Sweet Things


Kamis, 25 Oktober 2012 19:07:13

Haaaii! Aku udah di rumah niih! Sekali lagi, AKU UDAH DI RUMAAAHH! Yahaaay setelah bertahun-tahun lamanya nggak pulang kampung, akhirnya Allah mempertemukanku dengan keluarga lagi. Makasih Ya Allah! Mmmmuuuuahh :* *menghapus air mata sebelum dilempar berbagai barang oleh pembaca* Rasanya pulang ke rumah setelah sekian lama di perantauan tuuuh kayak dibeliin buku baru yang keren dan banyak, ditraktir makan setahun penuh dengan menu sesuka hatiku, dan *tit* ada di hadapanku detik ini juga! Hahaaay! Aku senaaaang sekali bisa pulaang! ..>._.<..

Okeeh, jadiiiih, ehem, hampir lupa. Bagaimana kabarmu hari ini kawaaan? Pasti baik doong yakan yakan yakaan? Bagi kamu yang beratnya di atas normal, ati-ati sama tukang jagal. Kan besok Hari Raya Qurban gitu. Hehehe maaf yaa kalau tulisanku ini menyinggung kamu yang kebetulan mempunyai kelebihan berat badan. Soalnya , aku pengen gendut belum kesampaian juga sih sampai sekarang. Maksudku, yah, aku pengen setidaknya berat badanku mencapai lebih dari sepertiganya 135 gitu. Aku bosan disapa, “Mbak, kok kurusan sih?” atau “Kowe saiki kok soyo gering?” Yang nggak ngerti arti kalimat yang terakhir itu, tanya siapa aja deh, aku nggak mau nerjemahin. Hehe.


Oke, kita tinggalkan masalah tukang jagal dan berat badan sejenak. Karena judul postinganku hari ini adalah “Sweet Things”, maka aku akan menulis tentang yang manis-manis aja disini. Tentu saja gula, coklat, permen, jelly, kecap, masakan Solo, dan aku termasuk di dalamnya *Jangan melempar sesuatu pada LCD leptop atau C-mu ya. Cukup takbiran sambil bilang WOW aja. Huaahahha.

Well, hal manis yang pertama hari ini adalah senam sekeluarga pagi tadi. Ceritanya, sekitar pukul 06.00, aku bangun karena mendengar suara “Ayo baris teman-teman ayo baris! Ayo baris teman-teman ayo baris! Ayo baris teman-teman ayo baris!” yang keras dari ruang depan. Setelah kriyip-kriyip sejenak dan mengusap belek di mata serta mengikat rambut asal-asalan, aku berjalan menuju sumber suara. Di sana, aku menemukan ibuku sedang semangat-semangatnya senam mengikuti anak-anak TK di layar tipi, adikku sedang menggoyang-goyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri (tentu saja matanya fokus ke arah anak-anak TK di layar tipi) sambil mrenges ceria, dan ayahku menjaga adikku kalau-kalau ia jatuh dari belakang dengan tawa ceria juga. Karena nggak mau ketinggalan momen ini, aku pun berpartisipasi dengan tertawa paling keras. Yak, tertawa paling keras karena benar-benar merasa bahagia. Melihat ibuku yang begitu ... Ya ampun, ini pertama kalinya dalam hidupku melihat beliau seperti itu, lalu ayahku, dan adikku yang pagi-pagi begini sudah bahagia bersama benar-benar momen yang manis. Manis sekali sebenarnya. Hal yang terjadi kemudian adalah aku benar-benar mafhum dari mana datangnya jiwa “alay”ku ini.

Hal manis yang kedua adalah aku pergi ke sekretariat Ganesha Pala, tetapi gagal terjadi. Walaupun nggak jadi, memikirkan betapa menyenangkannya reuni bersama keluarga keduaku itu saja sudah manis kok rasanya. Ciyus, deh!

Hal manis yang ketiga terjadi di dapur. Ceritanya, ibuku udah tahu kalau aku aku mau buber di luar. Padahal, beliau mau masak bubur kacang ijo buat buka puasa di rumah. Jadi, batal deh bubur kacang ijonya. Waktu ditanyain kenapa sama Bapak, beliau menjawab, “Nggo opo masak nek ora enek wong neng ngomah?” yang artinya adalah buat apa masak kalo nggak ada orang di rumah? Uaaaa aku langsung nggak enak hati deh sama ibuuuuk. Bukannya itu berarti beliau kangen banget sama aku dan pengen buber sama anak tercintaya di rumah? *semoga nggak salah tafsir. Aamiin. Ibuku memang begitu, sih. Sama kayak *tit*, beliau nggak mungkin langsung bilang kangen atau sayang dengan cara yang frontal. Tetapi, beliau selalu menunjukkannya dengan cara-cara nggak biasa kayak memanggilku dengan sebutan telur, menertawakanku kalo aku bilang kangen sama *tit* padanya, ah, sampe lupa apaan lagi. Pokoknya gitu deeh! Aku selalu merasa kalo menunjukkan sayang dengan cara-cara seperti itu lebih manis daripada tiap hari bilang “I love you” sama tembok. Kalo bilangnya ssama orang yang disayang sih tetep aja manis dari mana-mana :P

Hal manis yang keempat adalah buka bersama dengan sahabatku sejak jaman bayi sampai tua begini: Drian. Setelah lama nggak ketemu, ini adalah pertama kalinya kami keluar bersama lagi. Well, kejadian akhir-akhir inipun agaknya  sudah nggak membekas di antara kami. Bukannya masalah selalu membuat persahabatan menjadi lebih kuat?

Hal manis kelima terjadi kemarin malem. Aku layak menyebut perjalanan pulang dari Terminal Seloaji dan mampir di depot mi ayam Sumoroto sebagai momen ayah dan anak. Di sepanjang perjalanan pulang, aku dan ayah ngobrol banyak tentang kuliahku, keadaan rumah, tetangga, zamannya ayah kerja di Balikpapan sekitar tahun 86, harga makanan yang waktu itu sampai Rp15.000,00 seporsi, dan sebagainya, dan sebagainya. Well, aku dan ayah bukannya nggak pernah ngobrol, sih. Tapi, kemarin itu rasanya memang momen yang kami banget, deh! Rasanya dunia hanya milik berdua, sedangkan yang lain numpang. Eh, kok malah kayak pacaran gini suasananya -_-

So, those all my sweet things today. Oh iya, masih ada satu lagi. Aku bersyukur untuk masih bisa mendengar suaranya. *tit* maksudku. Orang kebesaran hidung itu harusnya ada di rumah sekarang *hampa sejenak*

Oke, abaikan yang terakhir. Yang penting sekarang adalah, aku bersyukur untuk masih bisa bersyukur atas hari ini. Semoga harimu juga menyenangkan yaaaa! Sebelum menutup page ini, senyum dulu dooong ... Nah, gitu kan maaniiis! Now you’re part of my sweet things too :)

Komentar

Postingan Populer