Kwek - Kwek

Sahabat itu ...

Hai kamuu. Apa kabar nih? kabar baik kaaan? Okeeh langsung ajaahh, sebelum bergalau ria dengan blogger alay tapi imut iniihh *tanyakan pada rumput yang bergoyang kenapa anda bisa-bisanya terjebak disini* , aku mau menanyakan satu hal sama kamu. Kamu punya sahabat? Nggak punya? Ah boong aahh, lha yang nulis postingan ini apa bukan sahabatmu? *Udeh ga usah kenceng-kenceng gitu ngomong enggaknya -_-* Oke lanjut. Jadi, selain kamu, aku punya tiga sahabat semasa SMA yang sekarang terpaksa menjalani LDR (Long Distance Relationship) atau HJJ (Hubungan Jarak Jauh)  gara-gara pisah sekolah. Hukhuk LDR emang bikin galaau. Mereka adalah Anggie, Evi, dan Fida. Bersama, kami memproklamirkan diri sebagai kelompok "Kwek-Kwek". Kenapa? Silahkan tanya pada rumput yang bergoyang lagi. Selama tiga tahun di SMA, rasanya nggak ada yang bakal bisa menggantikan momen-momen indah persahabatan dengan ketiga orang ini. Ah, kamu pasti penasaran deh sama orang macam apa yang mau-maunya bergaul sama anak alay beginih. Hihihi. Okedeh, langsung ajaah ... here they are :)

Orang pertama yang kena tipu muslihatku sehingga mau bertemen deket sama aku adalah Anggie. Dia adalah temanku sejak SMP, rambutnya merah bergelombang, berperawakan tinggi -setidaknya lebih tinggi dariku- dan gedhe. Cewek ini adalah atlet panahan yang sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia, untuk lomba panahan tentunya, bukan untuk memanah orang – orang yang berbuat kejahatan. Menurut pengamatan dan hasil observasiku selama bergaul dengannya, Anggie adalah yang paling tenang, sabar, narima ing pandum[1], dan yang paling lurus jalannya diantara kami berempat. Ujian kehidupan paling berat yang pernah dihadapinya mungkin adalah teknik tembakannya memburuk dan dia bingung harus gimana supaya tekniknya baik kembali. Selain itu, Anggie adalah yang paling irit kalau SMS ketimbang kami berempat. Misalnya kalo aku SMS seperti berikut ini pada dia:
 “Gik, kamu besok latian kagak? Kalo nggak kita keluar yuk? Lama nih nggak makan2 bareng. Evi udah aku sms. Katanya sih bisa. Tapi fida mau rapat apa gitu  aku nggak tau terus bisanya agak siangan dikit. Gimana?”
Maka, Anggie akan menjawab dengan bahasa yang singkat, padat, dan mudah dipahami, yaitu:
“Ya”
Kalau nulis namanya, harus ada huruf e di belakang kata Anggi atau dia akan protes habis-habisan sampai penulisan namanya kembali sesuai dengan kaidah penamaan di akta kelahirannya yaitu: Anggie. Satu sifat yang aku kagumi dari dia adalah, si Anggie ini sangat menghargai uang receh.
“Males banget waktu belanja di supermarket, kembalian dua ratus atau empat ratus rupiah dikasih permen. Coba kalo kita bayarnya juga pake permen. Mereka pasti nggak mau. Makanya, kalo bayar aku selalu mengusahakan pake uang pas.” Lagi pula, uang receh ini penting juga lho. Sejuta nggak akan pernah jadi sejuta beneran kalo kurang Rp500,00 aja. Well, begitulah Anggie yang selalu apa adanya dan nggak neko-neko.
Lain Anggie, lain pula Evi. Kalau Anggie adalah tipe cewek penyabar, Evi adalah kebalikannya. Sebenarnya, Evi dan aku adalah dua orang sejoli yang terpisahkan lalu bertemu di SMA ini. Sebelum masuk ke SMZA (Sebutan keren untuk sekolahku, SMA Negeri 1 Ponorogo), aku sudah mendengar gosip dari teman se-SMP-nya yang juga teman se-SD-ku bahwa dia ini orangnya menyebalkan sekali. Nggak usah aku jabarkan deh, ya. Jadi, begitu mengetahui ternyata dia satu kelas denganku, rasanya otakku sudah memerintahkan padaku untuk menjauhi cewek yang satu ini. Maafkan aku ya, Vi. Belum-belum kamu sudah dibenci oleh orang yang belum kamu kenal. Tapi, ternyata eh ternyata seiring dengan berjalannya waktu, aku malah dekat dengan dia. Ditambah dengan jarak rumah kami yang agak dekat, lengkap sudah perjodohan ini.
            Sahabatku yang lain adalah Fida. Dia ini alumni SMP yang menjadi saingan berat SMP-ku. Sudah pasti, dulu ketika aku belum terlalu mengenalnya, aku dan Anggie sering bergosip ria tentangnya. Dia adalah tipe seorang murid teladan. Rajin belajar, rajin sekolah, rajin ngerjain PR, dan baik hati.
Diantara kami berempat, Fida dan Evi adalah yang paling nyantol soal mata pelajaran, sedangkan aku dan Anggie adalah yang paling nggak nyantol. Fida adalah yang paling panjang kalau SMS-an, dan seperti yang kusebutkan di atas, Anggie adalah yang paling irit. Aku dan Evi adalah yang paling rame kalau udah jayus bareng, Anggie yang ikut ketawa, dan Fida yang paling sering nggak nyambung. Anggie adalah yang paling sering menraktir, dan aku adalah yang paling sering minta traktiran. Yah, pokoknya begitulah.
Itulah ketiga sahabatku apa adanya dan keadaan jika kami disatukan. Ketika bersama mereka, rasanya duniaku yang sudah “hancur” ini tambah hancur dengan cara yang membuatku selalu bersyukur karena mempunyai sahabat sebaik mereka. Mereka ini geblek, nggak karu-karuan, gila, tapi emang baiiik banget. Aku nggak tahu gimana hidupku sekarang ini kalo nggak ada yang namanya Anggie, Evi, sama Fida sama aku.
Sahabat memang begitu berarti, kan? Bahkan, kadang kalo ditanya kita bakal lebih memilih sahabat daripada pacar. Yah, begitulah. Aku, kamu, dan sahabat-sahabat kita harus tetap bersahabat sampai kapanpun. Tanpa mereka, kita bakal hampa bagai sayur tanpa garam. Tanpa mereka, well, mari mati saja. 


Yang lagi kangen,
Na'im



[1] Menerima nasib dengan lapang dada dan penuh keikhlasan



Sahabat selamanya: Anggie, aku, Fida, dan Evi

Komentar

Postingan Populer