Bermain
Hai kamu! Sore ini aku senang sekali! Kamu tahu kenapa?
Nggak tahu kaaan? Mau tahu nggak? Mau tahunya mau tahu aja apa mau tahu banget?
Hehehe saking senangnya alayku sampai kumat begini. Well, sore ini aku
tumben-tumbennya dengan senang hati menjaga adikku sembari ibuku melakukan
kebiasaannya di sore hari: membereskan mainan adikku yang berantakan,
memanaskan air untuk adikku mandi, mandi, lalu sholat ashar. (Kegiatan itu
selalu menyita waktu sampai lebih dari jam empat sore. Karena itu, aku harus
bisa mengalihkan perhatiannya dari ibuku supaya beliau bisa fokus dengan
pekerjaannya. Ternyata begini ya jadi kakak itu. Untung aku jadi kakaknya pas
udah 17 tahun. Jadi aku masih bisa menikmati masa labilku dengan tenang huahahahhhaha.)
Seperti biasa, aku menemani adikku bermain di rumah
tetanggaku. Sore-sore begini, anak-anak di lingkungan rumahku biasa bermain
bersama. Kalau nggak di rumah tetanggaku
yang berhalaman cukup luas itu, mereka akan main ke rumahku dan berbuat rusuh
di ruang tengah (basa Jawane neng njogan).
Biasanya aku males banget kalo udah melihat mereka bermain dan mendengar suara
gaduh yang mereka timbulkan. Tapi, hari ini nggak sama sekali.Sembari mengawasi
adikku yang sedang asyik dengan mainannya, aku dengan senang hati
berpartisipasi dalam permainan anak-anak itu.
Pertama, kami bermain plek-plekan. Itu semacam bermain kartu
bergambar –ada banyak seri seperi Spiderman,
ninja saga, dan sebangsanya, lalu di atas gambar itu ada angka 1 sampai 32 yang
dikelilingi empat macam deskripsi gambar yang salah satunya berwana merah untuk
menunjukkan apa yang sedang dilakukan tokoh dalam kartu itu. Ah, susah sekali
mendeskripsikannya. Pokoknya gitu deh- yang dimainkan oleh dua orang dengan
cara tos sambil masing-masing tangan memegang satu kartu. Setelah tos, kami
membiarkan dua kartu bergambar itu jatuh. Nah, kartu siapa yang ketika jatuh
gambarnya menghadap ke atas dialah yang menang.
Setelah itu, kami bermain petak umpet. Yak, petak
umpet saudara-saudara! Permainan favorit kita semasa kecil! Kamu merindukan
permainan itu? Huahahha selamat kangen lho ya. Aku sih udah kesampean kangennya
tadi :P
Setelah petak umpet, masih ada satu permainan lagi
yang kami lakukan. Coba tebak apa? Play Station?
Play Station 2? Play Station 3? Ngegame di laptop? Liat orang main game di tipi?
(?) Semua permainan jaman sekarang mah lewaaaat ... Kami main palang merah
saudara-saudara! Oh, jangan salah sangka. Kami bukannya main drama ngobatin
orang luka lho. Permainan yang disebut sebagai palang merah disini ini kurasa
kayak gobak sodor deh. Aku bingung mendeskripsikannya. Pokoknya, aku menggambar
bangun seperti di bawah ini di permukaan tanah:
![]() |
| Gambar ini dulu sebelum main palang merah :D |
Habis itu, kami perlu sebuah benda yang datar untuk
digunakan dalam permainan ini. Ukurannya kecil aja sih, biasanya segede sebuah keripik
kentang Lays. Biasanya kami
menggunakan pecahan genting sebagai interpretasi atas deskripsi “sebuah benda
datar yang ukurannya kecil” ini. Lalu, kami pun bermain secara bergantian. Cara
bermainnya adalah kamu melemparkan pecahan genting yang kamu punya ke kotak
pertama, lalu tanpa menginjak kotak yang isinya pecahan gentingmu, kamu mulai
bermain sesuai aturan yang berlaku. Di kotak pertama (yang terbagi menjadi dua
itu), kamu harus ... aduh bahasa Indonesia untuk ingkling apa ya? Pokoknya melompat dengan satu kaki aja. Lalu, kamu
menginjakkan kaki kirimu di kotak paling tengah dan kaki kananmu di kotak
sebelah kanan. Setelah itu, kamu pindah ke kotak selanjutnya dengan cara memindahkan
kaki kirimu (yang tadi ada di kotak paling tengah) ke kotak yang sebelumnya ada
kaki kananmu di dalamnya. Nah, waktu kaki kirimu pindah, kaki kananmu harus
kamu angkat. Begitu terus sampai kamu menginjak seluruh kotak mengelilingi
kotak paling tengah, baru kamu bisa
menginjakkan kedua kakimu di tanah. Enggak ingkling lagi. Huehehe. Nah, kalo udah nyampe situ, kamu ingkling lagi ke kotak pertama, ngambil
pecahan genting yang kamu letakkan di bagian kotak yang pertama tadi tanpa
menurunkan kakimu. Kalo kamu udah berhasil mengambilnya, kamu lempar, lalu kamu
injak deh itu pecahan genting. Nah, gitu cara mainnya sampai genting kamu
sampai di kotak yang paling tengah.
Eh. Ehm. Kamu paham nggak?
Aduh, maaf ya kalo deskripiku malah membingungkanmu.
Yah, pokoknya aku sungguh menikmati sore ini. Aku nggak
tahu kapan aku merasa sesenang ini sebelumnya. Maksudku, memainkan permainan
masa kecilku dan merasa begitu ... bebas. Tanpa beban. Bahagia. You know what? Mereka, anak-anak ini, sungguh
membangkitkan semangat. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang hanya
mengenal bahagia, yang akan segera bangun tanpa pikir panjang ketika terjatuh,
yang menyambut masa depan tanpa menoleh lama-lama ke belakang.
Ah, aku sungguh ingin melakukan ini lagi lain kali.
Peduli amat sama usia. Huahaha. Konyol ya, yang kulakukan ini? Aku beneran jadi
yang paling tua lho tadi. Kamu juga harus mencobanya sekali-kali kalau ada
kesempatan. Lakukan dengan sepenuh hati, lalu kamu akan benar-benar mengerti. Sungguh
berbeda belajar dari apa yang orang lain tulis untukmu dan kamu mengalaminya
sendiri.
PS.
Betapa permainan tradisional ini masih tetap terjaga meskipun sudah enam tahun berlalu sejak masa kanak-kanakku. Semoga anak-anak generasi selanjutnya tetap melestarikan budaya bangsa ini. Yak, ini budaya bangsa, men. Petak umpet (dhelikan), palang merah (disini disebut begitu), jamuran, dan semua permainan masa kecil kita itu. Semoga nggak hilang ditelan kemodernan. Uhuhuk. Semoga anak-anak kita nanti masih bisa merasakan senangnya memainkan permainan yang gratis, sehat, dan nggak ada duanya di dunia ini. Aamiin. Al-Fatihah ...
Betapa permainan tradisional ini masih tetap terjaga meskipun sudah enam tahun berlalu sejak masa kanak-kanakku. Semoga anak-anak generasi selanjutnya tetap melestarikan budaya bangsa ini. Yak, ini budaya bangsa, men. Petak umpet (dhelikan), palang merah (disini disebut begitu), jamuran, dan semua permainan masa kecil kita itu. Semoga nggak hilang ditelan kemodernan. Uhuhuk. Semoga anak-anak kita nanti masih bisa merasakan senangnya memainkan permainan yang gratis, sehat, dan nggak ada duanya di dunia ini. Aamiin. Al-Fatihah ...
Btw, kamu dulu biasa memainkan apa waktu kecil? :D


Komentar
Posting Komentar