Pulang
10 Maret 2013
"Nduk, pulang ke rumah kok memendam diri di kamar aja? Sini dong, ngumpul sama keluarga."
Aku yang sedang dalam posisi penak bianget dan sudah sedikit ngantuk karena baru sampai dari Solo memaksakan diri untuk bangun menuju ruang tengah. Di depan TV yang menyala, sudah ada ayahku yang tiduran di atas selembar tikar dan ibuku yang duduk di sebelahnya, bersandar pada tepi sofa. Saat aku menghampiri mereka, keterpaksaan yang kurasakan tadi sudah menguap entah kemana. Selagi aku berbincang hangat dengan kedua orang tuaku, tiba-tiba adikku bangun dari tidurnya dan sudah berjalan ke arah kami. Begitu melihatku, wajahnya yang masih mengantuk itu tersenyum, lalu dia memanggil-manggilku dengan suara kecilnya yang imut, "Kak, Kakak! Kakak!" Aku memeluknya dengan sepenuh hati.
11 Maret 2013
Kami sekeluarga kompak sakit. Ayah udah sejak hari Kamis dan udah cukup sehat sekarang. Aku dari Rabu, keracunan siomay (?) yang membuatku harus minum obat dari Medical Center selama tiga hari penuh. Adik sakit panas dan pilek *bayangkan umbel pada hidung anak kecil*, juga udah baikan. Nah, Ibu hari ini mulai bersin-bersin dan kedinginan.
Terlepas dari segala jenis penyakit ragawi itu, pagi-pagi aku sudah memeluk ayah yang mau pergi ke Gajahmungkur menggantikan ibu. Sorenya ayah datang sambil bawa tangkapan besar: ikan entahlah, pokoknya besar aja. Tapi udah digoreng. Hehehe. Aku juga dengan senang hati menggantikan ibuku di dapur sementara beliau bermain bersama adik. Ah iya. Aku bolos kuliah siangnya. Karena ada Dies Natalis UNS yang ke-37, kuliah ditiadakan sampai pukul 12.00. Dan kamu tahu? Jadwal jam ke-2 kuliahku dimulai pukul 12.05. Manis sekali bukan? Siapa coba yang mau menempuh perjalanan tiga jam naik bis dari Ponorogo ke Solo cuma buat ikut kuliah yang paling-paling cuma sejam terus besoknya libur lagi? Aku sih, maaf-maaf saja ya, ogah *mahasiswamacamapa*.
12 Maret 2013
Pagi ini aku membuat ibu marah sehingga beliau membentakku. Bodohnya, aku balas membentakknya. Siangnya aku kembali berkata-kata padanya dengan nada yang sudah dari dulu kutahu dari pelajaran agamaku tak boleh kugunakan pada kedua orang yang sudah membesarkanku dari aku lahir. Sorenya ganti ayahku yang kubuat kesal karena aku nggak juga packing buat ke Solo. Aku mengabaikannya saja kali ini karena aku sedang menangis diam-diam di kamar. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku yang ke-44. Dan yang kuberikan padanya hanyalah secarik kertas dengan noda bekas air mataku bertuliskan selamat ulang tahun, maaf, dan janji bahwa kadoku untuknya akan kuberikan dalam beberapa bulan lagi.

dalem juga
BalasHapus*Uhuk*
BalasHapus