Kentingan Sehad Bersama Rochmad


I.        Pendahuluan
“As*! Kenapa gue?!”


Demikian kisah ini dimulai. Kalimat tanya dan seru dalam hati seorang dungu yang tiba-tiba terpilih menjadi PU membuka babak baru kisah lucu penuh seteru. Setahun lamanya kisah ini menutur cerita, tentang ingar tawa yang ternyata menguras air mata sebagian kita, tentang ratap duka yang diharap akan berujung bahagia, tentang segala tentang diatas tentang. Sebuah kisah nyata berbasis fakta, bukan fiksi yang dipenuhi adegan reka.

Demikian tulisan ini saya mulai, mengutip isi pendahuluan dalam Laporan Pertanggungjawaban Pemimpin Umum LPM Kentingan UNS periode 2012/2013, Haris Amanatillah. Saya nggak menyangka PU yang kayaknya cuma hafal makian ini bisa juga menyusun kalimat yang sedemikian indah rimanya. Andai dia membaca ini, kiranya dia bisa tersenyum bahagia. Jarang-jarang saya memujinya seperti ini. Hohohoho. Oke, kita tinggalkan Mas Haris sejenak. Kembali ke postingan saya yang kali ini judulnya sungguh cetar membahana: Kentingan Sehad Bersama Rochmad.

Tentunya kamu bertanya-tanya dalam hati bukan? Kenapa judul postingan saya kayak begitu? Apakah Kentingan –ini adalah salah satu ekskul terkece di UNS. Nama lengkapnya LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Kentingan UNS)- sedang sakit kemudian menjadi sehat karena ada seseorang bernama Rochmad? Ataukah Kentingan sedang mengadakan event jalan sehat yang dihadiri oleh seseorang bernama Rochmad?

Ah, saya tahu anda makin penasaran. Saya bahkan bisa mendengar hati anda membatin, “Ngapain ini anak alay mau cerita aja musti balik Ponorogo-Solo empat kali alias bertele-tele begene?” Walaupun pastinya nggak segitunya juga –kamu kan tahu aku, eh, saya ini alay-, yuk kita cari tahu sama-sama kenapa Kentingan sehad bersama Rohcmad dan bukannya sama Achmad.


II.      Pembahasan
Saya baru saja selesai shalat Ashar ketika menyadari ada yang berbeda dengan Aula Villa Sandria Tawangmangu sore itu. Kertas-kertas buram berisi bermacam kalimat provokasi (?) telah tertempel dengan manisnya di berbagai sudut ruangan. Di bawah stop kontak, kalimat EVA BISA! sudah tertempel. Lalu, di sebelah kanannya, menempel pada gorden yang berwarna biru, Kentingan miris, tenang ada Haris! Lanjutkan boy. Di pintu masuk Aula terdapat pula kalimat pendukung untuk Mas Wisnu: Kentingan bersatu bersama Wisnu.Di MMT, bagian meja Pimsid, dan gorden-gorden lainnya pun sudah penuh dengan tulisan serupa: Selamad bersama Rochmad, Sehad bersama Rochmad, Njaring with Eva, Waiki Riki! For Kentingan, Pilih yang berkumis (R) atau yang bersayap (W)?, terbang bersama Wisnu, Haris dua tahun lebih baik!, Haris skripsi nego, Adu HAY bersama NurHAY, Kentingan Unyu bersama Ayu, Kentingan berhati bersama Esti, Esti memang paling mengerti, Mitha PU ber “uang”, dan lain sebagainya. Memangnya apa gerangan yang akan terjadi? Setelah mengamati keadaan sekitar, saya pun mengangguk-angguk. Oh, saya ngerti nih ini mau ada apaan …

Anda ngerti nggak? Kalo enggak, mari, mari saya ajak anda kembali ke tiga hari yang lalu ketika usia saya genap 18 tahun lebih tujuh bulan.  Tiga hari yang lalu, tepatnya 4 Januari 2012, saya mengikuti event LPM Kentingan UNS yang berjudul Musyawarah Anggota (Musang) XVII di Villa Sandria, Tawangmangu. Jujur saja ya, saya nggak begitu tahu soal Musang ini. Yang saya tahu, di Musang XVII ini, Mas Haris akan lengser dan Kentingan punya PU baru.

Pukul tiga sore, gerimis-gerimis romantis gitu, saya diantar Mbak Kos saya ke gedung UKM UNS, lalu langsung menuju ke pojok lantai dua dimana sekre LPM Kentingan terletak. Sampai di sekre, suasananya kok sepi-sepi aja gitu. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah hari ini nggak jadi Musang karena Mas Haris remidi jadi PU? Ternyata dugaan saya nggak tepat. Satu jam kemudian, saya sudah berada di dalam bus bersama segelintir teman-teman seangkatan dan panitia menuju ke Tawangmangu. Katanya sih, yang lain-lain pada datang nanti malam atau besok pagi. Sesampainya di Villa Sandria, saya dan temen-temen cukup terkejut juga melihat kamar tempat kami akan tidur dua malam berikutnya. Dibanding MARKA (Masa Rekruitmen Anggota) kemarin, fasilitas Musang kali ini bener-bener lebih baik. Karena belum ada kegiatan apapun, setalah makan sore mandi, dan shalat, saya memutuskan untuk tidur.

Pukul 20.30, saya dibangunkan oleh teman saya. Saya pikir akan ada sesi makan lagi. Ternyata, rangkaian kegiatan Musang XVII LPM Kentingan UNS akan dimulai. Setengah mengantuk, saya pun menuju Aula villa. Agenda pertama kami malam itu adalah diskusi dengan tema Menimbang Progresivitas Persma Abad XXI. Diskusi berlangsung dengan cukup seru selama satu jam.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, agenda kedua pun dimulai. Agenda kedua ini adalah Sidang Pleno I. Menurut rundown acara yang saya comot sebelum pulang, di Sidang Pleno I ini kami akan membahas agenda acara dan tata tertib Musang XVII, pengesahan tata tertib yang telah disepakat, lalu memilih pemimpin sidang tetap Musang XVII. Dan, memang begitulah yang terjadi. Pada pukul setengah sebelas, terpilihlah Haekal sebagai pimsid dan Akbar sebagai sekretarisnya. Selanjutnya, dialah yang berwenang penuh atas kegiatan Musang XVII ini sampai PU baru terpilih. Bahkan, kalau mau Haekal bisa membubarkan LPM Kentingan lhooo … I wonder if itu bener-bener terjadi. Oh, jangan. Jangan sampai terjadi.

Setelah Pimsid terpilih dan coffe break sejenak, Sidang Pleno II sebagai lanjutan Sidang Pleno I pun dimulai. Pada Sidang Pleno II, Mas Haris mempertanggungjawabkan kinerjanya selama setahun masa kepemimpinannya. Sidang Pleno II berlangsung sampai pukul 02.00 dini hari. Yak, anda nggak salah baca. Sidangnya memang berlangsung sampai jam segitu. Ini sih belum ada apa-apanya. Tahun lalu bahkan sampai subuh. Saya nggak bisa bener-bener fokus waktu sidang ini berlangsung. Entah kenapa, ketika saya mencoba memperhatikan jalannya sidang dengan seksama, perlahan-lahan pandangan saya menjadi blur. Saya mengantuk sekali. Maaf yaa, saya sempat tertidur beberapa kali selama sidang.

Hari kedua Musang, kegiatan dimulai pukul 08.00. Judul kegiatan kami hari ini masih Sidang Pleno, tapi ini yang ketiga. Di sidang ini, semua peserta Musang –yang sudah bertambah banyak- dibagi menjadi empat komisi, yaitu Komisi Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), Garis Besar Program Kerja (GBPK), dan Rekomendasi Organisasi. Saya masuk ke Komisi ART dan entah kenapa jadi ketua. Sekretaris saya adalah Oma. Selama dua jam, kami membahas ART LPM Kentingan untuk dipresentasikan sesudah dhuhur nanti. Pada kegiatan ini, aku dan Dita bahkan sempat jalan-jalan ke lahan pertanian penduduk setempat, ngobrol dengan pemilik lahan, membantu memanen cabe, dan kenyang karena stroberi gratis yang diberikannya.

Setelah ISHOMA, Sidang Pleno III pun dilanjutkan. Saatnya presentasii … Jengjengjengjeeeng! Setelah tim AD mempresentasikan hasil diskusinya, giliran saya dan Oma yang maju ke depan. Untuk presentasi tentu saja, bukan untuk mengambil alih posisi Haekal. Hohoho. Saya harus membaca ayat di ART satu per satu, memberitahu kalau kami merevisinya, menanyakan kepada forum setuju atau enggak, lalu mengetukkan palu –sesekali dengan brutal- ke meja atas keputusan yang disepakati. Presentasi belum selesai sampai waktu shalat Ashar tiba. Karena itu, kegiatan diskors (bener nggak sih sebutannya?) selama 30 menit untuk shalat. Sekembalinya dari shalat Ashar, jengjengjeng … terjadilah fenomena yang telah saya uraikan di awal pembahasan ini. Saya ngerti nih. Nanti malam pasti pemilihan PU baru.

Dan benarlah dugaan saya tersebut. Setelah presentasi berakhir ketika hampir maghrib dan kami sudah kenyang sehabis makan malam serta sudah shalat, Sidang Pleno IV pun dimulai. Tumben aja malam ini aku sehat wal afiat nggak ngantuk sama sekali.

Jadi, untuk memilih PU, kami harus memilih calonnya terlebih dahulu. Calon PU adalah anggota LPM Kentingan UNS yang sudah menjadi anggota minimal satu tahun. Siapa aja yang penting udah di Kentingan lebih paling sedikit setahun boleh jadi kandidat calon. Ada 20 calon PU yang boleh kami pilih. Masing-masing anggota diberi secarik kertas untuk menuliskan dua nama pilihan hatinya. Diantara nama-nama itu, yang mendapat suara minimal lima sah menjadi kandidat PU LPM Kentingan UNS. Setelah kami menuliskan nama, penghitungan suara pun dimulai. Waktu sie acara bertanya siapa yang mau jadi sukarelawan saksi, aku dengan semangat mengangkat tangan tinggi-tinggi. Bersama dengan Haekal dan Mas Rafi, saksi yang satunya, kami pun memulai penghitungan suara.
        “Wisnu, Rocmad,” kataku.
        “Rochmad, Ayu,” kataku lagi.
        “Wisnu, Eva”
        “Esti, Gembong”
        “Haris, Anna”
        “Ega, Ayu”
        “Haris, Rizal”
        “Wisnu, Rochmad”
        “Rochmad, Wisnu”
        “Wisnu, Rochmad”
        “Wisnu, Rochmad”
        Ah sudahlah. Saya saja sampai bete mengucapkan kedua nama itu –Wisnu dan Rochmad-. Hehehe. Setelah ke-50 suara terhitung, keluarlah lima nama sebagai kandidat PU LPM Kentingan UNS: Mas Rochmad, Mas Wisnu, Mas Gembong, Mbak Ayu, Mas Ega, dan ... surprise! Mas Haris. Semua peserta kalap waktu Mas Haris jadi kandidat PU lagi, sementara yang jadi kandidat hanya berwajah entahlah.

Selanjutnya, seluruh kandidat PU dipersilahkan keluar ruangan, lalu masuk lagi satu per satu untuk menyampaikan visi dan misinya serta menjawab pertanyaan dari peserta Musang. Setelah itu, tibalah saatnya penghitungan suara kembali untuk menentukan siapakah pemegang tongkat kepemimpinan dan harapan Kentingan periode 2013/2014. Tentu saja saya dengan semangat menjadi saksi lagi. Kali ini, saya menjadi saksi penghitungan suara bersama Husain, adiknya Mas Hasan, PU juga dulu.
        “Rochmad!” kata saya lantang.
        “Yeeee!!” peserta Musang kembali kalap. Bahkan Dewi dan Any yang sempat tertidur di balik gorden –mereka menutup wajahnya dengan gorden- pun ikut terbangun. Segala kantuk lenyap sudah.
        “Wisnu!” Tepuk tangan kembali membahana.
        “Haris!”
        “Yeeee!”
        “Yuuhuuuu!”
        “Aaaakkk!” sambutan peserta terhadap nama itu tambah cetar membahana membabi buta.
        Selanjutnya, saya bergantian menyebut nama keenam kandidat PU tersebut sampai kertas suara tinggal satu-satunya.
        “Dan … yang terakhir adalah … Mas …”
        Ruangan hening.
        “Rochmad”
        Tepuk tangan kembali terdengar di Aula bernuansa biru itu. Aku pun kembali ke tempat semula, cengengesan.
        “Akhirnya, selesai sudah pemungutan suara kali ini, dengan hasil Mas Rochmad memperoleh 30 suara, Mas Wisnu 17 suara, Mas Ega tiga, Mas Gembong dua, Mas Haris satu, dan Mbak Ayu nol. Dengan demikian, PU LPM Kentingan UNS yang baru adalah Mas Rochmad.” Haekal mengumumkan hasil pemungutan suara.
        “Yeee!” seluruh peserta Musang XVII beserta alumni menyambut dengan tepuk tangan yang meriah.
        “Mas Rochmad, silahkan menyampaikan sambutan perdananya.”
       
Demikianlah pemilihan PU baru LPM Kentingan UNS berlangsung. Setelah Mas Rochmad memberi sambutan perdana, selanjutnya kami memilih anggota formatur. Bersama Mas Rochmad, tiga anggota formatur terpilih akan menyusun kepengurusan LPM Kentingan UNS periode 2013/2014. Anggota formatur terpilih adalah Mas Wisnu, Mas Gembong, dan Mbak Esti.

Setelah anggota formatur terpilih, Haekal dengan resmi menutup Musang XVII LPM Kentingan UNS pada pukul satu dini hari.

Aaaah akhirnyaaa~

Besoknya, saya bangun pukul delapan. Tanpa mandi tapi tetep gosok gigi, saya menuju ke halaman villa, bergabung bersama teman-teman yang lain. Di hari terakhir ini akan diadakan Kentingan’s Day, makan-makan untuk merayakan ulang tahun Kentingan yang ke-19. Sebenernya, ultahnya tanggal 21 Desember sih. Pagi itu kami bakar-bakar –bakar jagung lho, bukan villa-, lalu makan nasi tumpeng. Aaaahhh pokoknya endingnya bahagia deeh …

III.    Penutup
Nah, begitulah ceritanya kenapa Kentingan sehad bersama Rochmad, bukannya bersama Achmad. Halo? Haloo? Apakah anda masih membaca ini?

Ehm. Oke.

Selamad kepada Mas Rochmad yang terpilih menjadi PU periode 2013/2014. Semoga Mas Rochmad bisa membawa Kentingan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin.


Jadi, secara umum Musang XVII ini berlalu dengan menyenangkan seperti halnya waktu-waktu yang saya lalui sebelumnya bersama mereka. Meskipun ada saat-saat dimana keadaan sempat memanas, semua adalah untuk Kentingan yang lebih baik. Karena sejatinya kami semua cinta sama Kentingan. Cuma beda-beda aja cara mengungkapkannya.

Oh iya.
Kata Mas Black, atau Mas Hendi ya? Nggak usah mikirin apa yang akan diberikan kentingan untuk kita, tapi apa yang akan kita berikan pada Kentingan. Soalnya, kalo kita memberi banyak, kita juga pasti dapat lebih banyak. Saya juga pengen memberi lebih banyak buat Kentingan :)

Akhirnya, -mengutip Mas Haris lagi- sebelum tiba hari kiamat atau dibubarkan oleh rektorat, tak perlulah kisah tentang Kentingan ini dibuat tamat. Selama masing-masing kita tetap memiliki syahwat kuat untuk telurkan karya-karya hebat, episode mendatang dari kisah ini tentulah akan lebih dahsyat. Semangat!



Salah Satu Peserta Musang XVII LPM Kentingan UNS
Solo, 7 Januari 2013


Na’imatur Rofiqoh

Komentar

  1. kurang poin penting nih!
    tanya jawab pas sesi Rohmad kampanye, seharusnya kamu cuplik beberapa yang makjleb alias mengena gitu.
    jadi, kalo kata Heri, taste-nya lebih dapet

    BalasHapus
  2. wah... hebat... sampe di tulis segala... hehehe
    bener tuh, saran kalau ada fotonya jadi tambah joss...!!! hehehe

    BalasHapus
  3. Mbak ayuk: sori mbak, banyak hal yang terlewat emang -____- nanti saya bikin edisi lanjutan deh yaaa :D
    Mas Dede Mars: belom sempat ngopy fotonya maaas T.T
    Mas black: hahahahaha thanks maaaas :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer