Petrichor

Intelek menyebut bau wangi yang dikeluarkan oleh tanah, ilalang, dan rerumputan setelah hujan turun sebagai petrichor. Tapi ayahku tidak. Beliau menyebutnya sebagai ampo. Ketika bau ampo sudah tercium, berarti sudah saatnya masa tanam padi dimulai.

Ayahku akan sibuk menggarap sawah setiap pagi ketika ibuku bersiap mengajar, lalu pulang tepat sebelum ibuku berangkat. Motor di rumah kami hanya satu, jadi kami harus bergantian menggunakannya. Sementara ibuku mengajar, ayahku akan momong adikku yang baru berumur satu tahun, sementara aku akan memasak, mencuci, atau membereskan rumah. Setelah semuanya selesai, aku akan menggantikan ayah bermain bersama adikku sementara ayah akan sibuk dengan pekerjaannya yang lain, membuat batu bata. Sekali-sekali aku menggendong adikku ke tempat ayah tekun membuat batu bata dan membiarkannya merangkak di dekat ayahku. Ketika melihat anaknya yang paling kecil itu, ayahku akan tersenyum dan menggodanya, kemudian adikku akan mrenges dan berkata,"Apa pak?" berulang-ulang. Aku selalu ikut tertawa melihat tingkahnya. Ketika jam menunjukkan pukul dua belas siang, ibuku akan pulang dan mengambil alih momong adikku.

Sehabis maghrib, biasanya adikku akan berada di kamarnya -yang dulunya adalah kamarku- bersama ibu dan ayahku, sementara aku akan berada di kamar, belajar atau asik di depan laptop. Kadang aku juga berada di kamar yang sama dengan mereka, melihat tingkah adikku yang mau tak mau membuatku gemas dan ingin memakannya. Aku pernah mengajarinya mengupil dan kau tahu?
Itu berhasil dengan sukses! Ketika aku memasukkan telunjukku di hidung, dia akan dengan cepat menirukan gayaku sambil mrenges dan memperlihatkan barisan giginya yang rapi meskipun masih beberapa buah. Sebelum pukul sembilan malam, kedua orang tuaku biasanya sudah terlelap bersama adikku.

Pernah suatu malam, saat itu masih pukul delapan, aku menengok kamar adikku, berharap ia belum pulas dan aku bisa sedikit bercanda dengan malaikat kecil kami itu. Tapi, ketiga orang yang paling kusayangi itu sudah terlelap. Mau tak mau, aku memperhatikan wajah mereka. Kerut-kerut di wajah ayah, pancaran lelah di wajah ibu, damai di wajah putih adikku ... Betapa kedua orang yang sedang tidur bersama adikku itulah yang telah bekerja setiap hari untukku. Yang telah memberiku kesempatan bermimpi setinggi-tingginya ... Membuatku semangat hanya dengan melihat senyum mereka ... Membuatku selalu bersyukur ketika kami bisa makan bersama setiap sore ... Lalu titik-titik bening meluncur begitu saja dari mataku.

*

"Nduk, kamu sibuk nggak Minggu ini?" tanya ayah ketika kami sedang makan bersama.
"Kayaknya sih nggak, Pak. Kenapa?"
"Bantu ayah menanam padi, ya? Ada Lik Yem sama Budhe juga kok"
"Oke, Pak!" jawabku semangat.

Tiga hari kemudian, aku sudah berada di sawah kami dari pagi buta. Bersama empat orang tetanggaku yang lain, aku mulai mencelupkan beberapa batang padi dalam lumpur yang menjadi media tanamnya. Pukul delapan lebih, kami menikmati sarapan di bawah teduh pohon. Rasanya itu adalah sarapan terenak yang pernah kurasakan. Setelah menikmati sarapan, aku pun melanjutkan pekerjaanku. Membungkuk selama lima belas menit terus menerus memang sesuatu banget. Rasanya tulang belakangku sudah hampir copot karena pegal. Aku pun memutuskan untuk beristirahat di pinggir sawah dan memperhatikan yang lain. Tampak wajah ayahku yang berkeringat merapikan galengan. Ketika beliau melihatku, ia tersenyum simpul. Lagi-lagi aku hampir menangis melihatnya. Betapa pria yang hanya tamat SD inilah yang selama ini memberiku semuanya. Ia yang tak pernah tahu bagaimana caranya menggunakan laptop, tak tahu apa itu PTN, tak tahu kalau kuliah itu bisa saja gratis kalau berusaha ... Ia yang kakinya pernah kulihat berbelak parah ... Ia yang selalu mencucurkan keringat demi aku ... 


Aku melalui sisa hari itu dengan perasaan yang tiba-tiba agak melankolis. Pengen nangis, tapi apa daya kepeleset dan jadilah tubuhku berlumur lumpur. Semuanya menertawaiku, termasuk ayahku. Mau tak mau, aku pun ikut tertawa bersama mereka.

Pekerjaan kami selesai menjelang dzuhur. Karena belum waktunya makan siang, kami pun memutuskan untuk pulang dan makan di rumah masing-masing. Aku tahu, ini pasti modus ayahku supaya kami nggak memberi makan para pekerja ini dua kali. Hehehe enggak ding. Nyatanya, kami tetap makan bersama di rumahku, kok. Aku sangat menyukai saat-saat seperti ini. Makan bersama diselingi canda tawa riang gembira. Bahkan adikku pun berpartisipasi dengan mrenges-mrenges superlucu sambil merangkak kesana kemari. Untung saja dia nggak praktek ngupil. Menjelang sore setelah rumah kami kembali hanya berisi kami berempat, keluargaku, hujan pun turun.

*

Aku tidur-tiduran di kamar saja malam itu. Menanam padi seharian benar-benar meremukkan badanku. Suara ayah, ibu dan adikku juga sudah nggak terdengar lagi. Mereka pasti sama-sama kelelahan. Aku pun memutuskan untuk tidur saja. Tapi, aku nggak bisa benar-benar tidur walaupun mataku sudah merem. Rasanya, hari ini kok aku kangeen banget sama ayah, ibu, dan adik. Padahal mereka hanya terpisah satu kamar dariku. Ah, ada apa sih denganku hari ini? Kok dari tadi siang bawaannya pengen nangis melulu. Pasti PMS nih.

Aku masih berusaha memejamkan mataku ketika menyadari ada yang masuk ke kamar tempatku tidur -kamar ayah dan ibuku dulu yang sekarang kuambil alih-. Aku pun segera menutup mataku, namun masih bisa melihat siapa yang masuk melalui celah mata yang kubiarkan terbuka sedikit banget. Ibuku. Beliau berjalan ke arahku, menyelimutiku, mematikan lampu kamar, lalu pergi ke dapur. Pasti masu sholat Isya'.

Aku kembali membuka mataku, mengerjap-ngerjap dalam kegelapan. Gembel. Kok nggak ngantuk-ngantuk juga. Nggak logis, nih. Orang yang supercapek itu kan harusnya gampang tidur. Lha ini? Meskipun batin mengutuk mata yang nggak juga merem, aku tak menyadari bahwa apa yang  ada dalam pikiranku terjadi setelah aku terlelap beberapa menit kemudian.

*


Hujan turun lagi setelah aku pikir bakal reda. Ah, sebal! Seharusnya aku sudah di Ponorogo sekarang. Teman-temanku sudah menunggu. Aku malas banget kalau harus membiarkan orang lain menunggu. Hah, peduli amat deh sama hujan. Aku berjalan ke motor yang terparkir di halaman samping.
"Jadi pergi?" tanya ibuku.
"Iya, Maa ... udah ditunggu." Jawabku.
"Nggak usah pergi kenapa, sih? Hujan gini kok."
"Aku kan udah lama nggak ketemu temen-temen Maa. Habis ini udah balik ke Solo lagi. Terus kalo aku pulang belum tentu mereka juga pulang." Aku berargumentasi. Ibuku selalu begini kalau aku pengen keluar menemui teman-temanku. Kenapa sih orang tua selalu begini? Memangnya dulu mereka nggak punya temen dekat apa?
"Libur itu di rumah aja, menghabiskan waktu dengan keluarga." Ibuku masih berusaha mencegahku pergi. Aku nggak menanggapi, lalu mencium tangannya sambil mengucap salam, berpamitan. Ibuku menjawab salamku, lalu aku menyalakan motorku meninggalkan beliau. Aku masih bisa melihat wajahnya yang masih memerhatikanku sampai aku berbelok ke kanan.

Aku terus saja melajukan motorku dengan kecepatan di atas 60 km/jam. Hujan rintik-rintik yang masih mengguyur membuat jaket yang kukenakan mulai basah. Ah. peduli amat. Yang penting ketemu teman-teman. Kalau tadi nggak janji sih, aku pasti lebih memilih untuk nggak datang saja.

"Hhh ...." Aku menghela nafas. Udara jadi lebih dingin karena hujan ini. Aku memperhatikan jalanan yang basah, mencium aroma segar yang dikeluarkan oleh tanah karenanya. Pikiranku kembali ke rumah, ke teras dimana aku meninggalkan ibu yang melarangku pergi. Ah, ibu. Beliau memang selalu begitu. Nggak pernah mengucapkan kangen padaku kalau aku nggak pulang-pulang. Hanya sebaris "Ndang muliha" yang mengisyaratkan kerinduannya setiap kali beliau SMS aku. Di telepon pun, kami lebih banyak tertawa bersama.

Pertemuan dengan teman-temanku terasa singkat. Aku senang sekali bisa bertemu dengan mereka setelah sekian lama. Tapi, entah kenapa aku juga pengen cepat pulang.

"Aku pulang dulu, ya. Udah sore." Kataku pada teman-temanku.
"Kenapa sih? Masih hujan, lho. Ntaran aja nunggu reda."
"Nggak papa. Ntar juga bisa ganti baju di rumah."
"Ya udah deh, ati-ati ya."

Aku menyalami mereka satu persatu, lalu beranjak menuju motorku. Setengah jam terasa sangat lama bagiku. Ketika pada akhirnya aku memasuki desa tempatku tinggal, aku melihat orang-orang ramai berkumpul di pinggir jalan. Aku bisa leihat kerusakan di sana sini. Banyak pohon yang tumbang. Bahkan ada rumah yang ambruk ditimpa pohon. Tampaknya hujan benar-benar memburuk setelah aku pergi tadi. Pikiranku jadi semrawut tiba-tiba. Aku ingin cepat sampai di rumah.

Rumahku yang bercat putih itu terlihat baik-baik saja dari kejauhan. Tapi, begitu mendekat, aku bisa melihat banyak orang juga berkerumun di sana. Anak-anak kecil berdiri mematung, entah fokus pada apa. Aku menghentikan laju motorku dan berjalan menuju kerumunan. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah pick up mundur menuju halaman rumahku. Kemudian, orang-orang dengan cepat menaikkan sesosok tubuh berambut ikal ke bak belakang, tempat di mana ayah dan adikku sudah menunggu.

"Mamah ...." Kata adikku sambil menunjuk-nunjuk sosok yang terbaring itu. Dia meronta-ronta ingin turun. Selalu begitu lagak adikku kalau sudah bertemu ibu. Nggak mau bersama orang lain. "Mamah mamah!" Tangan mungilnya masih menunjuk-nunjuk. Ayahku melepaskan adikku dari gendongannya. Ia angsurkan tubuh mungil itu ke seseorang yang kukenal sebagai tetanggaku. Adikku pun mulai menangis.

Aku masih mematung di tempat aku berada. Yang di bak pick up itu adalah ibuku. Ibuku ... Apa yang terjadi? Aku bisa melihat pohon besar di samping rumah yang menimpa bagian kanan rumah kami yang semakin mengabur. Aku menangis tanpa suara. Mobil pick up itu bergerak menjauh, menyisakan orang-orang yang berusaha membuat adikku menangis. Mereka menunjukkan hal-hal yang belum ia tahu itu apa, lalu dia pun lupa kalau tadi dia melihat ibunya berbaring tak berdaya. Dia sudah berkata, "Apa? Apa?" seperti biasanya sambil menunjuk-nunjuk langit. Aku semakin tergugu melihatnya. Aku ingin seperti adikku. Anak kecil yang bisa dengan mudah melupakan kesedihan yang menimpanya. Yang kembali tertawa tanpa pikir panjang, nggak mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelah ini.

"Nggak usah pergi kenapa, sih? Hujan gini kok."
Aku mendengar suara ibuku berulang-ulang di kepalaku.


*

"Nduuuk! Bangun! Subuh! Udah jam enam ini lho!"

Perlahan, aku membuka mataku, mengucek-nguceknya, dan melihat dengan samar sosok yang membuka jendela kamar. Ibu. Ternyata itu tadi cuma mimpi. Aku benar-benar lega. Legaaa banget. Ibuku masih utuh nggak kurang suatu apa. Aku menghempaskan tubuhku di kasur.

"Heh! Malah tidur lagi?! Udah siang kok!" Nada suara ibuku meninggi.
"Iya iya, Maaa!" Aku pun segera bangkit, berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Setelah sholat subuh yang singkat, aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Di sana sudah ada ayahku yang menghadapi sepiring nasi gorenga dan sedang mengobrol dengan ibuku yang sedang memasak. Adikku berkelontangan dengan alat-alat dapur yang bisa dijangkaunya. Aku pun berjalan ke arah meja, memutuskan untuk menikmati pagi yang penuh kebersamaan ini sebaik-baiknya sebelum kembali ke Solo nanti siang.

"Kakak! Kakak!" Adikku berceloteh riang ketika melihatku. Sejurus kemudian, terdengar jeritannya karena kugelitiki, lalu ayah yang memarahiku, dan ibu yang melihat tingkahku dengan mengomeliku macam-macam kayak kenapa aku nggak bisa berhenti mengganggunya.

Ah, aku sungguh bahagia. Kulayangkan pandanganku ke luar. Rupanya hujan belum reda sejak semalam. Hujan kali ini indah sekali. Aku menghirup aroma petrichor dalam-dalam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer