Mati


Waktu aku membuka facebook hari ini, kakak tingkatku, Mbak Sinta, memasang status bahwa temen seangkatannya, Mas Izzudin meninggal dunia. Aku nggak tau apa sebab meninggalnya. Yang pasti, memang udah waktunya aja kali ya. Belum lama ini juga ada mahasiswa UNS yang meninggal karena jatuh dari motor pas dijambret. Lalu, ada juga kakak tingkatku yang lain, namanya Mbak Ria, juga meninggal karena kecelakaan. Masih ada satu lagi kakak tingkat di UNS yang aku tahu juga meninggal. Aku nggak tahu namanya sih, tapi jurusannya Fisika dan dia ditemukan meninggal di kamar kosnya karena sakit. Padahal dia tinggal wisuda aja.

Diantara almarhum yang lain, aku sedikit tahu lebih banyak tentang Mas Izzudin. Dia adalah cowok dengan perawakan kecil, rambut gondrong, dan agak angkuh meskipun ganteng juga sih. Ehehe. Dia juga satu jurusan denganku, tapi angkatan 2011. Oh iya, dia juga ketua Mediasi 2012 -itu adalah nama lain dari ospek jurusanku- dan anggota nggak aktif MAHAFISIPPA (Mahasiswa FISIP Pecinta Alam).

Aku jadi ingat cerita salah satu temenku, Rani, tentang Mas Izzudin. Kalo nggak salah kejadiannya waktu itu setelah HIMAKOM –Himpunan Mahasiswa Komunikasi- mengadakan sosialisasi tentang Mediasi. Rani ketemu sama dia terus iseng-iseng nanya ke Mas Izzudin,”Mas panitia juga ya?” Kamu tahu jawaban apa yang diberikan oleh cowok itu? Katanya,”Ketua.” Aku bisa membayangkan gimana wajah Mas Izzudin waktu mengatakannya. Datar-datar menyebalkan gitu. Haahahaha. Rani nggak bisa bilang apapun kecuali,”Wow.” Beneran lho, dia bilang wow sama Mas Izzudin. Aku sama temen-temen yang lain ketawa ngakak waktu Rani cerita tentang obrolan super singkatnya dengan Ketua Mediasi 2012 itu.

Sekarang, Mas Izzudin udah pergi. Temen-temen dan keluarganya pasti nggak nyangka kalau mereka akan ditinggalkan secepat itu. Nggak cuma keluarga dan temen-temannya Mas Izzudin, tapi juga Mbak yang jatuh dari motor, Mbak Ria, dan kakak tingkat yang mau wisuda tadi. Yah, mereka masih menyandang status mahasiswa dan sangat mungkin masih punya banyak mimpi yang belum tercapai. Pasti sakit banget ya rasanya kehilangan orang yang disayangi untuk selamanya? Ah, bukankah aku nggak perlu memperjelasnya? Patah hati gara-gara ditinggal orang yang disayangi aja udah bikin nangis terus dan nggak nafsu makan berhari-hari. Gimana pula dengan yang bener-bener ditinggalkan buat selamanya? Pasti lebih buruk dari itu. Yang bisa dilakukan sekarang cuma berusaha mengikhlaskan dan menyimpan kenangan-kenangan yang telah dilalui bersama dengan sebaik-baiknya.

Saat ini, aku nggak merasakan apapun atas perginya kakak-kakak tingkatku itu. Merasa simpati sih iya. Tapi untuk merasakan hal aku tuliskan di paragraf sebelum ini, enggak. Mungkin kalau sebelumnya aku udah kenal mereka aku akan merasakan hal yang berbeda.

Setelah menulis sampai disini, aku jadi bertanya-tanya bagaimana kalau
dalam waktu dekat ini aku juga meninggal. Bagaimana orang-orang di sekitarku akan mengenangku setelah aku pergi? Apakah mereka akan merasa sangat kehilangan sampai nangis darah dan mohon pada Allah untuk mengembalikanku ke sisi mereka? Ataukah nggak akan ada perasaan apapun di hati mereka seperti yang kurasakan terhadap kakak-kakak tingkatku yang meninggal itu? Apakah orang-orang yang telah mengenalku akan mengenangku sebagai orang yang baik atau malah sebaliknya? Ah, tentu saja pertanyaan itu baru akan terjawab kalau mati mendatangiku nanti, entah kapan. Semoga nggak benar-benar dalam waktu dekat aja. Masih ada banyak hal yang ingin kulakukan.

Kata Gie, beruntunglah mereka yang mati muda. Kataku, beruntungnya mati muda itu kalo udah menjadi bermanfaat bagi orang lain, syukur-syukur bagi tanah air. Kalo nggak, hah, apa untungnya coba mati muda dan dilupakan begitu saja? Gie sih memang beruntung. Mati muda dan sampai sekarang masih juga dikenang-kenang. Tapi, kurasa yang paling beruntung adalah mereka yang diberi kesempatan untuk mati dengan menyebut nama Tuhannya, berapapun umurnya. Tentu saja untuk bisa mati seperti itu butuh usaha ekstra keras juga.

Ah, urusan mati memang penuh misteri. Nggak ada seorang manusiapun tahu kapan kematian akan menjemputnya. Entah setelah aku menulis postingan ini, setelah kamu membaca postingan ini, atau sekarang juga. Nggak ada yang tahu. Kalau saja boleh meminta, aku ingin mati ketika semua kewajibanku sudah kutunaikan, termasuk zakat fitrah di hari raya Idul Fitri. Aku ingin mati ketika aku sudah bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Aku ingin mereka tersenyum ketika mengenangku karena ingat bahwa aku pernah menjadi berarti bagi mareka. Aku ingin tetap hidup di hati mereka meskipun aku udah mati nanti.

Aku benar-benar takut kalau ada orang yang bahagia karena kematianku. Kalau nggak gitu, aku dilupakan begitu saja setelah mereka mengantarku ke pemakaman atau setelah mereka mendengar berita kematianku. Ah, kalau itu benar-benar terjadi, bukankah kamu bisa membayangkan orang seperti apa aku ini? Hanya orang-orang yang nggak ada baik-baiknya yang begitu mati dilupakan begitu saja. Aku nggak pengen kayak gitu. Aku benar-benar nggak menginginkannya.

Hah, baiklah. Kita cukupkan sampai disini saja ya ngobrol tentang matinya. Oh ya. Sekali-kali, kita perlu juga lho mengingat mati. Biar jadi motivasi memperbaiki diri. Yah, aku rasa, satu hal yang harusnya kita syukuri banget diantara  seluruh nikmat-Nya adalah jantung yang masih diizinkan-Nya berdetak meskipun kita mungkin udah melakukan banyak kerusuhan atas hidup yang telah diberikan-Nya ini. Kalau nggak, mana bisa kita melakukan banyak hal dan bersyukur untuk yang lain-lain?

Hidup cuma sekali, hiduplah yang berarti.

Komentar

  1. Im, aku baru tau kalo mas udin yg meninggal itu mas Izzudin yg ketua mediasi itu. Dan aku syokkk abiss setelah baca tulisanmu. -_-

    BalasHapus
  2. Emang yang itu raaan ... yang kamu wow-in -__-

    BalasHapus
  3. kau tahu, saat aku membaca ini, itu tepat ketika aku merasa seperti itu.
    mana tiba-tiba pula, gaada angin gaaada petir langsung kebayang bayang. ya Allah, ini urusan aku di dunia belum kelar :'

    untuk yang masalah kronologinya itu, aku tau infonya ._.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer