Kepada Malam
Hai malam.
Apa kabar? Kamu gelap seperti selalu. Ah, ya. Kalau kamu
nggak gelap begitu, bagaimana kamu bisa dikatakan sebagai malam? Bahkan ketika
bulan bersinar cerah pun, kamu nggak cukup terang untukku membaca buku tanpa
lampu. Untung kamu nggak bisa jadi begitu terang seperti siang. Kalau nggak,
bagaimana aku bisa menyembunyikan air mata yang jatuh pelan-pelan ini?
Hai malam.
Aku sedang kesepian. Mungkinkah karena kamu saja yang
menemaniku ya, aku jadi merasa seperti ini? Apakah selalu seperti ini rasanya
kalau hanya kamu yang menemani, hai malam?
Hai malam.
Bisakah aku minta tolong padamu? Kamu juga sedang
menemaninya bukan? Meskipun mungkin baginya kamu bukan teman kali ini. Meskipun
kamu hanya penanda bahwa waktu kian berlalu, tenggat tugas kian dekat untuknya.
Hai malam.
Tolong sampaikan padanya, ya? Terserah bagaimana kamu
akan menyampaikan pesanku ini. Boleh kamu titipkan pada hembusan angin dingin
yang akan membuatnya segera mengambil jaket untuk membuat tubuhnya lebih
hangat, boleh juga kamu titipkan pada hujan yang rintiknya akan mengingatkannya
pada dua mangkuk mie ayam beberapa minggu yang lalu sebelum dia kembali ke
pedalaman sana.
Hai malam.
Pertama-tama, aku ingin kamu menyampaikan maafku
padanya. Maaf untuk nggak pernah SMS duluan, yang hanya memberikan sebatang
coklat kecil sebagai kejutan yang nggak bisa dikatakan sebagai kejutan, yang
nggak mengantar kepergiannya kembali ke pedalaman sana, yang nggak pernah
perhatian seperti seharusnya, yang selalu banyak menuntut sedangkan aku sendiri
nggak melakukan apapun untuknya ... Maaf untuk aku yang seperti ini.
Hai malam.
Untuk yang kedua, sampaikan padanya bahwa ... Meskipun
aku nggak pernah SMS duluan, hanya memberikan sebatang coklat kecil sebagai
kejutan yang nggak bisa dikatakan sebagai kejutan, nggak mengantar kepergiannya
kembali ke pedalaman sana, nggak pernah perhatian seperti seharusnya, selalu
banyak menuntut sedangkan aku sendiri nggak melakukan apapun untukknya ...
Meskipun aku hanya seperti ini, hai malam, katakan padanya bahwa jauh di dalam
sini (maksudnya hatiku) semuanya masih tetap sama.
Hai malam.
Yang ketiga, aku ingin kamu menyampaikan padanya untuk jangan
sampai nggak shalat isya’ mentang-mentang tugas lagi banyak. Lalu, kalau bisa, titipkan
pesanku yang ini pada hujan. Hujan yang deras. Biar dia merasa lapar dan mau
makan. Oh iya, ada baiknya juga kamu bilang padanya untuk jangan menunggu adzan subuh untuk tidur. Demi kesehatan.
Hai malam.
Aku sedang kesepian. Hanya kamu yang menemaniku sekarang
ini. Ditemani olehmu sungguh nggak enak. Selalu membuatku ingat yang sedih-sedih.
Tapi, kalau nggak denganmu, mana bisa aku jadi insyaf dan menulis romantis begini?
Hai malam.
Terimakasih, ya.

Komentar
Posting Komentar