Puncak (1)
Arial
tertunduk memandang api unggun di depannya. “Gue juga waktu tepar di atas sana
badan rasanya udah dingin banget, tapi entah kenapa gue masih percaya kalo gue
bisa sampai puncak. Walaupun nggak ada buktinya, gue tetep percaya.”
Zafran
menatap ke nyala api dan berkata, “Our
greatest glory is not in never falling... but in rising every time we fall.”
“Keren!”
“Siapa
tuh, Ple?”
“Confucius.”
“Gue
setuju banget tuh.”
“Jadi
kalo kita yakin sama sesuatu, kita Cuma harus percaya, terus berusaha bangkit
dari kegagalan, jangan pernah menyerah dan taruh keyakinan itu disini ....”
Zafran meletakkan telunjuk di depan keningnya.
“Betul
banget. Taruh mimpi itu di sini ...,” Genta melakukan hal yang sama.
“Juga
keinginan dan cita – cita kamu,” ujar Arial.
“Semua
keyakinan, keinginan, dan harapan kamu...,” Riani berkata pelan.
“Tarus
disini ...,” Dinda ikut meletakkan telunjuk di depan keningnya.
Muka
Ian tampak menyala, matanya mengkilat diterangi
cahaya api unggun. “Betul! Begitu juga dengan mimpi – mimpi kamu, cita – cita
kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh disini.” Ian membawa jari
telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya.
“Kamu
taruh disini ...
Jangan
menempel di kening.
Biarkan
...
dia
...
menggantung
...
mengambang
...
5
centimeter ...
di
depan kening kamu ....”
“Jadi
dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan
kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.
Apapun hambatannya, kamu bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama
keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap
kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala
keinginan, mimpi, cita –cita, keyakinan diri ....”
“Biarkan
keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung, mengambang di depan kening kamu. Dan
... sehabis itu yang kamu perlu cuma ...”
“Cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat
lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapisan
tekad yang seribu kali lebih keras dari baja ....”
“Dan
hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya ....”
“Serta
mulut yang akan selalu berdoa ....”
“Dan
kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan,
bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu
akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya,
bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa – biasa saja tanpa tujuan,
mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan
keajaiban mimpi, keajaiban cita – cita dan keajaiban keyakinan manusia yang tak
terkalkulasikan dengan angka apapun ... Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi
– mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.”
“Percaya
pada ... 5 centimeter di depan kening kamu.”
(5 cm : 361 –
363)
Aku menutup novel
bersampul hitam itu dengan setengah melamun. Lima centimeter di depan kening kamu. Kuulangi kalimat terakhir
bagian favoritku itu dengan sedikit hampa. Di depan keningku, entah berapa
centimeter di depannya, aku melihat aku yang lain tengah berada di toko buku,
menjawab berbagai pertanyaan tentang novel perdanaku yang langsung menjadi bestseller. Sampai sekarang, aku terus
memercayai mimpi itu meskipun, yah, seperti kata Arial tadi: nggak ada
buktinya. Kurasa, bagian yang tersulit dari pencapaian sebuah mimpi adalah
memiliki keyakinan itu, se-impossible mimpi
itu bagi orang lain. Se-impossible menjadi
seorang penulis bagiku.
Angin bertiup perlahan,
menyadarkan kembali dimana aku berada sekarang. Ranu Kumbolo membisu seperti
selalu, tenda-tenda berjejer di pinggirnya, beberapa api unggun masih menyala
dengan obrolan ringan beberapa orang yang mengitarinya, dan langit tampak
begitu indah dengan hiasan bintang-bintang di atasnya. Keindahan ini, aku
yakin, bisa membuat seseorang yang tak paham kata-kata bermakna konotasipun
berpuisi.
“Hei. Ngapain kamu jam
segini udah bangun?” Lomo, rekan seperjalananku, duduk di samping tempatku
berbaring.
“Kamu sendiri ngapain?”
aku nggak menjawab pertanyaannya.
“Yeee ditanya malah
nanya,” dia menoyor pelan kepalaku sampai balaklava yang kupakai melorot
menutupi mata, “Aku nunggu matahari terbit, nih,” lanjutnya.
“Hahaha sama, dong! Sunrise disini tuh emang nggak ada
duanya di dunia!” aku bangkit duduk di sampingnya. Meskipun baru kenal tadi
pagi, rasanya kami sudah saling kenal selama bertahun-tahun karena sama-sama pernah
mendaki Semeru sebelumnya.
“Kamu nggak
kedinginan?” dia menanyakan hal itu beberapa kali sejak sore tadi. Aku menjawab
pertanyaannya dengan mengarahkan pandangan pada sleeping bag yang membungkus setengah badanku dan jaket kebesaran
yang kupakai. Tampak yakin, Lomo kembali fokus pada danau di depan kami. Menit
berikutnya berlalu dalam keheningan. Aku kembali meringkuk dalam sleeping bag, memandangi langit, lalu
tertidur.
“Woy, bangun! Sunrise, tuh!” seseorang
menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku mengucek-ngucek mata, mengumpulkan nyawa,
lalu menutupnya lagi.
“Eh, dasar kebo.
Banguuun!” kali ini orang itu mendudukkan aku. Kali ini, mau tak mau aku membuka
mata dan tidak menutupnya kembali. Well, aku
nggak akan mungkin melewatkan keindahan ini dengan tidur lagi. Kedua ujung
bibirku otomatis mencuat ke atas melihat matahari menyebul di antara dua bukit
yang mengitari Ranu Kumbolo. Danau ini seolah hidup dengan uap yang mengebul di
permukaannya, mengalir menuju matahari.
“Silahkan berpuisi
seindah mungkin, tapi maaf, kata-kata itu nggak akan pernah bisa menandingi
keindahan ini.” Lomo berkata pelan sambil memandangku. Senyumnya benar-benar
seperti orang yang mengisyaratkan kematian. Well, sebenernya nggak segitunya,
sih. Cuma, dari tadi pagi dia selalu tersenyum dengan cara yang akan membuat
orang lain yakin kalau cowok pecinta kamera itu bakal segera mati. Semacam
senyum perpisahan gitu, deh. Sepertinya, ini cuma angan-anganku saja.
“Kamu yakin banget
bakal mati muda, ya?” aku sekonyong-konyong menyuarakan isi hatiku. Dia
mengendikkan bahunya, lalu berkata datar, “Bukannya semua orang bakal mati?”
“Wooy kalian! Udahan
dulu dong, pacarannya!” teriak Ronda, leader tim kami dari belakang doom. Rupanya ia tengah menyiapkan
sarapan dengan beberapa teman kami yang lain. Tanpa mengatakan apapun, Lomo
berjalan menuju Ronda dan membantunya menggoreng Nugget. Karena dari dulu aku
sama sekali nggak punya mood masak kalau di gunung, aku lebih memilih
membereskan tenda.
***
Setelah sarapan dan
packing, aku, Lomo, Ronda, Sita, dan Yoga bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Tujuan kami berikutnya adalah Kalimati, pos hampir terakhir –karena masih ada
Arcopodo- sebelum puncak: Mahameru. Uaaahh memikirkan tanah tertinggi di Pulau
Jawa itu benar-benar membuatku merinding!
“Are you ready guys?” tanya Ronda.
Kami mengangguk
serentak. Setelah itu, Lomo memimpin tim menuju tanjakan cinta tepat di
belakang Ranu Kumbolo. Ini dia tanjakan yang legendaris itu. Mitosnya, kalau
kita bisa melalui tanjakan ini –yang emang kemiringannya bisa membuat meringis-
tanpa menoleh ke belakang dan terus memikirkan jodoh yang kita inginkan, niscaya
kesampaianlah maksud kita itu. Keren sekali bukan? Dulu, aku nggak bisa
memikirkan siapapun. Tapi, sekarang ini aku memikirkan senyum tanda
perpisahannya Lomo.
(Bersambung)

Komentar
Posting Komentar