Akhir Pekan Menyenangkan

Hei hei hei hei heei!! Apa kabarmu kawaan? Bagaimana akhir pekanmu sampai hari ini? Semoga akhir pekanmu menyenangkan seperti halnya dengan diriku tanpa tugas artikel ilmiah yang belum selesai yaa :)   Aaaa kemarin sampai hari ini aku seneng banget! Kau tahu kenapa? Eng ing eeeng! Aku ketemu lagi sama Kwek-Kweeek! Iyahuuu setelah sekian lama terpisahkan karena jarak dan tempat menuntut ilmu yang berbeda, akhirnyaaaaa aku, Fida, Anggie, dan Evi ngumpul lagi dan menghabiskan waktu seharian sama-sama. Nggak ketinggalan pula kami mengabadikan momen indah ini dengan kamera hapenya Anggie. Ah, pokoknya keren banget deeh kemarin tuuh!

Ceritanya, Rabu malam pas aku galau sendirian dan baru menyadari kalau aku ternyata udah gedhe gini, Fida SMS kalo dia pulang. Anggie masih galau, dan Evi bilang nggak tau pulang apa enggak. Eh, pas aku nyampe rumah Kamis siangnya, Evi SMS aku kalo dia lagi di rumah. Maka, aku segera menghubungi Anggie apakah dia jadi pulang. dan tenyata dia jadi pulang. Yes! Mengetahui ketiga orang geblek tapi baik banget itu pada pulang, aku pun segera mengabarkan berita paling indah malam itu:

"Bek, besok ngumpul yaa! Di kosku yang dulu jam 8.30. Sampai ketemu besok beek! Miss you :*"
Sent to: Anggie, Fida, dan Evi via hapenya ibukku.

Setelah mengirimkan SMS indah itu dan mendapat tanggapan positif dari segenap kru Kwek-Kwek, aku pun tidur dengan indah pula. Paginya, pada pukul 07.30 aku menjemput Evi di rumahnya -well, dia nggak jauh berbeda dari ketika kami ketemu terakhir kali-, lalu kami sama-sama ke rumahnya Anggie. Waktu kami sampai di rumahnya Anggie, bapaknyalah yang menyambut kedatanganku dan Evi. Ternyata Anggie lagi belanja makanan buat kemah di kampusnya. Ketika aku, Evi dan bapaknya Anggie sedang ngobrol asik, terdengarlah suara motor memasuki halaman. Seorang cewek berkerudung merah yang membonceng wanita cantik di belakangnya tersenyum-senyum melihat motorku yang sudah terparkir di halaman rumahnya. Wanita cantik yang ternyata ibunya Anggie itu menyalamiku dan Evi, lalu meninggalkan kami karena cewek berkerudung merah yang tadi memboncengnya masuk ke dalam ruang tamu dan mrenges seneng. Wajahnya masih tetap bulat, badannya masih tetep gedhe, tapi giginya berbehel merah dan biru serta dia jadi lebih putih dari biasanya.

"Anggiieee!" Aku berteriak seneng melihatnya. Anggie memeluk Evi lalu memelukku.
"Bentar ya, aku ganti baju dulu." Katanya sambil masuk kamar.

Setelah beberapa menit, dia pun keluar lagi dengan mengenakan kaos dan jilbab biru serta celaa jins. Aku tersenyum melihat perubahan pada sahabatku yang satu itu. Menurutku, dia tambah cantik. Aku jadi naksir deh *eh. Setelah bertukar kabar, kami pun bersama-sama menuju tempat kosku pas SMA dulu. Setengah jam kemudian, kami bertiga telah sampai di depan warung makan di samping kosku yang juga milik ibu kosku dulu dan mendapati seorang cewek berbaju serta berkerudung hijau sedang menunggu dengan galau.
"Udah lama, Bek?" tanyaku tanpa dosa. Dia hanya senyum manyun *apa iya kemaren dia senyum manyun?* dan cipika-cipiki pada kami bertiga. Romantis sekali. Well, setelah aku perhatikan, dari kami berempat Fidalah yang benar-benar sudah berubah menjadi wanita sesungguhnya. Wajahnya yang seingatku dulu lonjong jadi bulat. Bibirnya berwarna merah muda karena gincu, jilbabnya ditata sedemikian apik sehingga membuatnya tambah cantik. Aku membandingkannya dengan dandananku yang seikhlasnya dan bilang pada diriku sendiri, "Cukup. Cukup." Butuh nggak cuma empat bulan untuk merubahku menjadi kayak Fida. Ini ciyus loh.

"Eh, ke Luwes yuk. Beli boneka titipannya tetanggaku," ajakku pada Anggie, Fida, dan Evi. Tanpa bertanya, ketiganya menuruti permintaanku dan kami pun bertolak menuju pusat perbelanjaan terkece di Ponorogo: Luwes.

"Yang ini gimana, bek?" tanyaku pada Fida seraya menyodorkan boneka teddy bear unyu berwarna hijau padanya. 
"Tetanggamu tuh masih kecil atau udah gedhe, sih?"
"Mmm ... Kecil. Eh, enggak. Agak gedhe sih. Gimana, kamu suka?"
"Suka, sih." Jawabnya.
"Yaudah, ini aja kalo gitu. Ya?" Aku bertanya pada Evi dan Anggie. Mereka mengangguk setuju.

Setelah membayar harga boneka, kami berkeliling sebentar dan melanjutkan perjalanan. Niat hati mengantarkan Anggie ambil uang di bank, kami malah duduk-duduk di pinggir jalan menunggu tukang tambal ban menambal ban motornya Anggie -_- 
"Andai boneka ini punyamu ya, Bek?" godaku pada Fida, mengisi waktu luang menunggu ban motornya Anggie selesai ditambal.
"Aku kan sukanya keroppi," jawabnya.
"Tapi ini kan warnanya ijoooo. Yakan yakan yakaaan?" aku tersenyum penuh arti pada Fida. Dia pura-pura bermuka bete dan aku tertawa melihatnya. Anggie dan Evi juga ikut tertawa. Sebagai penggemar berat warna hijau, tentunya Fida sangat ingin memiliki boneka itu. Tapi sayang sekali bonekanya milik tetanggaku. Huehuehuehue.

Pukul 11.30 siang eetelah acara tambal ban dan mengambil uang di bank selesai, kami berempat bertolak menuju warung mie ayam di dekat Terminal Lama.
"Mie ayam tiga, bakso satu Mbak." Anggie memesan makan siang kami. Setelah memesan minuman berupa segelas es teh untukku dan es jeruk untuk Anggie, Evi, dan Fida, kami pun duduk lesehan di tempat paling nyaman di warung itu.
"Nih, bonekanya tetangga." Aku menyodorkan boneka hijau yang kami beli bersama-sama pada Fida.
"Iyaa iyaa bonekanya tetanggaaa." Fida meletakkan boneka itu di belakangnya.
"Maksudku, tetanggaku itu kamu, Bek." Lanjutku. Fida masih nggak ngeh. "Boneka itu buat kamu, Beeek!" aku memperjelas pernyataanku. mendengar kalimatku yang terakhir, Fida menutu mulutnya. Nggak, dia nggak mau muntah, kok. Dia hanya nggak tahu mau mengatakan apa. Aku, Anggie, dan Evi hanya senyum-senyum penuh makna.
"Heh! Beneran ini buatku?" Fida masih nggak percaya.
"Iyaa beeek! Selamat ulang tahun, yaa!"
"Haahahha! Makasih yaaaa!" Fida pun nggak bisa menahan senyumnya. Aku tertawa melihatnya. Haaahaha! Sebelum berangkat ketemu Fida tadi, Anggie, aku, dan Evi memang berencana memberi boneka pada Fida sebagai kado ultahnya tanggal 6 lalu. Habisnya, dia sendiri yang nggak punya boneka sebagai kado ultah. Tahun lalu, kami malah memberikannya jilbab hijau. Nggak ingat sama sekali kalo kado untukku, Evi, dan Anggie boneka semua. Huaahahha. Well, ternyata kejutan kami buatnya sukses beraat! Dia sama sekali nggak nyadar kalo boneka itu untuknya! Haahahha. Aku seneng banget. Setelah acara kejutan yang menyenangkan itu berakhir, kami pun menikmati makan siang dengan bercerita banyak sekali. Evi dan Fida ngobrolin sesuatu tentang bidan -mereka sama-sama kuliah di kebidanan - yang aku sama Anggie nggak ngerti, Anggie ngobrolin tentang dia yang bakal jadi konselor. Dia mau beli buku yang isinya tentang membaca wajah dan garis tangan, sedangkan aku khusyuk mendengarkan cerita seru mereka. Aku nggak tau mau cerita apa. Habisnya, kuliahku isinya cuma ketawa-ketawa nggak jelas sama temen sekelas, menggalau di perpus atau Sekre Kentingan, menggerutu soal dosen yang ngajar seenaknya, dan lain-lain sejenisnya. Oh iya, Anggie jadi anak pramuka lagii! Aku nggak mengira dialah yang bakal meneruskan karir menjadi anak pramuka. Aku terharu sekali :')

Setelah makan mie ayam, kami sholat dhuhur di mushola depan GOR, lalu mampir beli es buah di pinggir jalan K.H. Ahmad Dahlan. Dan bersama dengan habisnya es buah di mangkuk kami, habis pula waktu kami bersama hari itu. Hiks.

"Yah, pisah nih?" kata fida ketika kami bersiap menaiki motor.
"Iyaaa ... Kapan kita bisa ketemu lagiii?" lanjutku.
"Aku pasti bakal kangen banget sama kaliaan," Anggie menyuarakan isi hatiku. Ya, aku pasti bakal kangen banget sama tiga orang ini. 
Setelah kata perpisahan terucap, kami pun berpisah. Tentunya untuk sementara waktu. Kemarin benar-benar kebersamaan yang indah bersama mereka.

Jalan bareng Kwek-Kwek  adalah acara akhir pekan sesi pertamaku. Sesi yang kedua adalah ngejus bersama Enciiil! Yak, Encil adalah sahabat sehidup sematiku yang lain. Dia juga bersamaku pas naik ke Arjuna setahun yang lalu. Sekitar pukul empat sore, aku dan Encil boncengan menuju Jalan Soekarno Hatta, berhenti di jus-jusan dekat SMP kami. Disana, kami ketemu temen se-SMA-nya Encil yang juga jadi temenku. Kami cerita banyak hal sambil menikmati segarnya jus melon serta hangatnya Mie Gelas rasa Soto. Satu jam kemudian, kami pulang ke rumah Encil setelah jajan penthol dan tempura di Alun-Alun Ponorogo, dan bersama dengan itu pula, selesailah weekend sesi duaku.

Sesi terakhir weekendku kali ini aku habiskan bersama Herdian alias Genjes. Dia adalah temen klopku sejak SMP sampai sekarang. Karena kami sama-sama ikut Ganesha Pala, kemarin sore kami pergi ke Pudak untuk mengunjungi adik-adik yang sedang Pelantikan. Dia menjemputku di rumahnya Encil dan kami bersama menuju tempat tiga tahun lalu juga dilantik sebagai anggota baru Ganesha Pala, ekskul terkece di sekolahku. Pulung yang berlembah-lembah, Sooko, jalan-jalan yang menanjak, tikungan-tikungan tajam dan udara dingin kami lalui sore itu. Di sepanjang perjalanan, aku dan Genjes ngobrol tentang banyak hal. Tentang saat-saat pertama kami dilantik, jalan-jalan ke Pudak yang rusaknya lebih parah dari terakhir kali aku kesana, dan hidup kami masing-masing di perantauan. Saat melewati jalan menanjak yang dari sana kami juga bisa melihat langit sore yang indah banget, aku tersenyum. Aku nggak pernah bisa berkata-kata untuk hal seperti ini. Inilah salah satu yang kurindukan dari perjalanan ke Pudak. Mata kami nggak akan pernah dibuat bosan oleh pemandangannya yang selalu indah.

"Andai punya kamera baguuus!" teriaknya.
"Aku masih ingat kata-kata yang aku ucapin dulu waktu melewati tempat ini." Kataku pada Genjes.
"Apa?" tanyanya.
"Mata kita adalah kamera yang paling canggih untuk mengabadikan momen-momen seperti ini."
"Hehehe. Iya, bener."

Setengah jam kemudian, kami sampai di camp panitia yang terletak di dekat sungai seperti tahun-tahu sebelumnya. Udara yan semakin dingin dan pohon-pohon pinus menyambut kami. Disana, panitia yang nggak lain adalah adik-adik kelas kami masih sibuk mendirikan doom. Tenda gerbong pun belum berdiri. Maka, jadilah kami bergotong royong mendirikan tenda sampai pukul 20.30. Kami menghabiskan malam dengan menyaksikan peserta pelantikan menjalankan ritual pelantikan anak pala pada umumnya -kapan-kapanlah aku ceritakan detailnya-, bercanda seru dengan anak-anak panitia dan alumni yang lain, makan mie goreng, dan tidur kedinginan di tenda gerbong. Pagi ini, kami duduk bersama di depan tenda menikmati segelas kopi susu hangat. Ah, nikmat sekali kebersamaan ini. Aku benar-benar merindukan keluarga keduaku ini. Sebenernya, acara in iakan berlangsung sampai Minggu. Tapi, karena Genjes harus balik ke Bogor hari ini dan aku harus melakukan sesuatu pada artikel ilmiahku, jadilah kami pamit pulang pukul tujuh tadi.

"Sebenernya aku pengen sampe Minggu disini." Kata Genjes,
"Aku jugaaa ..."
Beneran, aku juga. Aku sungguh kangen naik gunung. Di sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Genjes juga nggak banyak cerita kayak kemarin pas waktu kami berangkat. Kayaknya, kami sama-sama mengerti kalo kami sebenernya nggak pengen balik dulu ke kota, kuliah, dan segala hiruk pikuknya.

Well, begitulah weekendku kali ini. Besok, aku harus balik lagi ke Solo. Yak, aku harus semangat! Bagaimanapun, aku seneng banget bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang aku sayang. Ini baru  namanya akhir pekan yang menyenangkan! :D

Komentar

  1. blogger writer yah..
    salam kenal..
    :D


    oiiah, linknya udah sy cantumin di blog sy, cek aja http://www.es-campor.blogspot.com/p/link-exchange.html
    jika kamu berkenan, pasang balik yah..^^

    BalasHapus
  2. Makasiih! :D
    Siaap! Saya kunjungi dan pasang balik apapun yang kamu minta deh! *loh hahaha
    Thanks yaa, salam kenaal :)

    BalasHapus
  3. rasanya benar benar suatu yang berbeda dalam satu hal yang sama . . . :'(

    huuaaaaaaaaaa. . . .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer