Tentang Kuliah 2: Terus, Kalo Udah jadi Mahasiswa Mau Apa?
Nggak ada yang lebih ingin dilakukan oleh seseorang yang
baru pulang dari merantau selain menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta
dan bertemu kawan-kawan lama. Kemarin waktu sosialisasi IKASMAZA (ikatan alumni
SMA Negeri 1 Ponorogo), aku ketemu temen-temen seangkatan (tentu aja!). Mereka
udah memakai jas almamater kampus masing-masing : Universitas Indonesia (UI), Institut
Teknologi Sepuluh November (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas
Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Brawijaya UB),
Universitas Negeri Malang (UM), dan lain-lain. Well, itulah hasil perjuangan setengah tahun lalu. Mereka semua
tampak bahagia. Bahagia karena ketemu temen-temen seangkatan, bahagia karena
janji untuk ketemu dalam keadaan sukses karena udah diterima di PTN idaman
tertepati, bahagia karena bisa berreuni ria dengan teman (agak) lama.
Kamu tahu? Dulu waktu kelas tiga, persis bulan Februari
gini, rasanya tuh pengen cepet-cepet lulus aja dari SMA dan segera kuliah.
Well, kamu tentu pernah merasakannya kan? Apa coba enaknya kelas tiga SMA
kecuali bolos ke kantin sama temen-temen karena udah mabuk belajar untuk
menghadapi berbagai ujian? Kalo udah kuliah kan enak. Nggak perlu pakai
seragam, nggak perlu memaksakan diri untuk masuk kuliah kalo males karena bisa
TA (titip absen), nggak perlu bangun pagi tiap hari, dan nggak ada yang
menghukum kalo telat masuk kuliah (Paling banter juga disuruh keluar kelas). Pokoknya,
kuliah itu keren deh! Itu yang ada di pikiranku dulu. Maklumlah, orang nggak
bakalan tahu yang sebenernya sebelum bener-bener melihat dengan mata kepala dan
merasakannya sendiri, kan?
Selain hal-hal keren yang nggak patut dijadikan tujuan
lulus SMA di atas, dulu kupikir semua mahasiswa itu
bakal punya idealisme
tinggi (Dulu, aku nggak tau itu maksudnya apa. Yang ada di pikiranku cuma demo,
sibuk membela negara. Hahaha). Maksudku, mereka bener-bener punya kesadaran
untuk berkontribusi untuk negeri ini. Yang kuliah di Komunikasi bener-bener
bertekad supaya pers di Indonesia bener-bener jadi pers yang independen dan
nggak memihak siapapun, supaya dunia pertelevisian Indonesia nggak cuma berisi
sinetron-sinetron nggak mutu dan humor nggak lucu; Yang kuliah di keguruan bener-bener
punya misi untuk membuat pendidikan di negeri ini lebih baik lagi; Yang kuliah
di pertanian bener-bener punya niat supaya Indonesia yang katanya negara
agraris ini eksis lagi karena hasil pertaniannya yang super duper hebat; Yang
kuliah di ilmu murni (Matematika, Kimia, Fisika, Biologi) bertekad bulat biar
Indonesia ini maju ipteknya, nggak kalah sama negara-negara lain; Yang kuliah di kedokteran bener-bener punya
misi biar anak-anak negeri ini terjamin kesehatannya; Yang kuliah di bidang
seni dan budaya punya misi kuat untuk membuat orang-orang di negeri ini nggak
kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia yang kaya akan budaya; Yah,
kupikir mereka semua emang kuliah –selain buat bahagiain orang tua- buat bikin
negeri ini senyum lebih lega dikit karena ada mereka, mahasiswa.
Yah, kupikir begitu, sih. Tapi kamu tahu? Ternyata itu
semua bohong. Bullshit. Omong kosong.
Setengah
tahun jadi mahasiswa, ternyata kegiatanku biasa-biasa
aja tuh. Mana sibuk mikir negara? Mana sibuk bikin penelitian untuk pengabdian
pada masyarakat? Emang banyak sih yang ngajuin proposal PKM (Program Kreativitas
Mahasiswa) bulan apa gitu kemarin. Tapi, tujuan mereka kebanyakan adalah uang.
Well, kalo proposalnya goal emang bisa dapat dana yang lumanayan dari Dikti.
Hahaha emang sih, nggak semuanya gitu niatnya. Tapi, kalo nggak ada dana yang
lumayan gede, aku jamin yang ngajuin proposal nggak akan segitu banyaknya. Jaman
sekarang sih, mana ada orang yang nggak mau ditawarin duit banyak? Aku juga mau.
Koreksi: mau-banget. (Buat beli Nokia lum(p)ia 800 bo’!)
Selain nggak sibuk mikir negara dan bikin penelitian
untuk pengabdian masyarakat, aku juga nggak sibuk mikir gimana caranya biar aku
bisa berbuat sesuatu yang kiranya bisa membuatku sedikit pantas jadi mahasiswa.
Yang kulakukan di hari-hariku sebagai mahasiswa adalah memaki dosen yang nggak
ngajar sebagaimana mestinya, titip absen kalo nggak masuk karena males, tidur
di kelas kalo dosennya emang bikin ngantuk dan lagi nggak mood dengerin dosen, ketawa-tawa sama temen-temen, mengenang masa
SMA yang ternyata ngangenin banget, ngerjain tugas, ngeluh karena tugas numpuk,
online, sharing tugas sama
temen-temen, kangen-kangenan sama pacar, mengutuk LDR, dan hal-hal yang nggak
terlalu berguna untuk masa depan sejenisnya. Meskipun begitu, sekali dua kali aku
juga sempat ngobrol pinter sama beberapa temanku di kelas, di Kentingan, dan
lebih sering dengan temanku sekamar, Rizki (dia cewek). Kami biasa mencaci maki
negeri tercinta ini dalam obrolan kami. Yah, seperti betapa masih banyak
korupsi di negeri ini yang enggak juga rampung, IP yang semestinya nggak jadi
patokan utama dalam menilai tingkat keberhasilan kami (mahasiswa), para pejabat
yang nggak membumi, bahkan nggak jarang juga kami mencaci diri sendiri. Kami
emang mahasiswa yang cuma banyak ngomong dan mencaci. Huahahaha.
Begitulah aku enam bulan ini. Mahasiswa yang kebacut.
Aku bahkan nggak sebanding sama temen deketku yang sekarang lagi ada di Papua
sana. Dia belum punya kesempatan buat kuliah, tapi udah bisa menghasilkan uang
untuk dia sendiri dan keluarganya. Betapa dia sudah menjadi orang yang berguna,
sedangkan aku masih jadi ... apa coba yang nggak berguna? Sampah? Ya ampun,
menyedihkan banget.
Ah ...
Ternyata ini ya yang aku perjuangkan lebih dari enam
bulan yang lalu itu? Ini yang aku perjuangkan dengan tidur larut hampir setiap
malam karena belajar, berdoa pada-Nya sampai mata basah karena air mata? Ini yang
kuperjuangkan sampai rasanya habis tenaga dan daya? Cuma ini? Jadi mahasiswa
yang sama sekali nggak berguna ini?
Ah, mahasiswa macam apa aku ini? AKU MALU.
PS.
Buat apa sih Kuliah? Jangan Kuliah! (MUST READ)
Memang apa sih kerennya jadi
mahasiswa? Kamu pikir kamu keren kalau jadi mahasiswa? Dengan jas almamater
yang heroik kamu jadi bisa kembali ke sekolah kamu dan berkata, “Saya sekarang mahasiswa UNAIR loh,” atau, “Ini nih lihat jaket kuning UI gue!”
Okey, itu memang salah satu bagian
menyenangkan yang bisa dibanggakan, tapi kalo udah bangga, kamu mau apa? Apa
yang kamu dapatkan dari kebanggaan tersebut?
‘seneng aja’
‘kepuasaan
batin’
‘yah keren aja sih’
Ada lagikah ?
Kamu udah yakin dengan pilihan jurusan
dan kampus kamu? Sudah sesuai dengan panggilan jiwa belum? Atau kamui masih
bohong sama diri kamu?
‘iya saya
sudah yakin kok sama pilihan saya’
‘ah masa
sih?, yakin? Itu kok muka masih belum pede tampaknya’
‘ya dibuat
yakin dong, kan sudah keterima’
‘bener nih gak nyesel?’
‘emang ada pilihan lain kah?’
Kamu sudah jadi mahasiswa nih sekarang, lalu kamu mau jadikan
titel kamu nanti untuk apa? Mau dijadikan apa titel yang kamu raih?
Sobat, kata rektor saya dulu, biaya
standar untuk seorang sarjana teknik adalah Rp.28.000.000 setiap
semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya
kuliah? Dulu saya di ITB 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah
mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar
sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap. Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu
semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang?
Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia
kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat
kamu yang kuliah di kampus negeri.
Pendidikan yang berkualitas itu
hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya
pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan
untuk membiayai kuliah kita. Saat pertama kali masuk ITB beberapa
tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi
seminar.
“Untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1
banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak
muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB. Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi
pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76
tersebut? Kita asumsikan 19 orang tersebut
menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang.”
Kata-kata tersebut selalu terngiang di
benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana
bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya
dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk
bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial. Bagaimanapun caranya,
itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak
mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “Saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah
lulus untuk negeri ini?
Karena kuliah kamu bukan hanya
menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini
dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya
benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan
masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan.
Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18%
rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di
perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka
renungkanlah nasih 78% rakyat Indonesia lainnya yang
Karena kamu itu mahasiswa, ada kata
MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah
habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu
yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang).
Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang
ditambahkan College Student. Bahasa
arabnya mahasiswa adalah thulabiy,
sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa.
Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena
ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter
seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa
menuntut ilmu.
Dalam sebuah lirik lagu perjuangan
kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini:
Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu
Mereka Lapar dan Bau Keringat
Kusampaikan Salam Salam Perjuangan
Kami Semua Cinta Indonesia
Tapi kamu juga jangan terlalu Geer
dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang
malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk
seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu
kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan
gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada
kompetensinya saja juga enggan.
Apa sih mahasiswa itu?
Cuma mampu mejeng dengan tampang
keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini,
ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah
seperti mau ke resepsi pernikahan. Ngapain sih tuh
mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir
gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah,
jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau
keringat.
Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma
bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk
negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi
yang kembali menderita.
HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA!
Coba sekarang saya tanya buat kamu
yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana?
‘ikutin aja kemana angin membawa’
‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’
‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’
Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan
kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak
diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah
lulus.
Helloooo!
Dimana panggilan jiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah
dengan panggilan jiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak
berusaha mencarinya?
Sobat,apakah dunia kampus belum cukup
untuk kamu dalam membangun mimpi? Butuh berapa lama lagi untuk
kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan
jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu?
Mereka yang tidak punya mimpi akan
terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka
ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan
manfaat hidup itu sendiri.
APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI?
Percuma saja kamu kuliah kalau
ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan panggilan jiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup
itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa
dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan.
Kamu pikir jadi alumni dari kampus
beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior,
dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan
dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa.
Akibatnya? Hidup segan, mati enggan.
Lantas, apa yang bisa dibanggakan
ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada
uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing
semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat
itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik.
Buat saya, percuma belajar mati-matian
masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka
dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau
bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah
atas kebutuhan dunia. Atau lebih sadis lagi mereka para
koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya
mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia.
Rakyat negeri ini membiayai kamu
kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude.
Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma
seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam
menghadapi soal kehidupan.
Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah
teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil.
Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu
kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang
kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi
bankir.
Kuliah itu mahal kawan, setau saya di
UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya
per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus?
Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu?
Masih banyak anak muda Indonesia yang
tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk
bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya
sobat? Yuk kita berpikir beda , jangan berpikir “Mau kerja di perusahaan apa,” melainkan, “mau buka lapangan
kerja dimana ya?”
Saya sering bilang ke mahasiswa
ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU
alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah
orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita
kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan.
Malulah pakai jaket kuning UI yang
katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal
kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa
kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri,
barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat! Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun
goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat
dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan
sobat!
Ah capeklah kuliah itu kalau hanya
mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi
sekrup kapitalis.
Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau
segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa
selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa? Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek
di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di
daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm
mendingan mundur deh.
Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata
Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka
yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai,
mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa?
Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk
membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati
dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis.
Hidup itu bukan hanya tentang duit,
duit, dan DUIT.
Mahasiswa itu beda!
Yuk kita bangun konsep berpikir yang
dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini
dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah
karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar
pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat?
Sobat, mari kita maknai dengan bijak
kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak
orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi
untuk pembangunan bangsa.
Sobat, kamu mau berkontribusi apa
selama kuliah?
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo
Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
-Ki Hajar Dewantara-

haha dek aku sering banget baca yang kaya gini yaa namanya mahasiswa dengan segala nano nano nya, banyak orang yang meemehkan kita juga, tapi kal kita g ada kontribusi ke negara ya keremehan itu patut diterima, haaa
BalasHapussebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain :)
BalasHapussemoga aja Mahasiswa sadar akan hal inih :))
@Mbak Rekno: Bener mbak -_-
BalasHapus@Nurul: Aamiin! Kamu juga semoga sadar lho ya, mahasiswa :P
emang kita udah mahasiswa ya??? :D
BalasHapusStatus sih iya. hahaha
BalasHapusmakan dulu zanaa..
BalasHapusAku dewe yo gung yakin dadi mahasiswa seng wes iso berkontribusi ge negeri ini..
BalasHapusjare pengusaha Bob sadiono "lebih baik lulusan SD yang bisa berpenghasilan sendiri, daripada lulusan PT yang mengemis2 cari kerja.
Tapi yang lebih baik jadi maha seng apik dan berkontribusi,,yo gak @Rekno widati??
Aku suka tulisan blog mu yang ini, bahasa lebaynya..kepala rasanya mau tak jedotin ke tembok saking tersindir
BalasHapusringan tapi berbobot :)
@anonim: Entahlah siapa anda, boleh saya bantu jedotin kepala ke tembok? hehehehe :P
BalasHapusThankyouuu :))
Mahasiswa?
BalasHapuspenting urip nang ndunyo iki,,iso mangan,,,iso kerjo,,,iso ngopeni anak bojo..wes beres. itulah yang di namakan hakikat hidupp.
BalasHapusterimakasih untuk pengingatnya :) semoga kita semua bisa membangun negeri menjadi lebih baik, bukan hanya omong kosong.
BalasHapus