Bersinarlah, Vie!


            “Bersinarlah, Vie! Seperti mentari yang selalu membagi hangatnya pada semua makhluk di bumi. Bersinarlah, Vie! Seperti lampu jalanan yang bersinar di kegelapan saat bulan tak ada. Bersinarlah, Vi ....”
            “Renggaaa!! Shut up, please ... Lo bisa nggak, bikin puisi yang normal gitu? Tugas ini harus gue kumpulin besok dan lo sama sekali nggak membantu,” sungut Victoria Aprill. Dia meletakkan buku paket Bahasa Indonesianya di meja dengan bunyi berdebam yang keras.
            “Ini kan bukti cinta gue ke lo, Ratuku.” Aku berlagak layaknya seorang penyair memuja kekasihnya.
            “Bawel lo! Udah ah, lo pulang gih. Udah malem juga”
            “Yaelah, Vie. Kayak gue nggak pernah kesini aja jam segini udah disuruh pulang,” dalihku padanya. Aku masih ingin berlama-lama dengan ratuku ini.
            “Eh, Ngga. Gue mau curhat”
            “Heh? Curhat apaan? Tumben mau curhat pake ijin segala”
            “Gini, Ngga. Ini soal ... “
            Belum sempat Victoria Aprill mengutarakan isi hatinya, mamanya datang tergesa-gesa. “Rengga, handphone kamu mati, ya? Tadi mama kamu telepon. Papa kamu sakit lagi. Kamu disuruh ke rumah sakit sekarang.” Aku terkesiap mendengar kata-kata mamanya Vie. Apa mungkin penyakit jantung papa kambuh? Aku memandang Vie.
            “Vie, sori ya ... Kayaknya gue nggak bisa ....”
            “Iya Ngga, nggak apa-apa. Lo mau gue temenin?” Vie balik bertanya.
            “Nggak usah, Vie. Udah malem. Gue balik, ya. Tante, Rengga pamit”
            “Hati-hati, Ngga. Salam buat ibu kamu ya.”
            “Iya tante.” Aku beranjak dari ruang tamu keluarga ini. Vie mengantarku sampai depan pintu. Sebelum masuk ke mobilku, aku memandangnya wajahnya sekilas. Sinarnya redup, namun dia tetap tersenyum padaku. Kulambaikan tanganku lalu segera mengemudikan mobilku ke rumah sakit tempat papa dirawat. Di sepanjang perjalanan aku masih mengira-ngira apa yang akan disampaikan Vie padaku tadi.
***

            Pagi ini cerah. Aku masih bisa mencium bau hujan semalam. Tapi bukan itu yang penting sekarang. Aku sedang mencari ratuku, Victoria Aprill. Inginku minta maaf karena jarang menghubunginya seminggu ini. Aku harus bergantian dengan mama menjaga papa di rumah sakit. Untunglah sekarang keadaan papa sudah pulih. Anyway, dimana sih Victoria Aprill itu?
            “Ratuu! Ooooi!” aku yakin cewek berseragam abu-abu yang tengah duduk menghadap lapangan basket itu tidak sedang mengalami gangguan pendengaran. Tidak biasanya dia diam saja kalau aku panggil dengan sebutan ratu.
            “Ratuuu!! Woooyy!!” kali ini aku berteriak di sebelah kupingnya. Mustahil dia tidak akan marah dengan kelakuanku ini. Tapi ternyata memang tidak terjadi apapun. Victoria Aprill tidak marah aku teriak-teriak di sebelah kupingnya! Wow! Ini pasti ada yang salah. Aku melambai-lambaikan tanganku di depan wajah cewek imut itu lalu menempelkan punggung tanganku di dahinya. Tidak panas, kok.
            “Rengga apaan, sih?!”
            “Lo kenapa, sih Vie?” aku duduk di sampingnya, mengikuti pandangan matanya ke lapangan basket. Beberapa cowok tengah berebut memasukkan bola ke ring.
            “Vie? Lo baik-baik aja, kan?” tanyaku lagi. Tak ada jawaban. Sepertinya aku dianggap angin sama cewek ini. “Woooy Ratu jeleeek! Lo kenapa, sih?!”
            “Ngga, lo bisa diem nggak sih?! Suara lo bakal bikin bekteri di telinga gue berkembang biak 500 kali lebih cepat, tahu!”
            “Hah? Lo ini ngomong apaan sih, Vie? Nggak biasa-biasanya ada bakteri dalam kosakata lo?” aku bertanya bego. Tapi beneran kok, biasanya kata-kata yang keluar dari mulut cewek yang saklek sama warna ungu ini adalah tentang artis-artis pendatang baru di Indonesia maupun Hollywood. Sekarang dia ngomong tentang perkembangbiakan-bakteri-di-telinganya? This’ really not she is.
***
            “Ratuu! Main, yuk!” aku melongok ke dalam kamar Victoria Aprill yang serba berwarna ungu. Tidak kulihat tanda-tanda kehidupan di dalam sini. AC dibiarkan hidup dan ... Wow! Tumben kamar ini rapi. Aku mengambil majalah yang tergeletak di meja belajar dan mulai membaca.
            “Lho, Rengga? Ngapain lo disini?” Victoria Aprill muncul entah dari mana. Aku memperhatikan penampilannya.
            “Lo pake apaan tuh, Vie?”
            “Hahaha! Bego lo, Ngga. Ini masker. Biar kulit gue tetep cantik dan halus. Kalo gue jadi jelek mana ada tawaran jadi model datang ke gue?”
            “Hah?” hah? aku mengulang kata itu dalam hati. Sejak kapan cewek ini peduli dengan   jelek dan model?
            “Kalo nggak sekarang kapan lagi, Ngga? Gue nggak mau jadi model angin-anginan terus. Mumpung masih muda kita harus memaksimalkan potensi yang  ada dalam diri kita dong. Iya, nggak?” sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan isi hatiku dan dia menjawabnya.
            “Terserah, deh! Tapi ini hari Minggu dan jadwalnya lo main sama gue. Yuk! Gue mau ajak lo ke suatu tempat”
            “Duh, maaf ya Ngga ... Hari ini aku nggak bisa main sama kamu. Ada pemotretan, nih. Maaf yaa, maaf!” katanya dengan wajah memelas. Aku kecewa mendengar jawabannya. Setelah sekian lama mengenal dia, baru kali ini aku jadi nomor dua setelah model.
            “Oh, it’s okay. I have to go now. Sukses ya, Vie ....” aku berusaha tersenyum sebelum keluar dari kamarnya.
***
            Aku menganggap keanehan yang terjadi pada Vie akhir-akhir ini adalah karena PMS. Biasalah, cewek kalau sudah waktunya kedatangan tamu bulanan kan suka marah-marah. Mungkin dengan mengajak Vie melakukan hobinya akan membuatnya lebih baik. Aku menghampirinya di pinggir lapangan. Dia tengah duduk melamun di bangku penonton. Kebiasaan.
            “Yohoo ... Ratuu! Main basket, yuk!” ajakku sambil memainkan bola basket dengan tanganku.
            “Ogah ah, item ntar kulit gue,” jawab Victoria cuek.
            “Hah? Sejak kapan lo peduli sama kulit item?” tanyaku heran. Aku tidak jadi bermain basket dan melemparkan bola ke lapangan. Teman-temanku langsung menangkapnya kemudian asik bermain basket.
            “Ya sejak sekarang. Sebagai seorang model, gue nggak mau melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa merusak aura kecantikan gue. Hohoho,” jelas Vie sambil tertawa aneh.
            “Terserah lo, deh! Ke kantin yuk, laper gue denger omongan lo,” aku berdiri dan berjalan menuju kantin. Tidak kudengar langkah kaki mengikutiku. Lama-lama aku geram juga pada keanehan cewek imut itu. Aku berbalik.
            “Ayo!” Victoria Aprill berjalan ke kantin mendahuluiku.
            “Lo nggak makan?” aku duduk di depannya dan meletakkan sepiring gado-gado serta segelas besar es teh di meja.
            “Nggak,” jawabnya pendek.
            “Hei, Ratu. Lo ini kenapa, sih? Aneh banget lo sumpah. Asli, pasti lagi sakit ya lo?”
            “Nggak”
            “Ada masalah?”
            “Nggak”
            “Patah hati ya?” padahal cowoknya kan aku.
            “Nggak. Kan cowok gue itu lo”
            “Mmm ... PMS?”
            “Nggak”
            “Terus? Lo kenapa sih? Nggak biasa-biasanya lo kayak gini. Tau deh gue. Pasti lo kangen sama gue yang romantis. Iya kan? Iya kan?” aku mencoba menggodanya. Kali aja dia akan tertawa keras seperti biasanya.
            “Yee GR lo!” katanya hambar. Dia tidak tertawa. Wajahnya malah semakin keruh. “Ngga, kita temenan aja ya? Kayaknya gue lebih nyaman gitu”
            “Hah?”
            “Gue pergi dulu,” dia beranjak dari bangku tanpa memberikan penjelasan apa-apa.
            “Vie, tunggu!” dia terus berjalan tanpa menghiraukanku. Ada apa sih, ini? “Apa lo liat-liat?!” gertakku pada penghuni kantin yang heran melihatku dan Victoria Aprill barusan.
***
            Setelah insiden di kantin hari itu, rasanya aku semakin jauh dari Victoria Aprill. Ketika berkunjung ke rumahnya, mamanya mengatakan bahwa dia sedang pemotretan. Kali lain, dia sedang wawancara. Kali yang lain lagi, dia sedang fitness. Sudah dua bulan lebih aku tidak berhubungan dengannya. Selama itu, kalaupun aku bisa bertemu dengannya, aku tak pernah punya cukup waktu untuk benar-benar bicara padanya, menanyakan apa yang sedang terjadi dengannya. Dia jarang sekolah, tidak lagi bermain basket, tidak lagi memintaku mendengarkan aransmen lagu-lagu barunya, tidak lagi bercerita tentang Justin Bieber atau Chris Evans atau Avenged Sevenfold. Dan yang lebih mengenaskan, dia tidak lagi mengomeliku karena aku sering memanggilnya dengan sebutan Ratu. Lagian, mana bisa aku memanggilnya Ratu kalau aku sendiri sangat jarang bertemu dengannya? Sekarang, dia malah lebih sering aku temui di cover-cover majalah, di rubrik fashion yang sedang ngetrend, atau di kolom wawancara dengan judul “Victoria Aprill, Model Bertalenta Terbaik 2011”. Selama dua bulan ini, karirnya terus menanjak. Dia jadi idola. Semua orang memujanya ketika dia tiba-tiba muncul di sekolah, tapi aku muak melihatnya seperti itu. Dia tersenyum, tapi aku bisa melihat sorot kesedihan di matanya. Dia tertawa, tapi aku bisa merasakan ketidaknyamanannya menjadi seperti ini.
            Hari-hari tanpa dia sungguh sangat menyebalkan. Panggilan yang datang ke hapenya selalu dialihkan dan SMS-ku tidak pernah dia balas. Ini bukan tentang dia memutuskan hubungan kami. Yah, meskipun itu cukup sakit, sih. Tapi melihatnya bukan seperti dirinya seperti ini membuatku lebih sakit. Dan ngomong-ngomong, aku kan orang terdekatnya sejak sebelum kami dilahirkan? Jadi aku harus tahu ada apa dengannya.
            “Permisi Tante, Vie ada?”
            “Oh, Rengga. Silahkan masuk. Aprill lagi menanam bunga tuh”
            Aku berjalan menuju kebun bunga di belakang rumah besar ini. Bau harum bunga-bunga memenuhi penciumanku. Victoria Aprill tampak sedang sibuk menanam semacam mawar di petak yang kosong. Aku berdeham. Cewek tinggi itu masih belum menyadari kehadiranku.
            “Wah, Ratu nanam bunga nih, yee ... Tumben,” celetukku, berharap aku akan mendapatkan perhatiannya kali ini.
            “Eh, lo Ngga. Tumben kesini. Ada apa?” tanya Victoria Aprill. Dia duduk di sampingku setelah mencuci tangannya.
            “Yee .. Lo tuh yang tumben ada di rumah. Gue tiap hari nyariin lo tau!” aku menoyor kepala cewek itu gemas. Well, finally aku ketemu dia!
            “Hahaha! Masa sih?”
            “Lo sih, sok sibuk mulu!” kataku pura-pura marah.
            “Hahaha! Sialan lo!”
            “Lo kemana aja sih, Vie? Lo kenapa?” aku tidak bisa menahan rasa penasaranku lagi, ingin tahu alasan cewek ini menjadi sangat menyebalkan dua bulan terakhir ini.
            “Gue ... Gue capek, Ngga,” katanya lirih. Aku memandangnya, namun tidak bertanya kenapa. “Semua kesibukan ini nggak seperti gue. Gue nggak nyaman sama semua ini. Ini ... Nggak gue banget”
            “Kalo lo nggak nyaman kenapa masih lo terusin?”
            “Nyokap gue yang minta, Ngga. Lo tau kan gimana sifat nyokap gue? Kata nyokap, gue udah gede sekarang. Gue punya potensi dan seharusnya gue maksimalin itu semua. Nggak cuma buat gue mainin kayak selama ini. Beliau bener dan waktu itu gue nggak bener-bener tau apa yang gue pengenin. Jadinya, gue ngikut aja apa maunya nyokap. Dan sekarang gue capek! Tapi, kalo gue berhenti disini, gue pasti bakal ngecewain nyokap gue. Dan ... Dan semua yang udah gue dapet sekarang bakal ....” Vie tidak melanjutkan ceritanya. Tampaknya dia berusaha keras agar matanya tidak meneteskan air mata. “Semua orang udah bangga sama gue sekarang, Ngga,” kata Vie lirih.
            “Hahaha! Ini beneran lo, Vie?”
            “Hah? Rengga, apaan sih? Dicurhatin malah nertawain. Nggak asik!” walaupun sebagian besar orang jadi jelek waktu cemberut, Victoria April tetap saja cantik meskipun bibir tipisnya itu melengkung ke bawah. Aku mengelus lembut kepalanya.
            “Lo mau denger cerita, nggak?”
            “Yah, Rengga gimana, sih? Dicurhatin malah mau cerita”
            “Hahaha! Pokoknya lo harus dengerin gue.” Tak punya pilihan, Victoria Aprill bertumpu pada kedua lututnya dan memperhatikanku.
***
            6 tahun yang lalu.
            “Wooy! Kalo lo berani macem-macem sama temen gue, mati lo!”
            “Lo siapa, hah?! Belagu banget mau nglawan gue?!” cowok tinggi besar itu berbalik menghadap Victoria Aprill. Tanpa banyak berkata, Vie langsung menonjok hidung cowok itu sampai berdarah. Cowok itu berusaha bangun dan memukul Vie. Namun, Vie lebih sigap. Sebelum kepalan tangan cowok itu menyentuh wajahnya, Vie sudah menendang dada cowok itu. Tak ayal, tubuh bongsor itu kembali terjatuh. Ternyata ekskul tae kwon do yang diikuti Victoria Aprill itu berguna juga di saat genting seperti ini. Menyadari lawannya lebih kuat, cowok itu langsung kabur. Melihat larinya yang sempoyongan begitu, dia pasti mabuk.
            “Lo nggak apa-apa kan, Lis?” Vie menghampiri cewek yang gemetar ketakutan itu. Ternyata dia adalah Lisa, teman kami.
            “Nggak apa-apa, makasih ya”
            “Ratuuu! Lo nggak apa-apa, kan?” aku berlari ke arah mereka berdua.
            “Kemana aja lo, Ngga?”
            “Sori. Beli minum gue tadi. Nih!” aku menyodorkan sebotol softdrink pada Lisa. Dia menerimanya dan segera minum banyak-banyak.
            “Makasih ya, Vie. Rumah aku udah deket kok. Aku duluan, ya!” pamit Lisa pada kami di persimpangan jalan.
            “Oke. Hati-hati.” Pesan Victoria Aprill. Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan tetap menuntun sepeda.
            “Gue nggak tau kalo lo sekuat itu, Vie”
            “Dari dulu kali. Hahaha! Lo sih nggak peka!”
            “Kenapa lo nggak kayak cewek-cewek yang lainnya aja, sih?” tanyaku pada cewek berambut panjang itu.
            “Maksud lo?”
            “Maksud gue kenapa lo itu hobi main gitar, nggak main piano aja yang lebih feminim? Kenapa lo ikut ekskul tae kwon do, nggak ngedance kayak cewek-cewek pada umumnya? Kenapa lo lebih milih main basket daripada hang out sama temen-temen cewek lo?” Aku bertanya seperti polisi menginterogasi tersangka.
            “Lo bawel banget sih, Ngga.” Vie berkata cuek tanpa menjawab pertanyaanku.
            “Lo tau nggak, kalo lo ini banyak yang naksir?”
            “Heh?”
            “Tapi, mereka pikir-pikir dulu kalo mau deketin lo”
            “Heh?”
            “Habisnya, lo sangar banget sih jadi cewek”
            “Heh? Lo bilang apa barusan?”
            “Lo tuh cantik, pinter pula. Kenapa lo nggak bersikap lebih lembut biar orang-orang nggak ngejauh dari lo, sih Vie?” kataku pada cewek tinggi semampai itu. Aku bosan mendengar ocehan teman-temanku yang sering mengolok Victoria Aprill karena tidak punya sisi kelembutan sebagai seorang wanita. Mungkin saja setelah aku menasehatinya seperti ini dia akan berubah.
            Setelah beberapa saat, aku tidak mendengar sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya itu. Aku melihat wajahnya dan menemukan sebentuk emosi disana. Aku tidak mengerti. Bagian mana dari kata-kataku yang menyinggung perasaannya?
            “Vie, lo ....”
            “Ngga, lo denger baik-baik, ya. Dan jangan pernah lo lupain kata-kata gue hari ini!”
***
            “Lo tau nggak apa yang dikatain cewek itu kemudian?”
            “Sialan lo. Cewek itu kan gue?” wajah Vie cemberut. Tapi semburat merah tampak membuncah di pipinya. Aku tersenyum.
            “Hahaha! Inget nggak, lo ngomong apa enam taun yang lalu?” Vie mencoba mengingat. Aku tidak menunggu lama untuk melihat gelengan kepalanya kemudian.
            “Waktu itu, dengan tampang yang siap menelan orang bulat-bulat lo bilang ke gue, ‘I'd rather be hated for who I am, than loved for who I am not. Gue lebih milih dibenci karena jadi diri gue sendiri daripada disukai karena gue jadi orang lain.’ Gue masih ingat kata-kata itu sampe sekarang, Vie,” Victoria Aprill tertegun mendengar kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Pandangannya menerawang jauh. Aku memegang kedua bahunya yang mungil itu dan menatap lurus-lurus kedua matanya. “Dari enam tahun yang lalu sampe detik ini, yang paling gue suka dari lo adalah lo yang selalu jadi diri lo. Nggak peduli apa yang orang lain katain. That’s your best quality. You need to be that girl, right now. Jadi Victoria Aprill yang gue kenal enam tahun yang lalu.”
            “Ngga, lo tuh ... Lo tuh bener-bener bawel ya?” Aku tidak tahu sejak kapan matanya banjir air mata seperti itu. Aku mengusapnya pelan. “Ngga, thanks ya ... Lo udah bikin gue insyaf.”
            “Iya, sama-sama. Gue emang baik, kok.” Vie langsung mencubit tanganku gemas. Aku cengengesan sambil menahan sakit. “By the way, kita nggak jadi putus, kan?”
            “Sialan lo!” Vie menimpuk kepalaku dengan tangannya. Tapi dia tersenyum. Wajahnya kembali bersinar. Aku tahu, setelah ini dia akan segera menjadi Victoria Aprill yang aku kenal dulu.

Ponorogo, 2011

Komentar

Postingan Populer