Tentang Seseorang


              Dia bebas.

            Dia tak terikat suatu apa, atau kupikir begitu. Tawanya lepas ketika bersama dengan kawan-kawannya, namun dia juga tak tampak kesepian ketika tak bersama dengan siapapun.

Dia ini biasa saja. Nggak tampan, juga nggak bisa dikatakan jelek. Bahkan, aku sangat yakin dia bukan seseorang yang akan membuat cewek-cewek memperhatikannya lebih lama kalau dia lewat. Dia memang biasa saja sih. Pinter enggak, bego juga enggak. Mau dikata kaya, sepatunya itu-itu saja yang dipakai untuk pergi kemanapun. Tapi, mau dikata miskin juga dia mudah sekali dibodohi teman-temannya untuk dimintai traktiran –dan dia selalu menraktir mereka-. Dia juga sering mengumpat, kau tahu kan, kata-kata kotor yang biasanya dikeluarkan oleh para cowok. Tapi, shalat juga nggak pernah telat.

           Dia itu memang cuma cowok pada umumnya. Tukang menggoda cewek cakep, bikin ribut di kantin, nggak pernah rapi, dan sebagainya. Kontribusi positifnya terhadap kampus mungkin cuma nggak menambah-nambahi polusi udara dengan asap rokok yang biasa makhluk-makhluk berkromosom XY itu hisap.

            Apakah kau pikir dia populer, setelah aku mendeskripsikan dia padamu begitu rupa?

         Tidak. Sama sekali tidak. Sudah kukatakan padamu, dia biasa saja. Manusia normal pada umumnya, hanya satu dari ribuan mahasiswa yang menghuni kampus ini dari hari Senin sampai Jumat. Ada dia syukur, nggak ada juga nggak ada yang bakal mencarinya.

                Dia itu sungguh biasa. Nggak ada yang istimewa sama sekali darinya. Tapi, asal kau tahu saja. Dia itu kayak permata yang tersembungyi di balik arang. Kalau kau memperhatikannya lebih lama, menyisihkan sedikit waktumu untuk mengenalnya, kau tak akan mau jauh-jauh darinya. Kalau kau cewek, rasa-rasanya aku bisa memastikan kalau kau akan jatuh cinta padanya.

 Ah, ya. Kau bisa mengobrolkan apapun dengannya, tentu saja. Tak usah sungkan-sungkan. Dia memang biasa bergurau dan menggombali cewek-cewek sih, tapi dia juga tahu dimana saat-saat harus diam mendengarkan segala ceritamu. Jangan salah, ngobrol dengannya itu bisa jadi obrolan paling bermutu dalam hidupmu, bisa juga jadi yang paling nggak berguna.

                Aku tidak berlebihan dengan mengatakan ini semua padamu. Dia sungguh seorang cowok biasa. Hanya saja, kau tak akan pernah merasa perlu menjadi orang lain ketika bersamanya.


“Kamu sedang galau karena nggak juga punya pacar, ya?” Geitsya, saudara kembarku, menghempaskan tubuhnya di ranjang. Dia pasti baru saja membaca tulisanku.
“Buat apa galau cuma gara-gara hal konyol kayak begitu?” Aku tidak mengalihkan pandanganku dari novel yang tengah kubaca. Dia memang selalu begitu. Berpikiran bahwa apapun yang kutulis adalah curhat colongan dari hatiku yang terdalam. Well, meskipun dia sedikit banyak memang benar, sih.
“Hahahaha! Bukannya memang begitu? Ayolah, Ge … Nggak usah bohong padaku.” Aku meliriknya. Dia sedang menatap langit-langit kamar kami. Oh iya, namaku juga Geitsya, sama sepertinya. Sampai sekarang, aku nggak pernah mengerti kenapa orang tua kami juga memberi nama kembar untuk kami.
“Aku nggak galau, oke? Aku hanya menulis tentang seseorang yang mungkin kuinginkan sebagai pendampingku kelak.” Kataku tanpa mengangkat kepala dari novel yang kubaca, masih berusaha mengabaikannya.
“Jadi, kau menunggu seseorang yang bisa membuatmu menjadi dirimu sendiri sepanjang waktu, begitu?”
“Tentu saja. Jarang sekali ada cowok yang bisa membuatmu menjadi seperti itu.” Kali ini aku meletakkan novelku. Aku sudah nggak bisa berkonsentrasi lagi membacanya.
“Kau terlalu berharap, tahu. Kau nggak akan mungkin selamanya bisa menjadi dirimu sendiri di hadapan pria yang paling kau cintai sekalipun.” Mukanya keruh ketika mengatakan kalimat itu. Sepertinya, aku tahu akan kemana arah obrolan ini menuju.
“Tentu saja nggak selalu berarti begitu, bodoh. Itu hanya berarti kau melakukan sesuatu yang memang paling baik untuk hubungan kalian.” Kilahnya.
“Jangan samakan ini dengan kisah cintamu, dong. Kau sih, memang nggak mau mengakui kalau kau nggak lagi cinta padanya,” kataku enteng. Aku sudah membuka kembali novelku.
          “Aku cinta padanya, oke? Aku hanya …” kalimatnya menggantung di udara. Aku meletakkan novelku kembali, menunggu. “Aku hanya merasa berbeda ketika bersamanya. Aku nggak tahu ini apa, tapi … Rasanya sungguh membuat hampa.”
         “That’s it. Kau tidak mencintainya lagi. Putuskan saja, cari yang lain. Masih banyak kok ikan di lautan …” aku mencoba bergurau. Namun, rupanya gurauanku sama sekali nggak lucu. Wajahnya malah tambah kusut daripada yang tadi.
          “Ini nggak semudah yang kau katakan, bodoh.”
       “Aku tahu, aku tahu. Tapi, ayolah … Sampai kapan kau akan terus berpura-pura seperti ini? Kau bahkan kayak kehilangan dirimu sendiri sekarang. Itu artinya dia bukan orangnya, Kak. Kalau dia memang orangnya, nggak mungkin kau merasa begini kacau terhadap perasaanmu sendiri.” Aku menatap kedua bola mata yang persis seperti punyaku itu.
       “Dengar, Ge. Mungkin kau memang akan menemukan seseorang yang akan membuatmu menjadi dirimu sendiri. Menjadi seseorang yang benar-benar dirimu. Tapi, akan selalu ada hal-hal yang terjadi setelah itu. Kau ingin tetap menjadi dirimu, tapi kalau kau melakukannya, kau akan menyakitinya. Bisakah kau menyakiti seseorang yang telah berbuat begitu banyak untukmu?” Dia berkata panjang tanpa jeda. Aku melihat diriku yang lain hampir menangis, “Kalau kau memang bisa menemukan seseorang yang membuatmu tak akan pernah merasa perlu menjadi orang lain ketika bersamanya, kau sungguh beruntung. Kuharap kau akan seberuntung itu. Tapi, kadang-kadang, tidak menjadi dirimu sendiri adalah hal paling baik yang harus kau lakukan atas semua yang telah terjadi.” Dia nggak pernah menjelaskan dengan gamblang maksud kalimat-kalimatnya itu. Tapi, aku sudah cukup mengerti apa itu artinya.
   “Nggak. Tentu saja nggak begitu ….” Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku karena dia sudah memotongnya.
     “Aku tahu memang nggak begitu. Tapi, aku sudah memutuskan untuk menjalani semuanya apa adanya. Kurasa, lama-lama juga akan sampai pada ujungnya, semua ini …”
    “Tapi, kalau kau nggak berusaha meluruskannya, nggak akan ada apapun yang terjadi.” Aku menimpalinya dengan gusar. Dia hanya memandangku dengan tatapan yang aneh, lalu memejamkan kedua matanya.
     Memutuskan untuk membiarkan dia sendiri dengan pikirannya, aku kembali pada novelku. Tapi, pikiranku sama sekali nggak bisa fokus. Ah, cinta itu memang sama sekali nggak praktis. Ada aja masalahnya. Untung aku belum punya pacar. Ah, nggak usah pacaran deh. Aku akan siap-siap menyongsong jodohku saja. Bukankah perempuan yang baik itu untuk laki-laki yang baik pula?

Komentar

Postingan Populer