Semua yang Berlalu


2 Januari 2013

Hari ini 2 Januari 2013. Hampir dua hari sejak pergantian tahun. Seharusnya aku menulis sesuatu disini kemarin, kan pas gitu momennya kalo tanggal satu. Tapi, apa hendak dikata, karena kelelahan begadang semalaman suntuk, aku jadi malas menulis. Lagipula, kemarin aku nggak tau mau menulis apa. Maksudku, ide itu harus mengedap dulu di otakku selama beberapa lama sebelum aku dapat menuliskan sesuatu tentangnya. Atau kalau nggak dalam keadaan aku bener-bener pengen menulis, aku pasti nggak akan bisa menulis apapun. Begitulah.

Jadi, hari ini 2 Januari 2013. Aku sedang berada di Elex Comic Center, nggak tahu alamatnya dimana. Aku sudah memberitahumu kan, kalau aku ini masih buta jalanan kota Solo? Padahal sudah hampir setengah tahun aku kuliah disini -_- Oke, kita tinggalkan jalanan kota Solo dan mari kembali kesini, tempat dimana terdapat banyak rak yang berisi komik-komik yang seharusnya membuatku sangat semangat membacanya. Tapi, keinginanku untuk menulis jauh lebih kuat sekarang. Hohoho. Temanku sedang asyik membaca Eyeshield dan seorang cewek bergaun putih dan bercardigan ungu juga asyik membaca entah apa. Dia di belakangku sih, masa aku harus nengok-nengok ke belakang dan bilang, “Maaf Mbak, bisa liat cover komiknya bentar nggak? Mau aku tulis di blogku nih.” Jadi, ditemani lagu kenangan yang mengalun dari radio di tempat Mbak-Mbak atau Mas-Mas seharusnya duduk mengawasi ruang baca ini, aku akan menulis tentang … Entahlah, silahkan baca saja (aku benar-benar nggak tahu manu menulis apa-_- Rasanya menyenangkan saja menulis di tempat ini).

So, jadi, begini, well, pada jaman dahulu kala, pada suatu ketika … ah sudahlah.

Temanku yang hari ini memakai kaos polo berwarna coklat masih khusyuk sekali dengan Eyeshieldnya. Dia baru saja tertawa tertahan karena bacaannya itu. Mbak-Mbak di belakangku entah melakukan apa, aku nggak mau nengok-nengok lagi ah (aku tadi melakukannya, tapi nggak untuk menanyakan pertanyaan yang aku tulis tadi lho), nanti dikira naksir lagi. Dan aku duduk di tengah-tengah ruangan beralaskan karpet yang biasa dipake di tempat bermain anak-anak TK, jari-jariku menekan keyboard, tapi aku nggak benar-benar tahu mau menuliskan apa. Aku sudah memberi tahumu bukan?

Well, hari ini 2 Januari 2013, hampir dua hari sejak pergantian tahun, dan … Lho, ini sudah tahun 2013 ya? Aaaa serius nih udah 2013? Kok rasanya 2013 itu aneh banget ya? Nggak sekeren 2012 ah. Oiya, yaah .. Nggak akan lagi ada tanggal kembar tiga sekaligus dong. Kalo kemaren kan ada 12-12-12, tahun ini nggak ada 13-13-13 dong. Kecuali ada satu bulan tambahan setelah Desember, Naimber ahahahaha. Oke, aku tahu ini nggak lucu. Aku juga nggak ketawa kok waktu menulis ‘ahahahaha’ itu.

Aku jadi ingat apa yang kulakukan sebelum balik ke Solo kemarin lusa. Aku membuka-buka kembali buku diary lamaku. FYI, aku punya lima diary lebih deh kayaknya, belum termasuk tulisan-tulisan yang kadang aku selipkan di buku catatanku sewaktu SMA. Well, melalui diary-diary itu, aku melihat aku yang dulu.


Mulai dari waktu SMP yang sok dewasa banget dan masih terbayang-bayang akan cinta monyetku, lalu masa menuju kedewasaan yang ditandai dengan bahasa Alay semacam gini menjedi ne, aku menjadi au, -nya jadi x aja, gitu-gitu deeh. Aku bahkan sempat ber-SMS ria dengan teman-temanku tanpa menggunakan spasi, pergantian kata cuma ditandai dengan huruf kapital saja. Contoh: IniAnakAlayBangetDeh, NieAnkAlayBwgtDweh. Sebelum itu, gaya ber-SMSanku adalah dengan menggunakan huruf kapital dan enggak kapital yang diselang-seling –yang ini tetep ada spasinya-. Contoh: NicH anK aLaY BwgT dWeeH . . . Jangan salah, aku pikir semua remaja Indonesia pernah mengalami masa-masa alay ini. Kalo nggak, mereka nggak akan tumbuh sehat, cerdas, dan ceria seperti sekarang ini. Bener lho. Sekarang saja aku masih bisa ketawa ngakak kalo bernostalgia tentang zaman alay dulu sama temen sekamar kosku, Rizki –dia cewek-.

Aku punya tiga diary sewaktu SMP. Yang satu berwarna merah, tebal berharga Rp21.000,00 –(iya, emang segitu kok. Kalo soal harga aku memang ingat banget -_-), satu lagi buku tulis SIDU setebal 58 halaman, dan yang terakhir diary mungil berwarna biru hadiah ulang tahun dari teman-teman terbaik pertamaku. Diaryku waktu SMA lebih romantis lagi. Aku punya dua diary waktu itu, yang satu bersampul hitam ghotic gitu, satunya lagi mungil bermotif Winnie The Pooh. Oh iya, ada satu lagi diary berwarna merah yang dihadiahkan oleh teman-teman  terbaik pertamaku. Diary kedua dari mereka. Ah, mereka memang ngerti banget kalo aku kalap kalo soal menulis. Kayaknya, mereka nggak perlu berpikir dua kali untuk kembali memberikan diary sebagai hadiah ulang tahunku.  Aku memutuskan untuk menulis kepada mereka di diary itu. Suatu hari, aku ingin mereka membacanya dan mengetahui kalo mereka ini tetep aja istimewa di hati, gimanapun keadaannya.

Setelah puas membaca-baca diary lamaku, aku merasa ilfeel dengan aku yang dulu, kok bisa-bisanya aku kayak gitu, terus tersenyum lagi ketika menemukan tulisanku yang tumben bijak, ketawa-ketawa sendiri, dan pada akhirnya aku kembali ke masa-masa dahulu. Masa dimana … Ah sudahlah, puitis lagi jadinya ntar -_- well, yang benar-benar ngena di hatiku setelah membaca rekaman hidup selama empat tahun terakhir adalah … Betapa semuanya telah berubah. Orang-orang yang kusebutkan di diaryku yang pertama sebagian tak ada lagi di diaryku selanjutnya. Meskipun begitu, tetap saja di sebagian tulisanku aku mengenang mereka kembali, menulis ulang apa yang sudah kualami dengan mereka yang mungkin telah hilang sekarang.

Berbagai hal telah terjadi di hidupku selama empat tahun terakhir. Orang-orang datang silih berganti, dan hati pun semakin penuh terisi. Semua hal itu, baik yang sederhana maupun yang luar biasa, akan selalu abadi di hati, menjadi kenangan masa lalu yang nggak akan pernah lekang oleh waktu. Kalau dulu mengenang beberapa orang terasa menyakitkan, sekarang mengenang semuanya benar-benar melegakan. Hahahha aku bahkan tersenyum ketika menuliskan ini. Genjes, Ikanov, Nia, Niken, Tito, Mega, Drian, Chamim, Encil, Pipit, Agis, Mas Anton, Mas Samsul, Mas Deby, Mbak Risa, Anggie, Evi, Fida, Ipma, Mufid, SMP Negeri 1 Ponorogo, PRAZA, SMA Negeri 1 Ponorogo, Ganesha Pala, Ganesha Rovers, ah … pokoknya semuanya deh. Aku nggak akan mungkin bisa menuliskan semua tentang kalian disini. Aku pasti akan mengingat dengan baik semua tentang kita kalau aku membaca tulisanku ini. Kayaknya, nama kalian udah berkali-kali muncul di diaryku deh. Bahkan di sela-sela hidupku yang sekarang, kalian masih aja ada. Yah, meskipun yang ada tinggal kenangannya sih.

Aku senang mengenang masa lalu. Aku bahkan melakukannya berulang-ulang. Jangan berpikiran kalau aku gagal move on lho. Lihat doong blog yang kece badai ini adalah bukti akurat bahwa aku telah jauh berubah dari sebelumnya –meskipun tinggiku tetep segini aja-.  Aku sama sekali nggak berpikir ini hal yang buruk kok. Maksudku, mengenang masa lalu. Bahkan, ketika aku mengingat hal-hal itu kembali, aku bahkan menemukan sesuatu yang baru lagi setelahnya. Jadi, antara momen mengenang yang satu dan yang lainnya tuh beda. Sama ketika kamu berkunjung ke rumah nenekm setelah sekian lama nggak kesana, penghuni rumah beliau tetap sama, tapi tentu saja kamu akan menemukan hal-hal berbeda disana. Entah rumahnya yang direnovasi, apapun … Yah, kayak begitulah mengenang masa lalu itu. Kayak berkunjung ke tempat yang udah lama nggak kita datangi, memang semuanya masih tetap sama, namun kita akan selalu mendapatkan pemahaman-pemahaman, pengertian, dan pelajaran yan sama sekali baru setelah dari sana.

Jadi, hari ini 2 Januari 2013. A new year has begun. I’m coming, world! Sambut aku dengan gembiraaa!! :D


From Solo with love,
Na’im

Komentar

Postingan Populer