Pulang
Hari Sabtu (22 Desember 2012) sore itu, tanpa sengaja aku duduk di dekat
jendela kamarku (yang sekarang dijadikan kamar adikku dan tembok birunya penuh
tempelan stiker Sailor Moon –entah gimana dia bisa menemukan stikerku itu-),
menghadap netbook demi menuliskan sesuatu untuk postingan berjudul pulang ini.
Namun, waktu itu aku sama sekali nggak bisa menuliskan apapun kecuali kata-kata
alay seperti biasanya kayak yang di bawah ini:
Heeeii
… Aku sedang di rumah lagi niih. Aaah senangnyaaa bisa lebih lama di rumah.
Kuliah udah kelar, UKD kelar, tinggal liburan sambil menunggu IPK keluar. Yang
itu nggak usah dipikirin. Ntar aja nangis bombaynya kalo ternyata IPK-ku
segalau nilai raporku pas SMA. Oh iya, apa kabarmu kawan?
Begitulah, aku belum menghapusnya sampai sekarang. Aku berharap
kapan-kapan bisa meneruskan kata-kata pembuka itu seperti biasanya, kemudian
menjadi postingan utuh dan dengan sukses nangkring di jajaran postingan
terbaruku di blog. Tapi, ternyata malah jadi kutipan gini. Sabar ya, wahai paragraf
pembuka alay.
Baiklah, kembali ke dekat jendelaku Sabtu sore itu, akhirnya aku nggak
bisa menulis apapun selain paragraf alay seperti yang kuketik di atas. Hal yang
kulakukan kemudian adalah memangku daguku dengan tangan kanan, memegangi
netbook dengan tangan kiri, dan memandangi jalan di samping rumah. Aroma tanah
dan tumbuhan yang khas sehabis hujan memenuhi penciumanku. Pagar tanaman di
samping rumah yang beberapa bulan lalu meranggas sekarang terlihat hijau.
Bahkan langit sore itu terlihat lebih cerah dari biasanya. Indah.
Suasana sore itu mau tak mau membuatku tersenyum. Disini, di kampungku,
segala sesuatunya berjalan tak secepat ketika aku di Solo. Setiap pagi, ibu-ibu
di sekitar rumahku yang belanja untuk keperluan memasak pasti menyempatkan diri
untuk bergosip ria dahulu, menyapa tetangga-tetangga yang lain, mengobrol
tentang sayur apa yang dijual di warung depan rumahku hari ini. Ayahku sudah
berangkat ke sawah, dan aku terbangun karena tangis adikku –aku tidur sekamar
dengannya, menyempil di ujung kasur-. Sebelum melakukan hal lain, bahkan
mencuci muka, adikku sudah memanggil ibuku dengan suaranya yang imut, “Mama,
Mama!” sambil menunjuk arah dapur. Oh iya, ibuku sepagi itu biasanya udah
ngapa-ngapain sih. Dan kalau sudah sibuk, beliau nggak suka diganggu olehku dan
adikku. Akhirnya, untuk membuat adikku tenang, aku pun mengajaknya jalan-jalan
ke sekitar rumah. Dia selalu semangat kalau diajak jalan-jalan. Aku pun
menggendongnya menelusuri jalan di samping rumah –yang kulihat lewat jendela
Sabtu sore lalu- pelan-pelan, menunjukkan deretan sawah di belakang rumah –dia bertanya,”Apa?”
berulang-ulang-, langit yang mulai memerah, lalu sebentar kemudian, aku
menunjukkan matahari terbit padanya. Adikku itu terus bertanya “Apa” padaku,
dan aku mengucapkan matahari berulang-ulang padanya sambil tersenyum, lalu
menurunkannya dari gendonganku. Sepagi itu, bahkan sebelum aku mencuci muka,
aku berjalan pelan menjajari langkah-langkah kecil adikku kembali ke rumah.
Kalau di Solo, sudah bisa dipastikan aku masih bergelung dengan selimutku,
menekan tombol snooze untuk alarm di
hapeku.
Aku masih menikmati sore di dekat jendela kamarku yang sekarang penuh
dengan stiker Sailor Moon ketika adikku bangun dari tidur sorenya. Mau tak mau,
aku harus menghentikan kegiatan romantis ini dan menghadapi adikku dengan
segala keimutannya. Haahahaha.
Sehari itu berjalan sebagaimana hari-hariku di rumah seperti biasanya,
kecuali soal esay AAI-ku yang belum selesai. Entah kenapa, aku malas sekali
menyelesaikannya. Otakku benar-benar terasa buntu, nggak bisa nulis macam
apapun kecuali tulisan-tulisan bersifat sampah.
Keesokan harinya, Minggu pagi, aku dibonceng ayahku menuju pasar. Kami akan
belanja segala jenis bumbu yang digunakan untuk membuat ayam panggang. Ehm. Sepertinya,
ibuku ingin masak enak demi menyambutku yang baru pulang setelah sebulan lebih
betah di Solo. Di sepanjang perjalanan menuju pasar, dari belakang ayahku, aku
mengamati orang-orang yang bersimpangan jalan dengan kami. Kebanyakan dari
mereka membawa banyak barang.
Sampai di pasar, aku dan ayah mampir di tukang sol -Ibuku menitipkan
sepasang sepatu dan sandal untuk dijahit solnya-, lalu masuk ke dalam pasar
untuk membeli setengah kilo bawang merah dan bawang putih, satu ons ketumbar
dan merica, kecap asin –yang nggak ada-, saus tiram –yang juga nggak ada-,
celana kombor hitam untuk ayahku, dua pasang baju bayi untuk muyi, dan tiga bungkus es dawet masing-masing
untukku, ayah, dan ibuku. Adikku sih, ntar nebeng-nebeng kami juga bisa.
Setelah selesai belanja pada pukul sembilan pagi, aku dan ayah kembali ke
tukang sol di seberang pasar untuk mengambil sepatu dan sandal ibuku. Ternyata,
sepatu dan sandal ibuku belum disol juga. Untuk mengisi waktu luang, aku berjalan
ke toko-toko di bagian luar pasar untuk menanyakan apakah mereka punya kecap
asin. Nihil. Akhirnya, aku pun duduk bersama ayahku di teras depan Want! Salon –baca:
Wanti Salon-, dimana di depannya pak tukang sol sedang bekerja.
Orang-orang terlihat begitu sibuk. Di dalam salon, dua orang cewek
sedang ditata rambutnya. Di samping Want! Salon, seorang bapak setengah baya
sedang menawar harga standar untuk sepeda untanya, penjual dawet di seberang
jalan dengan cekatan melayani pembeli, tukang parkir sibuk memarkir motor
pembeli yang baru datang, dan pak tukang sol hampir menyelesaikan pesanan
ibuku. Ah, lihatlah semua kesibukan ini. Semua berjalan sewajarnya, tak terlalu
lambat sehingga membuat seseorang kehilangan kesabaran, juga tak terlalu cepat
sampai tak bisa diamati.
Sisa hari itu sampai hari Selasa berjalan biasa saja, nggak ada yang
istimewa kecuali ritmenya yang tetap pelan. Aku nggak terlalu merasakannya
karena aku banyak tidur dua hari itu. Kemarin saja setelah mandi pagi dan
sarapan aku tidur lagi sampai pukul satu siang.
Rabu pagi alias pagi ini, aku keluar bareng *tit* -akhirnya, ketemu juga
setelah tiga bulan memendam rindu. Hehehe- sampai sore. Kami makan mi ayam
bareng –ritual yang nggak juga berubah sampai sekarang- dan es krim. Oh iya,
juga oreo. Setelah seharian penuh bersamanya, dia pun mengantarku pulang. *tit*
pulang selepas maghrib dari rumahku, lalu aku mandi dan tertidur sampai pukul
sepuluh malam.
Lalu, sampailah kita pada sekarang. Aku sedang berada di dapur ketika
mengetik ini semua. Di sampingku ada sepiring nasi dengan lauk ikan tongkol.
Yah, ternyata aku bangun gara-gara lapar. Dan entah kenapa juga, aku jadi
pengen ngetik. Maka, jadilah postingan berjudul pulang ini segini panjangnya.
Intinya, aku sangat menikmati kepulanganku kali ini. Sekali-kali, kita
memang harus menyempatkan hati untuk merenung, melihat kembali sekitar kita, mengamati
wajah-wajah yang meskipun nggak kita kenal berjuang untuk hidup dengan caranya
masing-masing, lalu bersyukur untuk setiap detik yang masih Dia berikan untuk
kita. Ah, semua ini menyenangkan. Menulis postingan ini dan memikirkan kalau
kamu membacanya juga terasa amat menyenangkan. Yaudah ah, saatnya tiduuur ... Selamat tengah malam! :)
PS.
Muyi itu tradisi mengunjungi seseorang yang baru
saja melahirkan anak. Biasanya, dalam kunjungan seperti itu kita membawa
baju-baju bayi, bedak, dan perlengkapan bayi lainnya untuk diberikan pada orang
tersebut. Dulu, waktu adikku baru lahir persediaan sabun mandinya saja baru
habis setelah dia berumur empat bulan.

Komentar
Posting Komentar