Tentang Kuliah 1: Masa - masa Perjuangan


Uaaa akhirnyaaa setelah hari-hari melelahkan karena sosialisasi universitas bareng Gamaresa (Keluarga Mahasiswa Kota Reog di Surakarta), campus fair, dan sosialisasi ikasmaza (ikatan alumni SMA Negeri 1 Ponorogo), aku bisa duduk manis di kamar yang paling banyak nyamuknya ini, menghadap netbook ungu kesayanganku –karena ini satu-satunya netbook yang kupunya-, lalu menulis lagi padamu. Aaaah, bukankah kamu merindukanku setelah sekian lama kita nggak cerita-cerita bersama? Yah, pokoknya kamu jawab aja iya. Itung-itung membahagiakan blogger alay yang lagi pilek ini. Uhuhuk. Berpahala lho membikin orang bahagia itu. Huaahahhaa. Baiklah, aku tau ini nggak lucu.

Anyway, sosialisasi yang kumaksud tentu saja adalah cerita-cerita tentang kampusku pada adik-adik kelas XII. Di sepanjang waktu sosialisasi, mereka antusias sekali menanyakan berbagai hal. Melihat mereka yang galau kuliah macam begini ditambah kode untuk soal UAN tahun ini berjumlah 20 –itu berarti sekelas beda semua kodenya-, aku jadi ingat masa-masa galauku dulu, minus kode soal UAN yang jumlahnya 20. Tapi tentu saja kadar galaunya sama besar.


Satu tahun lalu, persis awal tahun gini, aku mulai bertanya-tanya pada diriku mau nerusin kemana. Nggak mungkin teknik dan kesehatan –meskipun jurusan SMA-ku adalah IPA- karena selain nggak terlalu minat, aku kacau soal hitung-menghitung. Akhirnya, setelah menelusuri berbagai jurusan yang ada di berbagai PTN se-Indonesia, aku menemukan jurusan yang kira-kira tepat bagi siswa macam aku: Komunikasi. And you know what? Kalo aku memilih jurusan itu, berarti aku harus lintas jurusan. Yap, itu adalah jurusan beraliran IPS. And you know what again? Nggak tanggung-tanggung, universitas yang pengen aku masuki adalah Universitas Indonesia. Haaaa betapa aku berani bermimpi begitu tinggi sedangkan aku adalah murid yang rankingnya selalu di bawah 50% kelas. Tapi peduli amat. Aku sih cuek aja. Kata Bung Karno kan kita harus bermimpi setinggi langit. Karena kalaupun nggak kesampean, kita masih jatuh diantara bintang-bintang.

Persis kayak tahun ini, tahun lalu bulan-bulan gini euforia kuliah benar-benar terasa. Nggak di kelas, di kantin, ataupun di jalan seantero sekolah, kalo ketemu temen seangkatan pasti saling nanyain, “Mau ngelanjutin kemana?” atau “Jadi ke UB?” dan lain sebagainya. Habis PTN, pertanyaan yang kedua adalah jurusan. Kalo udah saling tahu, pasti giliran saling mendoakan. Setelah kata amin terucap dari mulut masing-masing, baru deh pisah dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Terus, kalo udah musim ngelanjutin kuliah, ruang BK jadi kebanjiran pengunjung. Berbagai jenis siswa galau datang untuk curhat ke bapak sama ibu guru BK.

Ada satu lagi yang paling bikin deg-degan anak-anak seangkatan bulan-bulan Februari gini: SNMPTN Undangan. Kalau tahun ini kuota SNMPTN Undangan 100%, angkatanku dulu tergantung akreditasi sekolah. Sebelum dibredel sebulan terakhir ini –bener nggak sebulan terakhir ini?-, SMA-ku berstastus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Jadi, kuota SNMPTN Undangan untuk sekolahku adalah 50%. Parameter lolos enggaknya seorang siswa untuk mengikuti SNMPTN Undangan waktu itu adalah ranking mapel IPA atau IPS –tergantung jurusan- di setiap semester mulai semester tiga sampai semester lima atau semester satu kelas dua sampai semester satu kelas tiga selalu berada di range 50% kelas. Jadi, meskipun di semester tiga dan empat kamu ranking satu di kelas, kalau semester lima ranking terakhir, kamu nggak akan lolos SNMPTN Undangan.

Waktu itu sih, aku udah tau banget kalo aku nggak bakal lolos SNMPTN Undangan. Meskipun begitu, hati ini tetep aja berharap bakal lolos. Walaupun harapan itu udah aku jaga untuk nggak banyak-banyak, ternyata waktu pengumumannya dipajang dan aku (emang) nggak lolos, tetep nyesek juga rasanya. Baiklah, nyesek banget sih sebenernya. Tapi, aku sadar banget kalo aku emang nggak mungkin lolos. Habis, aku ini bukan tipe siswa yang peduli banget soal belajar sih. Hahahaha. Apalagi mapelnya eksak yang dari awal kelas dua udah menolakku mentah-mentah. Jadi, well, inilah hasilnya. Aku harus menerimanya. Meskipun hati ini sakit juga. Baiklah, sakit banget.

Setelah hari itu, aku memutuskan untuk belajar sungguh-sungguh buat SNMPTN Tulis, kesempatanku yang kedua. Aku nggak mau lama-lama sakit hati dan menyalahkan diri sendiri. Nggak ada waktu buat yang begituan. Pikirku, yang penting sekarang usaha aja dulu yang sungguh-sungguh. Urusan hasil udah pasti setimpal sama usaha yang aku lakuin, kok. Tinggalkan soal SNMPTN Undangan, saatnya menatap masa depan: SNMPTN Tulis 2012. Ciaaatt!!

Hari-hari setelah itu benar-benar penuh peluh. Inilah kelas tiga yang sesungguhnya. Meskipun banyak jam kosong karena materi udah pada selesai, kami otomatis belajar dengan kemauan sendiri. Sekarang sih nggak mungkin santai-santai lagi. Apalagi waktu mendekati UAN. Urusan kuliah terlupakan untuk sementara meskipun belum hilang juga auranya. Memasuki bulan April, anak-anak kelas tiga kemana-mana bawaannya buku sama mukena kalo istirahat. Mukena buat sholat dhuha waktu istirahat pertama dan sholat dhuhur di istirahat kedua, buku buat dibaca-baca di waktu senggang yang sebenernya nggak bisa dikatakan waktu senggang juga. Aku jadi inget waktu aku ke kantin sama Evi, Fida, dan Anggie. Waktu itu aku bawa buku Matematika yang kuharap bisa kubaca-baca di dalam nanti. Di tengah jalan, aku ketemu Niken. Dia berhenti dan menegurku, “Bawa apaan kamu, Im?”
Aku pun menunjukkan buku yang kubawa padanya.
“Weh, belajar kamu sekarang?” Aku lupa gimana ekspresi wajahnya saat itu.
“Wo ya jelas dong, sekarang saatnya sekolah!” Kataku. Dia sangat paham kalau masa-masa SMA-ku emang kayak enggak sekolah yang seharusnya.
“Hahahaha! Naim sekolah sekaraang ...”
Aku ikut tertawa bersamanya, lalu kami berpisah. Dalam hati, aku merasa agak miris juga sih. Di dalam kantin juga temen-temenku pada meledekku karena aku bawa-bawa buku waktu makan. Well, ini emang bukan aku banget sih.

Ujian Praktik, UAS, dan UAN berlalu tanpa terasa. Di waktu-waktu ini aku benar-benar menikmati kebersamaanku dengan teman-teman seangkatan. Perpisahan kami ditandai dengan acara tahunan sekolahku yang dikhususkan untuk kelas tiga, Final Night. Setiap kelas memakai dresscode yang disepakati –udah tentu tiap kelas beda-beda- sebelumnya, lalu pas hari H datang deh ke Sasana Praja dengan dandanan yang maksimal. Itu adalah kedua kalinya dalam hidupku memakai sendal high heels selain waktu purnawiyata SMP dan pertama kalinya dalam hidupku pake gaya jilbab kayak hijabers sekarang. Intinya, malam itu aku benar-benar cewek dan aku cantik –kata *tit*- huahahaha. Malam itu, kami merayakan kebersamaan tiga tahun selama di SMA Negeri 1 Ponorogo bersama Judika. Sehabis Final Night, kami pun berpisah sementara, berjuang masing-masing untuk menghadapi SNMPTN. Sebagian besar teman-temanku les intensif di luar kota, tapi ada juga yang enggak. Termasuk aku. Well, aku nggak bisa mengingat dengan jelas bagaimana perasaanku dulu sehabis Final Night berlalu. Kurasa cuplikan catatan harianku ini bisa mendeskripsikannya dengan lebih baik.

Sekitar tiga bulan yang lalu, hobiku yang semula menulis dimana- mana ini berubah menjadi belajar gila – gilaan untuk UAN, USM STIS 2012 dan SMPTN 2012. UAN sudah berlalu. Tinggal USM STIS seminggu lagi, dan SNMPTN 2012 satu bulan lagi. Baiklah, sekarang aku kepikiran untuk segera belajar lagi karena waktuku benar- benar tinggal sedikit. Aku ingin semuanya cepat berlalu dengan sukses dan aku merasa lega. Tapi tentu saja satu hari masih tetap dua puluh empat jam dan seminggu masih tetap tujuh hari meskipun aku berharap demikian. Memikirkan soal masa depan seperti saat ini benar- benar membuatku galau. Baiklah. Sangat galau. Super duper galau. Maksudku, lihat aku. Duduk di depan notebook di dalam kamar yang berantakan, belum mandi tapi sudah sarapan sementara teman – temanku yang lain sedang berada di dalam kelas, les untuk mempersiapkan SNMPTN sebulan lagi. Kedua sahabatku, Evi dan Fida sudah diterima di POLTEKES Surakarta dan sahabatku yang satu lagi, Anggie sedang sibuk – sibuknya Training Center panahan untuk PON di Jakarta September nanti. Minggu depan dia akan ke kampus UNESA untuk memasukkan surat rekomendasi panahannya. Aku yakin dia akan diterima juga. Sementara itu, Mufid –pacarku itu- juga tinggal menunggu pengumuman SNMPTN Undangan 28 Mei nanti. Dan aku yakin dia akan diterima juga. Lalu, bagaimana dengan aku? Aku nggak bisa les karena keuangan keluargaku yang sedang tidak baik. Aku nggak masuk SNMPTN Undangan karena bisa dikatakan aku tidak benar – benar sekolah selain di kelas tiga ini. Aku juga belum daftar dimanapun kecuali di STIS karena orang tuaku pengennya aku nggak  usah daftar banyak – banyak. Yah, aku menerimanya dengan lapang dada karena aku mengerti. Aku mengerti bahwa memang aku bukan mereka. Aku nggak bisa daftar kemanapun semauku. Aku nggak  bisa minta uang satu juta untuk les di luar kota. Aku nggak  bisa minta ayah atau ibuku menemaniku daftar kemanapun. Tapi itu tidak masalah. Itu benar – benar bukan masalah bagiku. Dari dulu, aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Asalkan doa mereka berdua selalu bersamaku, aku yakin aku akan baik – baik saja. Sekarang aku ingin sekali menangis memikirkan semua ini. Sepertinya aku ini hopeless banget. Belum diterima dimanapun dan kurasa belajarku selama ini sama sekali belum cukup. Bagaimana ini? Bagaimana? Fida bilang semua udah punya  jalannya sendiri – sendiri. Fida bilang aku dan Anggie pasti juga akan merasakan hal yang sama dengan dia, bahkan lebih. Lebih baik maksudnya, tentu saja. Evi bilang kita akan sekampus di STIS. Mufid bilang dia yakin aku akan lolos USM STIS 2012 dan kita akan sekampus juga. Anggie bilang aku pasti bisa. Aku benar – benar bersyukur mempunyai mereka. Mereka baik dan selalu memberiku semangat di saat – saat seperti ini. Ayah, ibu, guru – guruku SD, semuanya percaya padaku dan aku benar – benar tidak ingin mengecewakan mereka. Lalu apa yang sudah kulakukan ini? Semoga usahaku cukup. Semoga jam – jam yang kuhabiskan untuk belajar, waktu – waktu bersama adikku, mencuci baju, kertas – kertas bekas yang kugunakan untuk mencetak materi, semuanya terbayar lunas 9 Juli nanti. Aku tahu, Allah tidak akan pernah mengecewakanku, Tidak akan. Dia tahu dan akan memberikan yang terbaik untukku. Aku yakin itu. Sekarang yang harus aku lakukan adalah berusaha lebih keras lagi. Belajar lebih lama lagi. Mengerjakan soal lebih banyak lagi dan tentu saja makan lebih banyak juga. Ya Allah, sayangi aku. Mudahkanlah segala urusanku Ya Allah, aku tahu Engkau sudah menetapkan masa depan yang cerah, secerah matahari pagi ini, untukku.
Begitulah. Kamu bisa meresapinya, kan? Betapa kelas tiga adalah masa-masa yang sulit bagiku. Baiklah, masa-masa yang sangat sulit. Dan tibalah pengumuman hasil USM STIS-ku itu ...
From  :  A4 Faza
             085735xxx
             Assalamu’alaikum.
             Im, nomer peserta STIS-mu berapa?

To        : A4 Faza
             085735xxx
             Wa’alaikumsalam. 350723

From  :  A4 Faza
             085735xxx
             Na’im... J
             SELAMAT YAA!!
             Kamu lolos tahap 1!!
             Ini pengumumannya udah keluar J

To        :  A4 Faza
             085735xxx
             Hah? Sumpah?? Beneran??
             Nggak bohong??

From  :  A4 Faza
             085735xxx
             Beneran na’im, sumpah
             Nomermu ada di pengumuman J
             Selamat yaa J

To        :  A4 Faza
             085735xxx
             Alhamdulillah Ya Allah! :’)
             Thanks ya zaa ...

From  :  A4 Faza
             085735xxx
             Sujud syukur gihJ

To        :  A4 Faza
             085735xxx
             Iyaaa! Doain buat selanjutnya
             Ya! J

From  :  A4 Faza
             085735xxx
             Iya, sukses yaa! J

                Setelah pengumuman itu, aku pun belajar lagi buat nyiapin tes tahap dua. Well, jadwal yang udah aku buat apik untuk SNMPTN 2012 pun aku rombak dikit. Sambil menunggu waktu tes tahap dua datang, aku daftar SNMPTN Tulis. Deg-degan juga waktu ngisi perguruan tinggi sama jurusan yang aku pengen. Sebelnya, pas kartu pesertanya aku download, fotoku nggak ada. Ternyata pas ngupload ukuran fotoku nggak pas 3x3. Maka, jadilah aku menelepon panitia lokal 44 alias Surakarta alias lagi UNS, lalu mengirim fotoku via email. Setelah itu voila! Kartu pesertaku sudah berfoto!


5 Juni 2012, aku berangkat ke Surabaya sendirian buat tes tahap dua. Itu adalah empat hari yang ingin cepat-cepat kulalui. Bersamaan dengan keberangkatanku ke Surabaya, Purnawiyata sekolahku diadakan. Itu adalah event perpisahan yang resmi dan dihadiri pula oleh wali murid. Waktu purnawiyata, pengumuman SNMPTN Undangan juga udah keluar. Sewaktu maju ke depan untuk mengambil ijazah dan disalami pak kepsek, yang diterima melalui SNMPTN  Undangan disebutin diterima dimana sama jurusan apa. Ah, pasti bahagia banget deh mereka.

Aku masih ingat malam hari ketika pengumuman SNMPTN Undangan keluar. Aku menerima SMS dari banyak temanku yang diterima. Mereka mengucapkan terimakasih atas doanya, lalu menyebutkan mereka diterima dimana. *tit* juga mengabariku bahwa dia diterima di Matematika IPB. Ketika mengetahui kabar gembira darinya dan teman-temanku, aku tersenyum dan berucap alhamdulillah, lalu di saat yang bersamaan aku juga menangis. Mereka sudah punya tujuan daftar ulang. Lalu, kemana aku akan daftar ulang tahun ini?
Setelah USM STIS yang berlalu begitu saja, aku pun kembali berkutat dengan buku-buku, mempersiapkan diri untuk SNMPTN Tulis 2012. Dua bulan hampir berlalu sejak UAN 2012. Sekarang, aku sudah akrab sekali dengan kosakata semacam opportunity cost, the law of diminishing marginal utility, demand, supply, indifference curve, dan lain – lain yang sejenis. Yah, aku memang belajar IPS dari nol. Banting setir? Memang. Daripada aku memaksakan diri memilih IPC dan setengah-setengah, mending langsung aja milih IPS dan belajar sungguh-sungguh. H-4 SNMPTN, aku nggak bisa belajar lagi. Otakku rasanya sudah nggak muat untuk kujejali materi-materi itu. Aku memutuskan untuk pasrah saja. Kupikir otakku juga butuh istirahat.

Dan akhirnya, tibalah hari itu. 12-13 Juni 2012.

Dan udah. Pokoknya SNMPTN-nya udah berlalu dan aku pulang –tesku di Solo-. Inilah ujung segala peluhku sehabis Final Night itu. Apapun hasilnya, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Sekarang, nggak ada yang bisa kulakuin selain berdoa.

15 Juni 2012, pengumuman hasil tes tahap dua STIS keluar dan aku nggak lolos. Meskipun lagi-lagi udah tau aku nggak lolos, tetep aja nyesek waktu tau. Setelah itu, aku memutuskan untuk bangkit. Ada satu tes lagi yang harus aku ikuti: SIMAK UI.

Sekali lagi, kurasa catatan harianku akan lebih bisa mendeskripsikannya dengan benar daripada aku yang menulisnya sekarang.

Rabu, 27 Juni 2012 19:34:47
Hai Juni. Sulit mendeskripsikanmu sekarang ini. Haha. Banyak yang terjadi selama aku berada dalam hari – harimu. 5 Juni yang lalu aku tes tahap 2 STIS. Lalu, tanggal 12 – 13 Juninya SNMPTN 2012. 15 Juni 2012 aku mengetahui bahwa aku tidak lolos USM STIS Tahap 2. It’s totally alright with me. Sejujurnya, aku tidak terlalu kecewa mengetahuinya, tentu saja. Aku sudah mempersiapkan mentalku sebelumnya untuk ini. Dua hari kemudian -17 Juni 2012- aku benar- benar down karena … Hahaha, malu juga sih nulisnya. Ini sesuatu yang sangat klasik sejak dulu –tentu saja dalam tulisan2ku saja- :
1.       Tanggal 8 Juli ada SIMAK UI.
2.       Aku tentu saja pengen ikut.
3.       Daftarnya Rp250.000,-
4.       Orang tuaku nggak punya uang.
5.       Bapak bilang,”Apa kamu bisa masuk UI? Saingannya kan berat. Kuliahnya mahal. Itu anak2 yang disana pasti NUN-nya tinggi – tinggi”
6.       Ibu bilang sesuatu yang intinya sama dengan bapak.
Tentunya sekarang kamu sudah paham dengan kata – kata ‘sangat klasik’ yang kumaksud bukan? Lagi – lagi nilai. Aku benci sekali mendengar statement seperti itu. Kalo aku bego kenapa? Apa aku nggak boleh punya mimpi? Apa UI Cuma buat orang2 dengan otak penuh angka – angka, rumus dan lain sebagainya itu?! EMANGNYA KALO MASUK SURGA MESTI PAKE NILAI RAPOR WAKTU SEKOLAH APA?!
Well, begitulah yang terjadi sekitar tanggal 17 Juni yang lalu. Oh Juni, kamu keren sekali tahun ini. Membuat orang bego macam aku ini emosi dengan membabi buta pengen ke UI. Hahaha. By the way, tentu saja aku jadi daftar SIMAK 20 Juni lalu dengan pilihan prodi Ilmu Komunikasi, Ilmu Perpustakaan, dan Sastra Jawa. Setelah itu, aku sibuk membuat jadwal belajarku yang ketiga: COUNTDOWN TO FINAL DESTINATION. Setelah jadwal jadi, aku mencetak soal-soal SIMAK seabrek, ngerjain sedikit demi sedikit, frustasi dengan matdasnya yang kebacut, aku yang satru sama trigonometri, nggak pernah punya waktu belajar yang banyak banget, dan tentu saja aku selalu ngrasa kalo belajarku ini belum bener2 maksimal. Tiba-tiba 25 Juni atau dua hari yang lalu pacarku berangkat ke Bogor. Kamu tentunya sudah tau kalau dia diterima di IPB Mei lalu. Dia akan pulang ke Ponorogo Lebaran nanti … Dan sekarang, 27 Juni 2012. Oh Juni, kamu segera berakhir. Aku pengen nangis sekarang. You know why? Tiba – tiba rasanya nyesek banget. Aku masih belum tau kemana aku akan daftar ulang taun ini. Kuharap UI, tentu saja. Sekarang ini aku seharusnya belajar Ekonomi dan ngerjain Kemampuan IPS-nya SIMAK kode 807 dan 808. Tapi, yah … yang kulakukan sekarang justru menulis padamu,  Juni. Hahaha. Apa yang bisa diharapkan dariku yang seperti ini? Apa? Haha. Ini sakit. Sakit sekali rasanya. Mana mungkin aku ngomong ke orang – orang kalo aku sekarang lagi frustasi dan sangat kehilangan kepercayaan diri? Haha. Bahkan ke pacarku sendiripun aku nggak bisa ngomong. Aku nggak bisa ngomong ke siapapun. Hahaha. 27 Juni 2012. Aku nggak boleh berhenti berusaha, kan? Aku pasti masih bisa melakukan sesuatu pada otakku Sembilan hari ke depan.

Begitulah. Sembilan hari kemudian, 6 Juli 2012, aku berangkat ke Surabaya (lagi) bersama Faza dan Gitya –mereka teman-teman sekelasku-. Di dalam bis, kami heboh karena ternyata pengumuman SNMPTN Tulis udah keluar. Aaaaa!! Gembeeel kenapa dimajuin, sih?! Dan aku pun mendengar nama-nama temanku yang disebutkan oleh Faza, lolos SNMPTN Tulis dengan hasil yang wow. Aku semakin ciut.

Pukul delapan malam, kami sampai di terminal Bungurasih. Nggak menunggu waktu lama, kami bertiga pun langsung naik taksi ke rumah Mbaknya Faza, tempat kami akan menginap malam itu, lalu buru-buru melihat hasilnya. Deg. Deg. Deg. Gitya lolos. Deg. Deg. Deg. Faza belum beruntung. Deg. Deg. Deg.

Loading ...



Aku lolos! Alhamdulillah! Meskipun nggak UI, setidaknya aku mendapatkan hasil untuk usahaku selama ini. Aku pun langsung mengabari ibu, *tit*, Fida, Anggie, Evi, dan orang-orang terdekatku.

Besoknya, aku mengerjakan soal SIMAK UI tanpa perasaan apapun. Nggak deg-degan kayak SNMPTN dulu. Kayaknya gara-gara udah diterima di UNS deh. Dan fyi ya, soal-soal SIMAK itu lebih indah daripada SNMPTN Tulis.

Begitulah.

Sekarang, disinilah aku. Ilmu Komunikasi UNS.
Masa-masa sulit itu telah berlalu. Perjuangan yang penuh peluh telah menuai hasilnya. Yang benar-benar kusadari setelah itu adalah Tuhan nggak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, dimanapun dia berada. Nggak akan. Karena itu, kalo punya mimpi, ya usaha aja semaksimal mungkin. Nggak usah nyerah. Apapun yang orang lain bilang, keep going. Karena usaha berbanding lurus dengan hasil.

PS.
Kamu penasaran dengan hasil SIMAK-ku?  :P


Keep our dreams alive, and we will survive.

Komentar

  1. Tuhan nggak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-NYA yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, dimanapun dia berada. nggak akan. karena itu, kalo punya mimpi, ya usaha aja semaksimal mungkin. nggak usah nyerah. apapun yang orang lain bilang, keep going. karena usaha berbanding lurus dengan hasil.

    BalasHapus
  2. ntar S2 kesana adek, tapi setengah jalan pindah ke mana gitu yaak, jepang kek, hehe never give up my litle sister :)

    BalasHapus
  3. @Nurul: :))
    @Mbak Rekno: Hahaha aamiin mbaaak! Siyaaapp! \^o^9

    BalasHapus
  4. ternyata blog nya dek naim ropikoh :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer