Tergantung

Kalo kamu pengen bahagia, ya berbahagialah! Repot amat :P
Hai cemun-cemuuuun! Pada gimana nih kabarnya? Semoga baik-baik yaaa ... Pacarnya pada baik-baik, tugasnya pada baik-baik, keluarga di rumah dalam keadaan baik-baik, yang ulang tahun juga tambah semuanya yang baik-baik, dan semoga leptop atau PC kamu juga dalam keadaan baik-baik meskipun sedang digunakan untuk membuka blog ini. Hahahaahahahhahaa *krik-krik

Okeeeh, untuk mengisi waktu luaaang, dan berhubung kamu sudah terlanjur masuk dalam sarang penyamun alias blog ini *eh*, kamu wajib menjawab kuis dari sayaaa! Tetereeet tetereet tetereeeett!! Yak, pertanyaan apakah saya gila atau enggak ditampung dulu yaaa hahahha. Sekarang pantengin soal-soal di bawah ini dan kamu wajib menjawabnya. Tapiii jawabannya disimpen dalam hati aja yaa, jangan disilang tuh LCD leptop atau PC-muu heheehh. Here we go!

  1. Kalo hasil karya kamu dibodoh-bodohin sebodoh-bodohnya, kamu marah nggak?
  2. Kalo hujan deras terus kamu nggak bawa payung, kamu bakal basah nggak?
  3. Kalo temen kamu bohong sama kamu, kamu marah nggak?
  4. Kalo kamu nggak punya jempol tangan, kamu bisa buka botol aqua nggak?
  5. Kalo dosen kamu ngasih kamu nilai E kamu marah nggak?
Pilihan jawaban untuk kelima pertanyaan di atas adalah: a) Iya; b) Tidak; c) Yang mana yaaa?
Jika kebanyakan jawaban kamu adalah a, anda termasuk dalam kategori manusia normal. Kalo kebanyakan jawaban anda adalah b, maka anda termasuk dalam ketegori manusia ikhlas. Kalo kebanyakan jawaban anda adalah c, maka anda termasuk dalam kategori manusia galau.

Kalo kebanyakan jawaban anda adalah d, yang nggak ada dalam pilihan jawaban yang saya sediakan, maka anda termasuk dalam kategori manusia ajaib. Haahahhaa. Kenapa ajaib? Karena saya yakin kamu punya alasan sendiri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kalo dari sudut pandang saya sendiri, saya akan menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan "tergantung". Misalnya untuk pertanyaan kedua. Kenapa jawaban saya "tergantung"? Karena bisa saja saya nggak basah walaupun saya nggak bawa payung. Soalnya, saya kan berteduh di kampus B-)

Eiits, jangan banting leptop atau PC dulu dooong! Intinya disini niiih. Jadi, kalo semua pertanyaan itu kita ibaratkan masalah yang menimpa hidup kita, besar kecilnya atau berat ringannya masalah itu tergantung gimana kita melihatnya. Artinya, kalo kita melihat masalah itu sebagai sesuatu yang beraaat banget, maka masalah itu pasti jadi berat juga. Namun, kalo kita bisa memandang masalah itu sebagai batu tanjakan kita untuk menjadi seseorang yang lebih kuat, kita pasti bisa melewatinya dengan lebih mudah. Apalagi kalo kita selalu bisa positive thinking atas semua yang terjadi sama kita. Semuanya pasti akan terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Bahkan, dengan positive thinking ini, kita bisa merasa lebih lega menerima semuanya. Hasil dari positive thinking ini bisa dipastikan nggak pernah mengecewakan kita. Saya sudah berkali-kali membuktikannya lho. 

Misalnya pas saya mau tes EAP (English for Academic Purposes) satu bulan yang lalu. Waktu itu kan emang nggak ada ketentuan untuk membawa alas tulis. Tapi, di pinggir jalan menuju tempat tes EAP, ada banyak penjual alas tulis yang berkoar-koar kalo di dalem sana nanti nggak ada mejanya. Jadi, otomatis saya beli tuh alas tulis yang harganya Rp20.000,00. Yak, saya ditipu habis-habisan saudara-saudaraa! Orang di Ponorogo aja nggak segitu-gitu amat kok harganya. Apalagi waktu itu saya lagi bokek berat. Maka, jadilah hati ini panas membara. Namun, saya berusaha berpikiran positif. Yah, kali aja dengan ini saya bisa lulus EAP. Terus, pas mau masuk ruang ujian, eh, disuruh nunjukin KTP. Waktu saya cari-cari dompet saya yang biasanya ada di dalam tas, lhadala, dompet saya nggak ada. Keren banget deh. Maka, ngebutlah saya jalan kaki balik ke kos. Dua puluh menit kemudian, saya baru nyampe lagi di tempat ujian. Setelah masuk ruang ujian, saya melihat tempat duduk plus MEJAnya tertata rapi. Waktu ngeluarin alas tulis untuk ngerjain soal-soal, terdengar suara indah dari sound system berkata,"Mohon alas tulis disimpan kembali. Pengerjaan soal dalam tes ini tidak memerlukan alas tulis." Nah, lengkap sudah penderitaan saya hari itu. Walaupun rasanya emosi sekali, tapi waktu itu saya paksain juga buat mikir positip. Yah, kali aja kelelahanku jalan bolak-balik kos sama Rp20.000,00 yang keluar buat bel alas tulis yang sebenernya nggak perlu itu terbayar dengan lulus EAP. Dengan berpikir gitu, sedikit demi sedikit kedongkolan di hati saya mulai hilang dan pada saat pengumuman hasil tes, saya lulus! Hahaaay! Asik sekali bukaan?

Kalo kita bisa berpikir positif atas segala sesuatu yang terjadi sama kita, semesta juga pasti mendukung energi positif tersebut! Kayak pas belajar Psikologi kemaren lhooo, kita tuh sebenernya bisa melalui rintangan apapun yang menghadang kalo kita yakin kita bisa! Lagian, Dia juga pasti ngebantu kita kok kalo kita mau minta pada-Nya. Karena sebesar apapun masalah kita, masih ada Dia Yang Maha Besar. Jadi, jangan khawatir kita bakal sendirian atau nggak sanggup  buat ngejalanin semuanya.

Nah, kalo belom-belom kita udah mikir negatiiif mulu, kita nggak akan maju-majuu! Kayak pas  pelatihan ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) dua minggu yang lalu. Mas Tentor memperlihatkan sebuah tisu pada para peserta (termasuk saya), lalu bertanya,"Kalo kamu melihat tisu ini, apa yang ada dalam pikiran kalian?" Jawaban yang muncul banyak sekali,  seperti umbel (ingus), keringat, tipis, jijik (kalo ada ingusnya kali ya), dan lain-lain sebagainya. Pokoknya, 80% jawaban kami tuh negatif semua. Dengan jawaban-jawaban tersebut, kita membuat tisu yang notabene lembut, putih bersih, dan banyak sekali gunanya itu (kayak buat ngelap keringat, ingus, dsb) jadi nggak banget. Itulah manusia alias kita. Belom-belom udah negatiiif mulu mikirnya. Makanya, kita sulit untuk menerima perubahan untuk menjadi lebih baik.

Terus, gimana dong biar yang negatif-negatif itu ngacir dari hati kita? Well, kalo dari saya sendiri sih, TERGANTUNG! Kita mau nggak, nyediain tempat -sekecil apapun itu-  di hati kita untuk menerima pikiran positif itu? Kita kan sering tuh, dinasehatin macem-macem sama temen kita supaya kita nggak terus down. Tapi, kadang nasehat-nasehat itu nggak ngaruh soalnya kita nggak memberi tempat untuk nasehat-nasehat itu masuk ke dalam diri kita. Kalo kita dikiiit aja mau nyediain hati buat "mendengarkan" hal yang positif, saya jamin, semuanya akan terasa lebih mudah! Kayak segenggam garam yang dimasukin ke dalam segelas air sama dimasukin ke danau luas. Kalo kita memasukkan garam ke dalam segelas air dan meminumnya, pasti air itu rasanya asiin banget! Kalo nggak percaya silahkan dicoba. Hahahha. Tapi, kalo kita memasukkan segenggam garam itu ke air danau dan meminum airnya, ya air itu pasti tetep seger-seger ajalaah! Ya kaan?

Okedeh, segini dulu postingan saya hari ini. Semoga kita semua bisa jadi lebih baik yaaa :)

Komentar

Postingan Populer