Rindu Hujan
November datang lagi. Ia mendung lagi, kelabu lagi.
Membosankan. Aku tak pernah suka November. Kecuali saat-saat ketika kamu menemaniku
berlari diantara titik-titik air yang
turun bersamanya. Atau ketika kita menengadah ke langit dan berusaha mengecap
rasanya, air hujan itu, tentu. Tapi itu dulu.
Melalui jendela, aku menemukan lapangan tempat dulu
kita tertawa-tawa di bulan November. Tentu saja saat hujan turun dengan
derasnya. Lalu, kulihat kaca di jendela itu memburam. Kemudian hujan pun turun serupa ribuan mutiara yang
berjatuhan. Aku memandangnya. Indah. Ada sesuatu yang kemudian mengusik
kalbuku. Semacam rindu yang tak tertahankan. Inginku berlari – lari di tengah
hujan, mencium aroma wangi khas dari tanah
basah, berkelakar bersama pelangi yang menyebul dari balik awan. Aku rindu,
rindu, rindu. Dan air mataku pun luruh, menyadari aku tak bisa bangun dari
kasur empuk, terperangkap entah sampai kapan di ruangan persegi empat berbau
obat ini.

Komentar
Posting Komentar