Tentang Rajin

Selamat malam kawaan! Apa kabar nih? Kamu ngapain jam segini masih melek? Ngerjain tugas? Ciyuus? Hahahha. Rajin amat jam segini masih ngerjain tugas :P Ngetik-ngetik soal rajin, aku punya cerita nih. Sebagai anak kos yang baik, rajin memang sudah diwajibkan sejak zaman kos-mengekos ada. Kalo nggak, akibatnya bisa cukup menyusahkan. Misalnya, kalo nggak rajin nyuci, maka cucian jadi numpuk. Kalo cucian numpuk, nggak punya baju ganti buat kuliah. Kalo nggak punya baju ganti buat kuliah, maka baju yang tadi dipake buat kuliah akan dipake lagi untuk beberapa hari ke depan. Kalo sudah begini, yang kasihan bukan yang nggak punya baju ganti tadi, tapi temen-temennya. Kalo udah nggak membuat nyaman temen-temen, bisa jadi si nggakrajinnyuci ini akan diasingkan dari dunia pergaulan. Nah kaan, nggak rajin nyuci aja bisa berdampak dikucilkan begini, apalagi kalo nggak rajin macem-macem? Bisa jadi nggak lulus kuliah deh. Jangan sampe Ya Allah ... Jangan sampeee ...

Meskipun menyadari bahwa nggak rajin membawa dampak yang begitu membahana *apa?*, tetep aja aku ini nggak rajin-rajin amat. Yah, bukannya nggak rajin sama sekali sih. Tapi, kalo dibandingin sama temen sekamarku -Rizki, dan di cewek-, aku ini nggak ada apa-apanya. Dia bagaikan ibu yang bakal ngomel-ngomel kalo meihat keadaan sekitar sekiranya tak seindah yang dia harapkan, sedangkan aku adalah anak yang nggak akan menyapu lantai sebelum sampah memenuhi berbagai sudut ruangan. Meskipun (lagi) nggak rajin-rajin amat, aku tetap pernah menjadi rajin kok. Peristiwa terrajin dalam hidupku terjadi pada tangal 11 November 2012.
 Hari itu hari Minggu. Setelah bangun pada pukul 08.00 dan didatangi dua orang temanku (aku bangun gara-gara kedatangan mereka) Saum dan Anggie (Ini adalah Anggie teman sekelasku, bukan Anggie Kwek-Kwek), aku sarapan sama Mbak Ulfa di warungnya Bu Sis. Aku memesan seporsi soto yang sudah lama kuidam-idamkan dan segelas es teh.

Setelah sarapan, aku mandi pagi pada pukul 10.46. Habis itu aku nyuci pakaian, sprei yang kayaknya hampir sebulan nggak aku ganti, sepatu, dan piring-piring kotor sampai pukul 12.30. Oh iya, sebelum mandi aku bersih-bersih kamar dulu. Habis nyuci, aku sholat dhuhur, terus nyetrika. Ini benar-benar kejadian langka, lho. Jarang banget aku mau nyetrika setelah nyuci pakaian! -FYI, yang aku setrika adalah baju yang aku cuci sebelum ini- Habis nyuci, aku membuat Jurnal Menulis sesuai jadwal yang telah kubuat hari itu. Setelah membuat Jurnal Menulis, aku tidur-tiduran di kasur yang udah aku ganti spreinya sambil membaca bukunya Winna Efendi.

Ketika sedang asyik membaca, Rizki datang sama temennya. Aku meneruskan membaca sambil tersenyum-senyum gaya. Maksud senyumku itu tentu sudah jelas: pamer kalo hari ini aku rajin dan dampak yang ditimbulkannya sungguh luar biasa yaitu kamar bersih dan rapi yang jarang-jarang terjadi kalo aku berada di dalamnya. 
"Lihatlah ke luar sana, Rizki," kataku padanya, menyebut nama aslinya alih-alih Brundul yang biasa aku gunakan dalam keseharianku dengannya. Well, saat itu aku benar-benar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, lho. Rizki menengok dan matanya menemukan barisan jemuran bajuku yang sudah terjemur rapi di kawatnya.
"Lihatlah kursi belajarku Rizki." Dan diapun meoleh ke kursi putih di samping tempat tidurku. Dia nggak menemukan pakaian menumpuk yang belum disetrika seperti hari sebelumnya.
"Dimana pakaianmu?" tanyanya.
"Di lemari, dooong! Udah rapiiih!" kataku bangga sambil menunjuk lemari di ujung kamar.
"Yap. Aku tadi bersih-bersih kamar juga lhooo!" lanjutku, masih dengan senyum gaya yang penuh arti. Arti pamer. Dalam pikiranku, Rizki pasti terkagum-kagum atas pencapaianku hari ini dan dia bersyukur banget akhirnya aku menunjukkan perubahan yang baik dalam hal kerajinan. Alih-alih tersenyum dan mengucapkan selamat, dia hanya berwajah datar dan berkata:
"Siapa kamu?"

Komentar

Postingan Populer