Bab Tujuh
Kau tahu, saat ini aku merasa kalau hidup kita ini sebenarnya juga terbagi dalam bab-bab, seperti dalam novel. Mungkin setiap bab dalam hidup kita berbeda pembatasnya. Mungkin kamu masuk dalam bab ketiga dalam hidupku, sedangkan aku dalam bab yang berbeda dalam hidupmu. Kita nggak pernah tahu sampai bab berapa cerita tentang kita akan berakhir. Apakah ia mempunyai akhir yang bahagia, yang artinya kita mati dengan bahagia atau dikenang sebagai seseorang yang berarti lebih di hati seseorang -atau beberapa orang-, ataukah kita akan mati begitu saja dan hilang dari ingatan orang lain secepat kita hilang dari dunia ini? Entahlah. Nggak ada yang tahu. Aku juga nggak tahu kapan bab dalam hidupku ini berakhir, tapi, kurasa aku tahu aku telah sampai di bab berapa sekarang. Kamu tentu tahu juga, kan? Ya, bab tujuh, seperti judul postinganku hari ini. Aku memikirkan banyak hal sekarang.
Seperti kejadian-kejadian yang telah berlalu, sakit hari, senang banget, dan tentunya orang-orang yang terlibat di dalamnya, yang telah mengisi bab-bab dalam hidupku sebelum ini. Ada orang-orang yang namanya tetap ada dari bab satu sampai sekarang, ada juga yang udah nggak nongol-nongol lagi. Yah, nggak lazim dalam sebuah novel, sih. Tapi yang namanya hidup, tentu saja orang-orang yang mampir silih berganti.
Hari-hariku di bab pertama banyak diisi oleh ayah dan teman-temanku. Aku jadi ingat waktu pertama kali masuk sekolah. Jam 5 pagi udah siap aja pake merah putih. Terus kami berjalan bergandengan tangan dengan gembira menuju sekolah kami yang baru. Sekolah memang keren sekali bagi kami waktu itu! Oh iya, uang sakuku waktu itu cuma Rp300,00 dan biasanya masih sisa lho! Masih sisaa! Wah, bahagia itu sungguh sederhana ya? Tapi itu duluuu ... Hahahaha.
Bab kedua dalam hidupku adalah waktu ibuku pulang dari Brunei, lalu kami sekeluarga utuh lagi. Itu adalah masa kecil paling bahagia yang pernah kuingat sampai sekarang. Aku merasa lengkap kap kap kap dan aku adalah anak kecil paling bahagia di dunia :D
Yang paling buruk adalah bab ketiga, kalau kau tahu. Kenapa? Waktu itu, aku masih kelas 3 SD dan sudah ditinggal bapak ibukku ke Brunei. Iyahuuuu selamat akuuu MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia) beneran deehh!
Bab empat balik bahagia lagiii. Bapak ibuku pulang ke rumaaah! Yeyeyeee!
Bab lima adalah masa putih abu-abu. Aku nggak nyangka banget bisa sekolah di SMP 1 Ponorogo. Secara gitu loooh aku kan anak udik ndeso nggak tau apa-apa huaahahhaha. Yang jelas, masa-masa SMP adalah masa dimana aku bener-bener berteman baik banget sama yang namanya cintaahh *cieeehh* dan patah hati, lalu apa lagi ya? Asem manisnya cinta tuh udah katam pas kelas 3 SMP deh pokoknya. Keren kan keren kan? Di usia belia gitu aku udah menghadapi cobaan yang begitu berat dan aku berhasil melewatinyaaa~
Setelah bab kelima berakhir dengan tragis, aku memulai bab enamku dengan nggak semangat pula. Tapi, untunglah adegan-adegan selanjutnya berlangsung semakin baik dan menyenangkan. Masa-masa SMA memang yang paling indah sih, bagaimanapun keadaannya. Ketika seseorang mengucapkan selamat tinggal, akan selalu ada orang lain yang datang dan mengucapkan halo padamu. Jadi, bagi kalian yang patah hati atau apapun yang nggak ngenakin hati, jangan khawatir meeen! Dunia belum berakhir, matahari masih bersinar, bumi masih berputar, mati satu tumbuh seribu, masih banyak ikan di lautan. Selama mie ayam masih eksis di bumi Indonesia ini, semuanya akan baik-baik saja. Yakin, deh!
Setelah masa putih abu-abu berakhir dengan penuh perjuangan, aku memulai bab tujuhku dengan banyak harapan dan mimpi yang baru. Disini, di Solo ini, di UNS ini, ada orang-orang baru yang datang, ada juga orang-orang dari bab sebelumnya yang kubawa. Kurasa, bab tujuh ini akan lebih panjang halamannya ketimbang bab sebelumnya. Siap-siap sediain tinta dan kertas yang banyak nih. Huaahaha. Entah kenapa, aku yakin akan terjadi hal-hal besar padaku selama empat tahun mendatang. Well, untuk menyongsong bab baru di hidupku ini, kurasa perlengkapanku sudah cukup oke. Semoga kali ini aku punya akhir yang bagus untuk kisahku. Yang lalu biarlah berlalu dan yang akan datang adalah yang paling penting sekarang. Semangat aku dan kamuuu!! :D
Seperti kejadian-kejadian yang telah berlalu, sakit hari, senang banget, dan tentunya orang-orang yang terlibat di dalamnya, yang telah mengisi bab-bab dalam hidupku sebelum ini. Ada orang-orang yang namanya tetap ada dari bab satu sampai sekarang, ada juga yang udah nggak nongol-nongol lagi. Yah, nggak lazim dalam sebuah novel, sih. Tapi yang namanya hidup, tentu saja orang-orang yang mampir silih berganti.
Hari-hariku di bab pertama banyak diisi oleh ayah dan teman-temanku. Aku jadi ingat waktu pertama kali masuk sekolah. Jam 5 pagi udah siap aja pake merah putih. Terus kami berjalan bergandengan tangan dengan gembira menuju sekolah kami yang baru. Sekolah memang keren sekali bagi kami waktu itu! Oh iya, uang sakuku waktu itu cuma Rp300,00 dan biasanya masih sisa lho! Masih sisaa! Wah, bahagia itu sungguh sederhana ya? Tapi itu duluuu ... Hahahaha.
Bab kedua dalam hidupku adalah waktu ibuku pulang dari Brunei, lalu kami sekeluarga utuh lagi. Itu adalah masa kecil paling bahagia yang pernah kuingat sampai sekarang. Aku merasa lengkap kap kap kap dan aku adalah anak kecil paling bahagia di dunia :D
Yang paling buruk adalah bab ketiga, kalau kau tahu. Kenapa? Waktu itu, aku masih kelas 3 SD dan sudah ditinggal bapak ibukku ke Brunei. Iyahuuuu selamat akuuu MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia) beneran deehh!
Bab empat balik bahagia lagiii. Bapak ibuku pulang ke rumaaah! Yeyeyeee!
Bab lima adalah masa putih abu-abu. Aku nggak nyangka banget bisa sekolah di SMP 1 Ponorogo. Secara gitu loooh aku kan anak udik ndeso nggak tau apa-apa huaahahhaha. Yang jelas, masa-masa SMP adalah masa dimana aku bener-bener berteman baik banget sama yang namanya cintaahh *cieeehh* dan patah hati, lalu apa lagi ya? Asem manisnya cinta tuh udah katam pas kelas 3 SMP deh pokoknya. Keren kan keren kan? Di usia belia gitu aku udah menghadapi cobaan yang begitu berat dan aku berhasil melewatinyaaa~
Setelah bab kelima berakhir dengan tragis, aku memulai bab enamku dengan nggak semangat pula. Tapi, untunglah adegan-adegan selanjutnya berlangsung semakin baik dan menyenangkan. Masa-masa SMA memang yang paling indah sih, bagaimanapun keadaannya. Ketika seseorang mengucapkan selamat tinggal, akan selalu ada orang lain yang datang dan mengucapkan halo padamu. Jadi, bagi kalian yang patah hati atau apapun yang nggak ngenakin hati, jangan khawatir meeen! Dunia belum berakhir, matahari masih bersinar, bumi masih berputar, mati satu tumbuh seribu, masih banyak ikan di lautan. Selama mie ayam masih eksis di bumi Indonesia ini, semuanya akan baik-baik saja. Yakin, deh!
Setelah masa putih abu-abu berakhir dengan penuh perjuangan, aku memulai bab tujuhku dengan banyak harapan dan mimpi yang baru. Disini, di Solo ini, di UNS ini, ada orang-orang baru yang datang, ada juga orang-orang dari bab sebelumnya yang kubawa. Kurasa, bab tujuh ini akan lebih panjang halamannya ketimbang bab sebelumnya. Siap-siap sediain tinta dan kertas yang banyak nih. Huaahaha. Entah kenapa, aku yakin akan terjadi hal-hal besar padaku selama empat tahun mendatang. Well, untuk menyongsong bab baru di hidupku ini, kurasa perlengkapanku sudah cukup oke. Semoga kali ini aku punya akhir yang bagus untuk kisahku. Yang lalu biarlah berlalu dan yang akan datang adalah yang paling penting sekarang. Semangat aku dan kamuuu!! :D

Komentar
Posting Komentar