Sekali Lagi: MAHAMERU
”… MAHAMERUUUU!!” Genta berteriak lantang begitu sampai di ketinggian
3676 mdpl, puncak tertinggi tanah Jawa. Kelima sahabat geblek tapi keren itu,
Genta, Arial, Riani, Ian, dan Zafran plus Arinda -adiknya Arial- berdiri mematung di sisi tanah
lapang, tersenyum bahagia, haru. Sekali lagi, mereka sampai disini: Mahameru.
Lagi? Ya, lagi. Setelah mencapai Mahameru untuk pertama kalinya lewat
sebuah novel, kemudian kedua kali lewat versi komik, gerombolan power ranger itu berdiri di puncak para
dewa untuk kali ketiga, dengan wujud nyata,
manusia beneran, nggak cuma imajinasi dan gambar komik. 12-12-12, film berjudul
5 cm yang diadaptasi dari novel bestseller
karya Donny Dhirgantoro mulai dirilis serentak di seluruh Indonesia.
Dimana-mana tiket sold out –aku aja
nontonnya tanggal 13-.
Film ini sukses besar, sama seperti novelnya. Kelima sahabat yang
diperankan dengan pas –yak, nggak kurang nggak lebih: pas- oleh Fedi Nuril
(Genta), Denny Sumargo (Arial), Raline Shah (Riani),
Igor Saykoji (Ian), dan Herjunot Ali (Zafran) serta Pevita Pearce (Arinda) itu
sukses membuat penonton
ketawa ngakak waktu Zafran berfantasi dengan G-string
yang dipake Dinda, berkata wow waktu pemandangan pegunungan Bromo Tengger Semeru
dihamparkan, deg-degan waktu Ian kena reruntuhan batu, terharu waktu mereka
sampai puncak, dan akhirnya bertepuk tangan keras begitu film berakhir.
Nggak berlebihan kalau aku bilang film ini adalah film Indonesia terbaik
yang pernah aku tonton sepanjang tahun ini. Kenapa? Karena film ini 90% otentik
dengan novelnya –meskipun endingnya beda, tapi nggak ngecewain kok-, feel persahabatan, cinta, kebelet meraih
mimpi, dan nasionalismenya dapet banget, settingnya yang asli di Indonesiapun nggak
ngalahin film-film luar negeri! Sang sutradara, Rizal Mantovani, tahu betul adegan-adegan penting di novel yang harus
ada di film. Pokoknya, film ini highly recommended deh! Nggak cuma buat yang
udah baca novelnya dan takut kecewa –biasanya kan film yang diadaptasi dari
novelnya tuh ngecewain, nggak sesuai ekspektasi-, film ini pun (menurutku) jadi
tontontan wajib buat semua orang. Encing-encing nyak babe paman bibi kakak
adik pacar sahabat wajib diajak nonton! Setelah liat film ini, dijamin kamu
pasti pengen ngerasain yang namanya naik gunung, kangen sahabat-sahabat kamu,
dan satu lagi: kamu pasti bakal kangen banget sama Indonesia.
“Percaya pada… 5 cm… di depan
kening kamu.”
REFLEKSI
Awalnya, aku nggak begitu pengen melihat film ini meskipun 5 cm adalah
novel favoritku. Nggak tau kenapa … Antara takut kecewa dan nggak punya duit. Ciyus. Minggu ini minggu terbokekku
sepanjang masa. Well, terimakasih atas cengirannya –entah kenapa aku
membayangkanmu sedang nyengir karena alasan bego ini- tapi masalah uang ini
benar-benar serius buatku, anak desa udik yang tengah merantau ke Solo untuk
kuliah. Tetapi, untunglah diantara kegalauan yang sedang kualami setelah
membaca TL yang penuh dengan kata “awesome amazing nggak rugi nonton sendirian Junot keren banget Pevita Pearce cakep abis”
yang diupdate orang-orang yang udah nonton 5 cm itu, seorang temanku yang baiik
hati banget menraktirku nonton! Betapa indahnya duniaaaa … Hahahahaha! Silahkan
iri lho yaa, silahkaan :P
Begitulaah, kemaren pukul 21.00 aku dan temanku yang baik hati itu,
sebut saja Panda, berangkat ke Solo Grand Mall, lalu menuju ke cinema 21 dimana
film 5 cm akan ditayangkan pada pukul 21.40. Selama kurang lebih dua jam, 5 cm sukses
membuatku mencubitinya gara-gara kampusnya Ian, pemandangan Semeru yang keren
banget, persahabatan, impian, dan cinta yang mereka bawa serta. Untuk tiga hal yang
terakhir, aku nggak mencubiti tubuh gendutnya Panda. Aku juga menikmati
momen-momen pamer ke dia kalo aku pernah kesana, ke Semeru itu, dua tahun lalu.
“I was there …” aku mrenges
pada cowok berkacamata di sebelahku itu.
“Sampah luu.” Dia memaki untuk sekian kalinya hari ini. Sampah, nggak
yang lain. Aku bertanya-tanya kenapa dia nggak sekali-kali memaki dengan kata “bunga”
atau “imut” padaku. Aku tertawa senang melihat muka pengennya.
Kemudian, kalimat “I was there”
dan “sampah lu” sering terdengar dari tempat duduk kami sepanjang pemutaran
film kemarin malam. Sekalinya dia bilang Subhanallah adalah ketika Junot
(Zafran) melongo melihat pemandangan di depannya: Ranu Kumbolo. Yah, memang
begitulah efek keindahan Ranu Kumbolo. Bisa membuat seseorang yang awalnya
hanya kenal kosakata “sampah” jadi langsung insyaf menyebut “subhanallah”. Subhanallah
yah, film ini? *Syahrini mode: on*
Setelah menciptakan keributan kecil di sepanjang film berlangsung,
sekitar pukul 12 malam kami pulang. Sambil menyusuri jalan entah apa namanya –sampai
sekarang aku belum hafal jalanan kota Solo-, kami membahas film itu. Settingnya yang serasa film luar negeri,
karakter-karakter yang sukses dimainkan
dengan pas oleh Junot dan kawan-kawan … Pokoknya wooooow *sambil salto*
After all, aku merasa kangen. Kangen naik ke Semeru
lagi, kangen temen-temen deketku, pengen nonton bareng mereka, pengen ke Semeru
bareng orang-orang yang begitu berarti buatku -se-nggak ngehnya mereka naik gunung.huwahaha- … dan… pengen sungguh-sungguh mengejar mimpiku. Akhirnya, sepertinya
aku tahu kenapa aku nggak pengen nonton film ini pada awalnya. Karena aku
geregetan. Begitu tahu film ini katanya keren banget dan nggak jauh-jauh amat
dari novelnya yang juga keren, aku bener-bener pengen seperti Donny Dhirgantoro.
Maksudku, menulis buku yang bisa menyentuh hati pembacanya, membuat mereka
bahkan bisa mempunyai keyakinan lagi pada mimpi-mimpi mustahilnya –pokoknya
segala efek positif itu-, dan ketika karyanya difilmkan, tetep aja bikin
merinding karena awesomenya.
Ah, Bang Donny, betapa novel yang kau tulis ini bisa berdampak segini
besarnya padaku, dan aku yakin juga pada banyak orang lain yang telah
membacanya atau melihat filmnya. Bang Donny, suatu saat nanti, aku juga akan
menjadi sepertimu. Menjadi penulis hebat yang karyanya bisa bermanfaat buat
orang banyak. Membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik daripada
sebelumnya, nggak cuma seonggok daging yang bisa jalan dan punya nama. Bukankah
sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, seperti kalimat
yang diyakini oleh aktivis yang hilang di Semeru dalam novelmu itu?


sialan lu im -____-
BalasHapushaaahahahaa :PP
BalasHapusSAMPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH
BalasHapusaaahahhahak maap lho ya mbak, I was there. huaahahhaa
BalasHapusadin menyusul. adin pasti bisa :)
BalasHapusAdin semangaat! Adin pasti bisa! :D
BalasHapus