Buat Apa


Sehabis pulang dari perayaan ulang tahun SKBS yang ke-2 tadi aku langsung tidur, lalu bangun pukul 17.16. Aku nggak sholat ashar, dan itu membuatku badmood, mengutuki diri sendiri kenapa aku selalu begitu: dengan mudahnya meninggalkan hal yang akan dihisab pertama kali daripada yang lain-lain saat hari kiamat nanti. Setelah menyisir rambut, aku mandi, shalat maghrib, kemudian mengaji satu ruku’. Habis itu aku ngobrol sama Rizki, temanku sekamar (dia cewek), tentang ... Well, aku lupa apa saja yang kami obrolkan. Sekitar pukul sembilan dia sudah tidur, sedangkan aku tumben sekali belajar Bahasa Inggris. Itu karena besok aku UKD 2.

Where will you go.
Dua modul habis aku pelajari satu jam kemudian, tapi rasanya semua materi tadi nggak ada yang benar-benar masuk ke otakku. There’s something wrong, I knew it, but what? Sesore ini aku merasa kepalaku begitu penuh. Terisi entah oleh pikiran-pikiran apa. Tugas? Ah, bukan, bukan tugas. Meskipun ada dua deadline yang sudah menanti, entah kenapa bukan ini yang membuatku merasa jibeg. And then I’m thinking ... Setelah dengan nggak sengaja membaca blognya Zenius, about ... a mission. Buat apa aku hidup? Buat apa aku menulis? What is exactly I want? Yes, WHAT IS EXACTLY I WANT? Pertanyaan-pertanyaan ini entah untuk yang ke berapa kalinya muncul dalam umurku yang hampir 19 tahun. Yes, I’ve ever feels like this, have these same questions, bahkan aku pernah mempunyai jawaban atas semua itu, jawaban yang membuatku benar-benar yakin memang itulah jawabanku. But now, semuanya lagi-lagi nggak jelas bagiku.Lalu, pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi:

Buat apa aku hidup?
Buat apa aku menulis?
Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Nah, buat apa aku memikirkan hal-hal kayak beginian? Kok repot. Bukankah akan lebih mudah kalau aku menjalani hidupku begitu saja? Maksudku, kuliah kalau waktunya kuliah, rapat kalau ada agenda rapat, makan kalau lapar, minum kalau haus, beli baju, nyuci, main bareng temen-temen, pacaran tinggal pacaran, yah, pokoknya jalani aja apa yang ada. Ikuti aliran air. Hidup ya tinggal hidup aja, ntar kalo udah waktunya mati ya mati aja. Selesai. 

I’ve been trying. Menjalani semuanya begitu saja tanpa memikirkan kenapa, untuk siapa, dan buat apa semua hal ini kulakukan. But I can’t. Rasanya hampa ketika aku ngelakuin sesuatu tapi ternyata itu cuma buang-buang waktu. I’m sick when I’m doing something without a reason. Apakah beberapa hari ini aku merasa begitu? Well, sebenarnya nggak juga. Hari-hari terakhir ini aku merasa nggak terlalu menghabiskan waktuku dengan sia-sia. Maksudku, aku menulis, kuliah, lalu mengerjakan tugas dengan baik. Bukankah itu semua adalah prosesku untuk menjadi apa yang aku inginkan? –Sekarang ini aku ingin jadi penulis, berguna bagi orang lain- Hatiku setuju dengan pikiran itu, tapi, pertanyaan lain muncul: lalu setelah aku mencapai apa yang aku inginkan, apa? Menulis seumur hidupku? Mungkin. Tapi, jauh di dalam sini –nunjuk hati- I don’t really know the answer. Lalu, pertanyaan-pertanyaan ini muncul lagi:

Sebenarnya, buat apa aku hidup?
Buat apa aku menulis?
Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Ada banyaaak sekali alasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Satu jawaban untuk tiga pertanyaan pun bisa. Untuk membahagiakan orang tuaku, untuk sebuah misi untuk menjadi penulis ... Apa lagi ya? Ah, ternyata cuma ini yang bisa kupikirkan.  I can’t think ‘bout anything else. Aku hanya merasa ini semua omong kosong. Ya, omong kosong. Semua alasan kayak gini nggak akan bertahan lama untuk membuatku keep going. Bahkan alasan tentang orang tua sekalipun. Jujur saja, aku bahkan sering lupa kalau aku melakukan semua ini salah satunya untuk orang tuaku. Ah ... Kalau pertanyaan semacam ini nggak muncul, orang tuaku pasti juga nggak muncul. Kepalaku rasanya semakin penuh. Hampa. Pertanyaan-pertanyaan ini semakin mengusikku:

Sebenarnya, buat apa aku hidup?
Buat apa aku menulis?
Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Buat apa?
Buat apa?
Buat apa?

Pernah kubaca dalam salah satu postingan di facebook bahwa ketika Tuhan menciptakan kita, Dia pun telah menetapkan segala apa yang akan kita perbuat. Jadi, tidak berlebihan kalau kubilang Tuhan pun telah menetapkan apakah kita akan masuk neraka atau surga. Apakah aku menulis seperti ini, mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti yang di atas itu pun telah ditetapkan oleh-Nya. Apakah kita menyerah terhadap mimpi yang kita perjuangkan atau terus maju, itu pun telah ditetapkan oleh-Nya. Semua yang ada pada kita, perbuatan, prasangka, mimpi-mimpi, ah, apapun itu tanpa kecuali, sudah ditetapkan oleh-Nya. Kalaupun suatu saat kita bisa merubah takdir –itu mungkin, selain jodoh, mati, dan rezeki-, tidak berlebihan pula kalau kubilang itu pun memang sudah ditetapkan. Sampai disini, rasa-rasanya aku menyadari satu hal: mungkin jawaban atas ketiga pertanyaan itu adalah untuk mengikuti permainan-Nya. Mungkin.


Tuhan, maafkan karena malam ini aku agak membenci-Mu. Aku merasa bahwa seluruh hidupku ini tak lain dari sebuah novel. Kau sebagai penulisnya dan aku sebagai tokoh utama yang tak bisa berbuat apapun selain mengikuti alur cerita yang telah Kau buat. Aku marah, tapi aku tak bisa berbuat apapun. Tuhan, kuikuti semua mau-Mu! Kuikuti semua mau-Mu! Kau inginkan aku menulis ini semua pada-Mu, sudah kutulis. Kau inginkan aku untuk terus berjuang, aku terus. Kau inginkan aku untuk memilih mengorbankan apa yang sudah kupunya di sini, kukorbankan. Semuanya akan kulakukan Tuhan, untuk-Mu. Semuanya, asal aku jadi novel yang bestseller, berdampingan dengan novel-novel terbaik yang Kau tulis.

Komentar

Postingan Populer