Orang-Orang Berubah, Namun Kenangan Tidak

Perubahan memang perlu, sih
Saya baru benar-benar sadar bahwa semuanya memang telah berubah. Teman-teman saya semasa SD, SMP, dan SMA, semuanya. Bahkan saya pun berubah. Beberapa perubahan membuat saya merasa lebih baik, namun beberapa diantaranya membuat hati saya nggak rela. Pagi ini saya baru benar-benar sadar bahwa bagaimanapun saya menganggap semua orang seperti dulu, atau sedekat dulu dengan saya, nyatanya tidak seperti itu. Saya bertanya-tanya kenapa sesuatu yang seharusnya statis, nggak berubah, harus menjadi begitu berbeda dari yang dulu. Mungkin teori Adam Smith tentang tangan-tangan tak berwujud yang mengendalikan kita secara alami memang benar. Mungkin hanya dengan berjalan atau berlari bersama waktu, kita akan menemui perubahan-perubahan itu, bermetamorfosis bersamanya. Perubahan itu membawa kita pada orang-orang yang sama sekali baru, melebarkan jarak antara kita dengan orang-orang yang lebih dulu mampir di hidup kita, atau malah semakin merekatkan kita dengan mereka.

Semuanya berubah. Benar-benar berubah.  Pagi ini saya baru benar-benar sadar bahwa bagaimanapun saya menganggap semua orang seperti dulu, atau sedekat dulu dengan saya, nyatanya tidak seperti itu. Beberapa orang telah menjadi semakin dekat dengan semakin jauhnya jarak kami. Tapi, kali ini saya benar-benar sadar bahwa di setiap fase perubahan yang saya alami, saya selalu menjadi semakin jauh dengan beberapa orang yang tidak saya inginkan. Mereka telah bercakap-cakap tentang hidup mereka tanpa ada saya di dalamnya. Agaknya saya yang terlalu naif dengan menganggap apa yang telah terjadi tempo dulu tak membekas dan hanya cobaan kecil persahabatan yang akan membuat kami semakin terikat. Tapi saya salah. Semuanya nggak akan sama seperti dulu. Seperti kata Frodo Baggins,
ada hal-hal yang tak bisa disembuhkan oleh waktu, luka-luka yang terlalu dalam dan telah menetap. Yang tak saya mengerti dari dulu, luka yang mana? Bukankah kita telah berpelukan dan saling meminta maaf? Bukankah ... Ah, ada hal-hal yang nggak akan cukup hanya dengan kata maaf. Selalu ada luka yang masih menganga, dendam yang tak kunjung padam di sela-sela senyuman atas nama persahabatan.

Apakah anda setuju dengan saya, bahwa perubahan kadang menjadi sangat memuakkan? Hal-hal baik berubah memburuk karena suatu hal, senyum tulus menjadi seringaian aneh yang dipaksakan. Pagi ini saya baru benar-benar sadar bahwa bagaimanapun saya menganggap semua orang seperti dulu, atau sedekat dulu dengan saya, nyatanya tidak seperti itu.

Ah, semuanya begitu berbeda. Orang-orang datang dan pergi, meninggalkan jejak langkah di hati kita, dan kita pun nggak akan pernah sama dengan kita yang dulu. Mereka yang telah hadir dalam hidup saya akan tetap tinggal disana sebagai pengingat, bahwa perubahan memang selalu terjadi tanpa bisa kita pungkiri. Mereka akan tetap tinggal di hati saya sebagai salah satu bagian terbaik dalam hidup saya, yang telah memberikan semangat ketika saya hampir ambruk, yang juga pernah menghapus air mata saya, menorehkan begitu banyak cinta di kehidupan saya.

Pagi ini saya baru benar-benar sadar bahwa bagaimanapun saya menganggap semua orang seperti dulu, atau sedekat dulu dengan saya, nyatanya tidak seperti itu. Namun, saya sungguh bersyukur karena diantara begitu banyak perubahan yang telah terjadi, ada bagian-bagian yang tetap sama seperti dahulu tanpa dibuat-buat. Mereka menguat membentuk pondasi, membuat saya masih bisa tegak berdiri memperjuangkan mimpi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer