Mengenang Mahameru


Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Tengadah dan berkata, kesanalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi
Ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis


Masih lekat dalam ingatanku saat pertama kali menapakkan kaki di tanah tertinggi Pulau Jawa ini dua tahun lalu. Mahameru. Tugu peringatan meninggalnya Soe Hok Gie dan Idhan lubis 43 tahun lalu di puncak yang sama menyambutku dalam kebisuan. Nggak ada kata yang keluar. Nggak ada kedua lengan merentang. Hanya ada aku dan angin yang terdengar seperti nyanyian di tengah samudra awan. You know, aku bingung menuliskannya. Semua yang terekam melalui lensa mata ini sungguh sulit
untuk divisualisasikan dalam kata-kata. Bahkan foto-foto yang kuambil ketika disana pun rasanya nggak seindah yang sebenarnya.

Mahameru. Kau layaknya legenda bagiku, juga bagi banyak orang lain. Pasti bagi Dhonny Dhirgantoro juga. Kau membuat siapapun yang pernah mencapai puncakmu kecanduan, rindu yang nggak ada putus-putusnya kecuali menemuimu kembali. Mengulang saat-saat berenang di Ranu Kumbolo, berjuang di Tanjakan Cinta, juga ngos-ngosan selepas Kalimati. Dinginmu, pekatmu di malam hari, ramahmu, ah, Mahameru. Rasanya, sekarang ini kok kamu terasa banget kayak pacarku sendiri.

Mendakimu memang bukan hanya sekedar mendaki. Mendakimu didefinisikan sebagai benar-benar "mendaki". Nggak cuma mendaki lereng-lerengmu, tapi juga mendaki ke level kesabaran yang lebih tinggi, mendaki ke tekad yang lebih kokoh, kemauan hati, pokoknya semuanya harus "didaki" habis-habisan untuk menemui puncakmu. Ya, puncakmu, Mahameru. Semua "pendakian" itu akan terbayar lunas, bahkan rasanya kami masih ngutang kalau sudah sampai di puncakmu, menatap sekeliling tanpa bisa berkata apa-apa. Kau begitu ... Luar biasa. Betapa aku merasa kerdil dan nggak berdaya di atasmu. Betapa Maha Baiknya Dia masih menyisakan tempat sedamaimu diantara bisingnya kehidupan. Dan kau, Mahameru, puncak para dewa, berada di tanah airku tercinta: Indonesia.

Dua tahun lalu itu is the greatest moment I have ever had selama karirku mendaki gunung. Mahamaeru, terimakasih. Kau membuatku belajar bahwa kita pasti bisa mencapai puncak yang kita mau selama masih ada tekad yang membaja, usaha yang nggak kenal lelah, dan nggak pernah nyerah sama keadaan.

Aku bertanya-tanya sudah berapa banyakkah hati anak manusia yang kau sentuh selama ini.





Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer