Pangeran Bintang dan Putri Embun
Oh, hai!
Namaku Putri Embun. Yap. Putri Embun. Ya ampun, jangan melongo begitu, deh! Oke
oke, kalau kamu masih aneh mendengar namaku yang asoy itu, aku kenalkan nama
asliku ya? Namaku Puspitaning Ayu Putri Kedaton. Oh God. Kamu sungguh
keterlaluan! Jangan menertawaiku seperti itu, dong ... Itu benar-benar nama
asliku, tahu! Karena namaku kayaknya terlalu panjang (dan eksotik), kamu boleh
memanggilku dengan Putri Embun. Lebih enak diucapkan, didengarkan, dan
dirasakan bukan? Hohoho.
Nah,
kamu mau tahu lebih jauh lagi tentangku? Jawab saja iya. Hohoho. Baiklah, aku
akan mengajakmu masuk ke kamarku. Eits, tapi kamu nggak boleh macam-macam ya?
Harus jawab iya! Nah, masuklah. Kamu lihat? Kamarku tidak begitu besar. Hanya
ada sebuah tempat tidur yang berantakan, meja belajar yang juga berantakan di
sebelah kanannya, juga sebuah lemari pakaian kecil di sebelah kanannya lagi.
Hei, kamu kok tidak mendengarkan penjelasanku? Apa sih, yang menarik perhatianmu
dari Sang Putri nan baik hati ini?
Ah, kamu
melihatnya rupanya. Kamu tahu? Salah satu hal yang paling aku sukai dari
kamarku ini selain buku harianku adalah ... Yah, jendela itu. Kamu bisa
melihatnya juga, kan? Dari sini kamu bisa memandang bintang yang berkelip di
atas sana dengan leluasa. Nah, lihat di sebelah utara sana! Kamu tahu apa itu
namanya? Ahaha aku tahu, kamu pasti tahu. Kamu benar, itu polaris. Bintang
utara. Yang paling terang ... Bintang yang selalu dapat kamu lihat di langit
utara pada malam hari. Kapanpun, dimanapun. Jadi, dia nggak akan pernah hilang
darimu. Kamu pasti senang juga kan, kalau punya sesuatu yang bisa selalu
menemani kamu? Hhh. Nggak kayak orang bego itu! Kamu tahu nggak, sih? Dia
dengan seenaknya saja pergi dari hidupku tanpa pamit dulu padaku. Astaga. Kalau
saja aku tahu dia akan pergi, mungkin aku akan lebih dulu memukul hidung
mancungnya itu sampai berdarah. Aku sungguh-sungguh.
Kusebut
orang bego itu Pangeran Bintang. Nama aslinya? Oh, tidak tidak. Biarkan namanya
aku simpan untukku sendiri. Maaf, ya.
Hehehe. Kamu lihat beranda rumah bertingkat di seberang kanan jendela ini,
bukan? Ya, benar. Yang pojok itu, lho. Disana dia biasanya menatap ke langit
yang sama denganku. Hahaha. Iya, kamu benar lagi. Kami melihat polaris.
Ternyata, kami memang menyukai hal yang sama: bintang. Jarak kami memang cukup
jauh. Saat tak sengaja kami bertatap muka, aku selalu tersipu. Dan dia selalu
memamerkan senyumnya yang manis padaku. Sejak itu, hehehe ...
Kamu bisa menebaknya sendiri, bukan?
Waktu
sungguh cepat berlalu ketika aku bersamanya. Kami mengobrol bersama, bersepeda
keliling kota suka-suka, mengupil, saling mengejek, menertawai gambarku yang
menurutku sudah keren banget, duduk-duduk di bangku taman favorit kami, dan
tentu saja menatap polaris. Wajahnya selalu berbinar-binar ketika menatap
bintang itu. Dia selalu bersinar. Dia Pangeran Bintangku.
“Pus,
kalo kamu kesepian, lihat polaris aja. Aku akan melihatmu dari sana,” katanya
waktu itu. Yah, mana aku tahu apa maksudnya mengatakan hal kayak begitu.
“Hah?
Kamu ini ngomong apaan? Aku nggak akan kesepian. Kan ada kamu,” timpalku sambil
tersenyum. Dia tertawa renyah lalu mengusap-usap kepalaku. Dia satu-satunya
orang yang kupercaya nggak akan hilang dari aku.
Waktu
aku sakit, dia ada. Waktu orangtuaku bertengkar dan membuatku menangis, dia
juga ada. Waktu Ayah marah ketika Ibu memukulku, dia yang menenangkan aku.
Waktu akhirnya aku jadi anak broken home karena orangtuaku bercerai, dia yang
menghiburku. Dia yang selalu ada waktu aku butuh, bahkan dia selalu ada buatku
waktu aku lagi nggak butuh dia sekalipun. Hehehe. Aku bercanda kok. Aku selalu
butuh dia. Selalu. Dia yang nggak pernah berubah meskipun orang-orang datang
dan pergi dari hidupku. Seperti polaris, dia selalu disana. Nggak pernah
berubah. Nggak pernah pergi, dan tetap bersinar.
“Jadi,
kamu putus lagi dari pacarmu?”
“Begitulah
....” Jawabku sekenanya. Kami melihat polaris dari sebuah lapangan di samping
rumahnya. Waktu itu tengah malam.
“Hahaha!
Pus, Pus! Daftar nama mantan cowokmu itu sudah lebih panjang dari namamu, tahu.
Sebaiknya kamu segera memutuskan mana yang cocok untukmu”
“Ya
sudah, aku memilih kamu saja,” kataku asal. Asal nyeplos tapi aku deg-degan
banget waktu itu. Kamu kan tahu sendiri, aku sangat menyukainya.
“Kamu
ini ngomong apaan sih, Pus? Kamu tahu dari dulu aku nggak mungkin sama kamu”
“Kenapa
sih, kamu ngomong gitu lagi?! Aku bisa menerimamu apa adanya! Aku nggak peduli
kamu terserang HIV atau apalah itu. Nyatanya kamu sekarang masih sehat-sehat
aja, kan?” Aku memperhatikan tubuhnya yang jauh lebih kurus dari beberapa bulan
yang lalu. Menurutku, itu cukup sehat.
“Kamu
nggak tahu, Pus,” kata cowok itu sendu. Wajahnya nggak lagi bersinar. Wajah itu
redup. Ketika aku melihat polaris untuk mengalihkan perhatianku, ia tertutup
oleh awan.
“Kamu
yang nggak tahu,” kataku. Kamu nggak tahu
betapa kamu sangat berarti buat aku. Sekarang aku cuma punya kamu, dan polaris
mungkin. Aku udah sakit kehilangan keluargaku. Aku nggak mau lebih sakit lagi
karena kehilangan kamu. Air mataku mengalir pelan. Dia menyekanya lembut.
“Mata
kamu yang sebening embun ini nggak boleh meneteskan air mata,” katanya pelan.
Ia berusaha tersenyum. Dasar bego! Aku tahu dia hanya pura-pura. “Awas saja
kalau kamu nangis lagi. Aku mengawasimu, Pus. Dari atas sana,” dia melirik
polaris. Aneh, sekarang bintang itu terang lagi,”Disana juga ada cita-citamu.
Gapailah! Semangatlah! Aku tahu kamu bisa. Kamu kuat, Pus! Aku mengenalmu nggak
cuma sehari dua hari”
“Ini
wasiatmu sebelum mati, ya?” Kamu tahu apa yang dia lakukan setelah mendengar
pertanyaanku itu? Hahaha. Dia tertawa, lalu menjawab,”Ya”
“Berjanjilah
kamu akan berjuang di operasi besok!”
“Hahaha.
Tentu saja aku akan berjuang, Pus. Tenang aja. Kayak kamu nggak kenal aku aja,”
dasar orang bego! Sedang sakit masiih aja bercanda.”Aku akan hidup. Buat kamu,
Pus.” Kali ini wajahnya memancarkan kesungguhan. Aku merasa tenang
mendengarnya.
Kamu
pasti bisa menebak akhir ceritaku, bukan? Oh yeah! Pangeran Bintangku nggak
bisa melewati masa kritis. Aku selalu berusaha menganggap HIV yang menyerangnya
adalah guyonan belaka. Entahlah, selama ini aku selalu yakin dia akan baik-baik
aja. Ternyata nggak, ya?
Setelah
sekian lama jendela ini kututup, kini aku membukanya lagi. Selama ini aku
terlalu takut menerima kenyataan bahwa dia telah kembali padaNya. Aku bahkan
takut melihat bintang favorit kami sekarang. Aku takut mengingatnya. Tapi,
hatiku sungguh sakit ketika aku menjauhkan diri dari hal-hal yang kami sukai
dulu. Pada akhirnya aku sadar, nggak seharusnya aku terus-menerus bersedih
memikirkan dan berusaha melupakannya. Ini sama sekali nggak bikin keadaan
membaik. Kamu lihat, aku sudah merasa lebih baik sekarang dengan menceritakan
semuanya padamu. Dia, Pangeran Bintangku itu nggak akan pernah pergi. Aku nggak
mau dia benar-benar mati kalau aku melupakannya. Jadi, meskipun sekarang dia
udah nggak ada, bagiku dia akan selalu hidup di hatiku. Yah, begitulah. Untuk
selanjutnya, aku akan selalu tersenyum ketika melihat polaris. Karena pada
bintang itu ada banyak kenangan manis tentang kami berdua. Karena disitu ada
Pangeran Bintangku.
Hei! Sudah jam berapa ini? Kau sudah harus
pulang, bukan? Aku pasti akan dibunuh ibumu kalau menahanmu lebih lama lagi
disini. Nah, keluarlah dari kamarku. Hush, hush! Hahaha. Hati-hati ya? Perhatikan
langkahmu. Di kesempatan lain, aku pasti akan bercerita lagi padamu! Sampai
jumpa!
The raindropsThe tears keep fallingI see your face and it keeps me goingIf I get lost your light's going to guide meAnd I know that you can take me homeYou can take me home(Simple Plan-Take My Hand)
“Hei, bego ... Aku menyayangimu...”

Komentar
Posting Komentar