitu memilukan, membuat rindu siapa saja yang mendengarnya. Tapi, kali ini aku bisa merasakan kelegaan dalam instrumen ini. Apa yang seharusnya ada tapi nggak ada tempo hari sudah tidak berlaku. Ternyata, gesekan biola inilah bagian yang hilang itu.

Kupikir, Amaya pasti benar-benar menangis saat ini. Tapi, aku melihat dia begitu tenang, sama seperti saat dia melakukan konser-konsernya terdahulu. Gesekan biola yang menggetarkan bulu kudukku mengakhiri pertunjukan megah ini. Amaya, seperti biasa, mematung beberapa saat sebelum membuka matanya. Tapi, sepertinya terdapat keraguan dalam dirinya kali ini untuk membuka mata. Kurasa, dia takut laki-laki yang menggesek biola itu akan menghilang begitu dia membuka mata.
*
Amaya

Aku ingin membuka mataku. Tapi, aku begitu takut kalau tak ada siapapun disini selain aku ketika aku membuka mata. Aku takut pemilik biola itu tak akan ada di balairung ini bersama biolanya. Aku takut. Tapi, tapi ... Aku harus memastikannya.
"Amaya ..."
Aku baru membuka mataku ketika mendengar suara jernih itu memasuki gendang telingaku. Suara yang persis sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Apa kabar?" tanyanya.
"A ... Baik," bodoh. Kenapa aku nggak bisa mengatakan hal yang lebih baik,sih?
"Amaya, saya ... Maafkan saya ...." Nada dalam suaranya sungguh memilukan. Aku ingin membungkam mulutnya sekarang juga. Karena aku tahu, hal yang akan aku dengar selanjutnya pasti akan menyakitkanku, membangkitkan memori lama yang ingin aku hapus dari hidupku. Sayang aku nggak bawa lakban untuk membungkamnya.
"Minta maaf untuk apa?"
"Untuk meninggalkan kamu. Maafkan saya ..."
"Kamu harus menjaganya," kataku sok tegar. Aku juga butuh kamu jaga, bego!
"Tapi ..."
"Aku senang kalian bahagia"
"Tapi, saya ... Konser kita ... Maafkan saya, Amaya ... Saya merasa sangat bersalah sama kamu"
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Dia lebih butuh kamu daripada aku"
"Amaya, kamu tahu kan, kalau saya selalu ..."
"Nggak ada yang perlu kamu jelaskan. Aku ngerti, kok"
"Maafkan saya, Amaya ..."
"Berhentilah minta maaf kayak pembantuku. Kamu tahu tidak, instrumen itu tetap nggak kehilangan keindahannya walaupun cuma aku sendiri atau kamu sendiri yang memainkannya." Kuputuskan untuk mengakhiri pertemuan tak sengaja ini tanpa menyebutkan betapa sempurnanya kalau instrumen ini kami yang memainkannya, bersama.
"Amaya, tunggu!" aku menoleh.
"Terimakasih. Kamu tetap menjadi yang terbaik bagi saya, Amaya."
Aku meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Kakiku rasanya kayak berbobot lebih dari satu ton saat ini. Aku begitu rindu padanya. Tapi, ketika aku benar-benar bisa berada di dekatnya, aku ingin segera menjauh darinya supaya perasaan yang telah aku kubur dalam-dalam ini nggak merangsek keluar.
*
Roro

Nada-nada magis itu kembali menggaung dalam ruangan senyap ini meskipun tak kurang dari dua ribu penonton menyesaki balairung. Kami terpaku pada gadis bergaun putih yang tengah memainkan piano di panggung. Harmoninya memenuhi gendang telingaku, membikin hati ini rindu tak terperi. Amaya bagai malaikat malam ini. Malaikat patah hati, kalau boleh aku menambahkan. Dia memejamkan matanya, senyum manis tersungging di bibirnya, namun matanya basah oleh air mata. Malaikat itu menahan rindu sekaligus sakit yang amat sangat. Luka lama yang telah coba ia sembuhkan menganga lagi. Tapi, rasanya keputusannya dulu memang tepat. Ia harus merelakan sahabatnya bahagia bersama laki-laki yang ia cintai setengah mati. Laki-laki penggesek biola brengsek itu. Maaf ya, May. Soalnya aku nggak tega liat kamu nangis gitu ... Kamu selalu ... Selalu meyembunyikan yang satu itu dariku. Kamu itu memang pianis bego.
*
Amaya

"Judulnya apa, nih?"
"Lost My Piece." Jawabnya.
END




Kamar kosku, 28 September 2012
Harusnya sekarang ini aku sudah menyelesaikan
Feature Profile-ku (-_-)



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer