Ringkasan Pengantar Psikologi Sesi 1
![]() |
| Sedih: bagian dari pikiran bawah sadar |
Yang Sadar dan Nggak Sadar
Kalau di Pengantar Ilmu Psikologi, pikiran
manusia terdiri dari dua bagian: pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran bawah
sadar ini mempunyai porsi yang lebih besar daripada pikiran sadar, yaitu
sekitar 75%. Pikiran bawah sadar kita berperan lebih banyak atas diri kita
daripada pikiran sadar. Contoh nih, kalo kita makan, tidur, pergi sekolah atau
kuliah, nyuci baju, dan nyebrang jalan (kecuali pas lagi ngelamun) kita
menggunakan pikiran sadar. Nggak percaya? Masa iya kalo kita mau nyuci tau-tau
tuh pakaian udah kejemur dengan keadaan bersih gitu aja? (kecuali kalo ada yang
nyuciin, sih.hehe). Jadi, pikiran sadar ini adalah pusat
pengatur kegiatan vital kita.
Pikiran bawah sadar
mengendalikan hal-hal yang otomatis terjadi pada kita. Misalnya detak jantung,
pertumbuhan rambut, kuku, gerak reflek (kayak mengedipkan mata), pertumbuhan
badan, dan lain sebagainya. Nggak percaya? Coba kalo tuh jantung harus kita
perintahkan dulu dengan pikiran sadar baru dia bisa berdetak dan pagi ini kita
lupa buat merintahin dia untuk berdetak. Nah lo, mati kan, kita?
Berbagai macam emosi yang
kita rasakan juga termasuk dalam kontrol pikiran tak sadar. Misalnya trauma
yang pernah kita alami, cemburu karena *tit* jalan sama orang lain, patah hati,
kecewa, marah, dan sejenisnya. Menurut dosen Pengantar Ilmu Psikologi saya,
seseorang yang pikiran bawah sadarnya penuh (iya, pikiran bawah sadar bisa
penuh
walaupun udah memonopoli hampir seluruh bagian pikiran kita) akan menjadi
gila. Well, percaya atau enggak, memang bisa jadi gila saudara-saudara, kata
dosen saya. Kurasa benar jua, sih. Soalnya, pas aku lagi kebanyakan tugas juga
rasanya udah kayak orang gila aja. Bedanya, orang gila itu udah susah bedain
mana yang nyata dan enggak, soalnya pikiran bawah sadar mereka udah terlalu
penuh dan mereka nggak bisa nemuin cara buat mengurangi kapasitas pikiran bawah
sadarnya. Pikiran bawah sadar bisa dikurangi kapasitasnya? Benar,
saudara-saudara, bisa. Gimana caranya? Kata dosen Pengantar Ilmu Psikologi
saya, saat kita mengigau, mimpi, dan salah ngomong itu sebenarnya kita sedang
mengurangi kapasitas pikiran bawah sadar kita. Cara yang lain adalah dengan
melampiaskannya pada menulis, menggambar, dan tidur.
Sebenernya nih,
saudara-saudara. Kalo mau sukses, lebih baik maksimalkan potensi pikiran bawah
sadar kita. Soalnya kenapa? Pikiran bawah sadar kita kan bisa menjalankan
fungsi-fungsi yang otomatis kita lakuin tanpa kita perlu repot-repot
memerintah. Nah, kalo misalnya kita bisa otomatis bangun pagi, semangat, disiplin,
dan melakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya secara otomatis, nggak mungkin
nggak, kesuksesan itu pasti bakal bisa kita raih. Tentunya dengan usaha
maksimal dan doa, ya. Gimana bisa? Bukannya pikiran nggak sadar itu udah
otomatis ngejalanin fungsinya? Gimana kita bisa memerintah pikiran nggak sadar
ini?
Weiits ... Tenang bro,
tenang. Sebenernya, kita bisa memerintah pikiran bawah sadar kita, kok.
Caranya, misalnya nih, kalo kita frustasi banget nggak bisa ngerjain tugas, itu
kan pikiran sadar yang kerja. Nah, katakan pada dirimu berulang-ulang bahwa
kamu bisa! Teruuus katakan berulang-ulang bahwa kamu bisa ngerjain tuh tugas.
Kalo kamu udah yakin bahwa kamu bisa (Keyakinan termasuk dalam area pikiran
nggak sadar), kamu pasti otomatis akan berusaha semaksimal yang kamu bisa, dan
voila! Kamu berhasil menyugesti pikiran nggak sadarmu dan kamu bisa ngerjain
tugasmu! Nah, mudheng kan? Jadi,
pikiran nggak sadar kita akan memenuhi perintah kita saat kita mengatakan
berulang-ulang padanya untuk memenuhi perintah kita. Sama aja sama waktu kita
patah hati, pasti kita akan berusaha menyugesti pikiran kita untuk move on. Walaupun butuh proses, pasti
pada akhirnya kita bisa move on kan?
Itu tandanya pikiran bawah sadar kita udah berhasil kita perintah.
To Forgive, but Not to Forget
Masalah-masalah yang
pernah kita hadapi dulu dan coba kita lupakan pasti nggak pernah bener-bener
bisa hilang dari ingatan kita. Walaupun adakalanya kita nggak ingat sama
sekali, ketika ada rangsangan yang memicu ingatan kita, masalah yang dulu sudah
berlalu akan muncul kembali ke permukaan. Jadi, sebenernya masalah itu nggak
pernah bener-bener ilang, melainkan masuk ke pikiran bawah sadar kita.
Sering kita berpikir
bahwa jika kita sudah minta maaf atas kesalahan yang kita perbuat, maka masalah
itu akan selesai. Apalagi kalo orang yang kita mintai maaf itu tersenyum manis
dan bilang bahwa dia memaafkan kita. Maka, sim salabim! Masalah hilang
seketika! Tetereeet tetereeeet!
Tetapi, tentu saja kita
sama-sama tahu bahwa dengan meminta maaf semuanya akan selesai. Masalah bisa
dimaafkan, namun ia tak pernah bisa dilupakan. Buktinya, seringkali kita
mengungkit masalah di masa lalu walaupun itu sudah berakhir lama sekali. Dalam
Pengantar Ilmu Komunikasi-nya Deddy Mulyana, komunikasi bersifar irreversibel (tidak dapat balik).
Artinya, ketika kita pernah mengalami konflik dengan orang lain dan suatu saat
kita bertemu lagi dengan orang itu, sikap kita padanya pasti nggak akan pernah
bisa sama lagi kayak dulu. Soalnya, interaksi itu pasti dipengaruhi oleh
pengalaman masa lalu.
Oleh karena itu, saudara-saudara
sekalian, pembaca yang budiman, hati-hatilah dalam bertindak. Karena mudah saja
kesalahan kita dimaafkan oleh orang lain, namun kesalahan itu akan tetap
diingat olehnya. Dalamnya lautan dapat ditebak, dalamnya hati hanya Allah yang
tahu.


Komentar
Posting Komentar