Dari Solo, Magelang, Sampai ke Hatimu
Prolog
Helooo berrooohh! Setelah seminggu lamanya menghilang dari dunia perbloggeran (?), akhirnyaaah saya kembali lagiii! Tetereeet tetereet tetereeet! Miss me? Miss me? Miss me? Yes, tentu saja kamu nggak kangen. Tapi, tolong jangan frontal-frontal bilangnya nggak kangen ya. Oke? Oke.
Baiklah, kamu pasti bertanya-tanya kemana aku selama seminggu terakhir ini. Dari judul postingan -yang ternyata cukup galau- di atas, tentu kamu sudah mempunyai dugaan kemana aku menghilang. Dan jawabannya adalaaah ... Tetereeet tetereet tetereeet! Silahkan lanjutkan membaca saja deh~
Baiklah, kamu pasti bertanya-tanya kemana aku selama seminggu terakhir ini. Dari judul postingan -yang ternyata cukup galau- di atas, tentu kamu sudah mempunyai dugaan kemana aku menghilang. Dan jawabannya adalaaah ... Tetereeet tetereet tetereeet! Silahkan lanjutkan membaca saja deh~
Bagian Satu
Minggu, 24 Maret 2013 - SKBS Ceria
Minggu kemarin kuawali dengan pergi ke SKBS lagi. Yes, setelah dua minggu nggak bermain bareng anak-anak di dusun binaannya mahasiswa BEM FSSR UNS itu, akhirnya hari Minggu kemarin keturutan juga kesana. Bolosku dari pelatihan layout LPM Kentingan ternyata nggak sia-sia. Huahaha.
Dua minggu sebelumnya, pas aku nggak datang agendanya belajar. Jadi Minggu ini waktunya refreshing. Kamu tahu kemana kami refreshing hari itu? Ke Taman Cerdas. Kamu tahu dimana itu Taman Cerdas? Aku juga nggak tahu tepatnya dimana. Pokoknya, untuk menuju kesana, kami -para pendamping serta anak-anak lucu nan imut itu- berjalan sekitar entahlah berapa meter melalui gang, padang rumput, dan anjing galak -asli lho anjing galaknya-. Taman Cerdas yang kumaksud itu adalah sepetak tanah lapang dengan bangunan pendopo di ujungnya, perpustakaan di sebelah kanannya, lapangan sepak bola yang nggak terlalu besar dengan lantai semen, dan ayunan di sebelah kanan serta di depan pendopo. Taman Cerdas itu berada diantara pemukiman penduduk. Jadi, sewaktu kami datang sudah banyak anak yang berada disana, bermain sesuka hati. Aku langsung saja menuju ayunan dengan riang -maklum ya, MKKB alias masa kecil kurang bahagia-, lalu turun lagi karena adik di depanku bilang, "Mbak, ayunannya cuma buat anak-anak lho."
Sehabis bernostalgia dengan amsa kecil, aku mengikuti anak-anak berkumpul di pendopo. Para cewek sudah asyik memotongi kertas karton warna-warni. Entahlah apa yang akan mereka lakukan, sementara yang cowok-cowok berkumpul di lapangan, mau main bola. Tiba-tiba saja gerimis datang tanpa diundang. Tapi, Bayu, Mas Wisnu, Mbak Bungsu, Akfa, dan lima anak yang lain tetap asik menendang bola. Nggak beberapa lama kemudian, aku sudah menjadi penjaga gawang tim kakak pembimbing, ikut teriak-teriak dan tertawa keras-keras melihat Wisnu (ini Wisnu yang lain) terpeleset waktu mengejar bola. Selama satu jam berikutnya, sambil hujan-hujanan, kami main bola dengan senang gembira. Aku nggak tau hasil akhirnya, pokoknya timku menang aja. Meskipun bajuku belepotan lumpur, sore itu benar-benar menyenangkan.
Pukul 15.30, kelas SKBS usai. Setelah satu persatu anak-anak itu menyalami kami untuk pulang, aku, Mbak Dila, Mbak Widya, Mbak Bungsu, dan Rila pergi ke rumah sakit Dr. Oen. Gesha, salah satu peserta kelas SKBS dirawat disana karena sakit. Kayaknya sih DB. Waktu kami sampai di ruang tempatnya dirawat, Gesha lagi tidur-tiduran. Neneknya dengan ramah menyambut kami. Selama beberapa waktu kami ngobrol sama neneknya tentang sebab musababnya sakit. Makanan yang udah tersedia di meja pun nggak dia sentuh sama sekali.
"Gesha maem ya?" Mbak Bungsu menawari Gesha yang sejak tadi nggak mau makan. Gadis cilik itu menggelengkan kepala.
"Mau disuapin Mbak Bungsu?" Dia tetap menggeleng. Gitu terus sampai nama kami semua disebutin.
Dia tetap menolak kami sampai seseorang datang. Ibunya. Nah, setelah ibunya menyalami kami satu-satu, baru deh Gesha bilang, "Ma, maem."
Oh, ternyata dia nunggu mamanya yang nyuapin. Aku jadi terharu melihat adegan suap-menyuap itu.
Setelah kunjungan itu berakhir, maka berakhir pulalah hari Mingguku yang menyenangkan.
Pukul 15.30, kelas SKBS usai. Setelah satu persatu anak-anak itu menyalami kami untuk pulang, aku, Mbak Dila, Mbak Widya, Mbak Bungsu, dan Rila pergi ke rumah sakit Dr. Oen. Gesha, salah satu peserta kelas SKBS dirawat disana karena sakit. Kayaknya sih DB. Waktu kami sampai di ruang tempatnya dirawat, Gesha lagi tidur-tiduran. Neneknya dengan ramah menyambut kami. Selama beberapa waktu kami ngobrol sama neneknya tentang sebab musababnya sakit. Makanan yang udah tersedia di meja pun nggak dia sentuh sama sekali.
"Gesha maem ya?" Mbak Bungsu menawari Gesha yang sejak tadi nggak mau makan. Gadis cilik itu menggelengkan kepala.
"Mau disuapin Mbak Bungsu?" Dia tetap menggeleng. Gitu terus sampai nama kami semua disebutin.
Dia tetap menolak kami sampai seseorang datang. Ibunya. Nah, setelah ibunya menyalami kami satu-satu, baru deh Gesha bilang, "Ma, maem."
Oh, ternyata dia nunggu mamanya yang nyuapin. Aku jadi terharu melihat adegan suap-menyuap itu.
Setelah kunjungan itu berakhir, maka berakhir pulalah hari Mingguku yang menyenangkan.
Bagian Dua
Kamis, 28 Maret 2013 - Magelang, Kota Seribu Bunga
![]() |
| Magelang dalam kenangan *tsaah |
Mari kita skip saja hari Senin sampai Rabu yang penuh dengan berbagai kecamuk dalam jiwa. Halah. Oke, langsung ke hari Kamis. Sebelumnya, mari aku informasikan padamu bahwa untuk Buletin Civitas -salah satu produk LPM Kentingan- yang ke-35, aku nulis bagian profil. Nah, dari diskusi hari Selasa, ditetapkan profil untuk buletin edisi ini adalah Komunitas Wayang Onthel VOC dari Magelang. Kami akan mewawancarai Andri Topo, salah satu dalang wayang onthel. Maka, jadilah hari Kamis sore kemarin aku (agen Kentingan paling unyu), Mas Wisnu (pimred devil inside), Mbak Niken (penggemar Sheila on Seven selamanya), Mas Rochmad (PU LPM Kentingan), Mbak Eva (penebar jaring -entah apa ini maksudnya-), dan Wiwin (partner agen Kentingan paling unyu untuk menulis profil) berangkat ke Magelang dengan naik motor. Pukul 17.30 berangkat, pukul 23.30 sampai tujuan. Kok lama banget? Iya, soalnya pake acara nyasar segala. Malam itu, kami menginap di rumahnya Mbak Dani, anggota LPM Kentingan juga. Karena udah kecapekan, aku langsung tidur tanpa mandi.
Esoknya, setelah sarapan dan dandan cantik -celana jeans yang udah seminggu belum kucuci, kaos panjang, jilbab coklat, kaos kaki baru, sendal gunung-, kami bersama Mbak Dani berangkat ke tempat tujuan pada pukul 09.00. Setengah jam kemudian, sehabis blusukan ke dalam pemukiman penduduk yang masih asri untuk mencari rumahnya, akhirnya kami ketemu Mas Andri Topo di studio Wayang Onthel. Kupikir, studionya akan seperti studio-studio seniman gitu: sebuah pendopo berisi banyak barang hasil otak kanan. Ternyata, studio yang ia maksud adalah bekas pasar desa yang udah nggak berfungsi lagi.
"Maaf ya, memang seperti inilah keadaannya." Kata pria berusia 30 tahun itu.
"Nggak papa, Mas."
Kami berdelapan duduk di tikar yang digelar di salah satu bangunan pasar. Setelah kenalan, ngobrol basa-basi, aku dan Wiwin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang udah kami list sebelumnya. Dalang wayang onthel yang berpenampilan nyentrik ini -wajahnya mirip Udji lho, anak Kentingan juga- ternyata asik juga orangnya. Pembawaannya santai, terbuka, dan nggak canggung lagi ngomong di depan orang cukup banyak. Barangkali karena sudah sering diwawancarai sebelum ini kali ya. Tak jarang kami dibuat tertawa juga karena guyonan-guyonan yang dia lontarkan.
"Mas, udah pernah dapat penghargaan belum wayang onthelnya?" Wiwin menanyakan pertanyaan ke-12.
"Kalau resmi sih belum, Mbak. Dulu kami pernah mau diberi penghargaan oleh Pemerintah Magelang, tapi kami tolak." Jawabnya. "Ya saya pikir kami belum pantas menerima penghargaan apapun. Umur wayang onthel ini masih hijau. Kalau diibaratkan bayi, kami ini baru selangkah maju. Belum ada apa-apanya kok sudah disanjung-sanjung mau diberi penghargaan. Lebih baik kalau penghargaan itu diberikan pada mereka yang lebih pantas." Pria tiga bersaudara itu menjelaskan dengan rendah hati. Aku manggut-manggut mengerti.
"Kalau hak paten gimana Mas? Apakah wayang onthel udah punya?" Lanjut Wiwin.
"Wah, saya tidak paham soal hak cipta dan tetek bengeknya itu Mbak. Wayang onthel tidak punya hak cipta dan saya tidak berniat mengajukannya. Wayang onthel adalah milik bersama. Kalau orang di daerah lain mau membuat ya silahkan. Kami tidak melarang." Aku manggut-manggut lagi. "Yang penting misi kami tersampaikan Mbak. Yaitu gimana supaya generasi muda sekarang ini jadi generasi yang kreatif, nggak selalu jadi generasi ikut-ikutan. Saya tidak ingin wayang onthel ini diingat. Yang saya inginkan melekat di hati penonton itu adalah pelajaran moral yang kami sampaikan."
Tanganku sibuk mengopy apa yang Mas Andri katakan, sedangkan hatiku sibuk mencerna kalimat-kalimatnya. Orang ini berkata tentang misi dan perubahan. Orang ini nggak berkata soal melestarikan budaya, cinta Indonesia, dan sebagainya. Ia peduli pada generasi ini, tapi para birokrat bahkan salah mengerti.
"Waktu saya diundang di Kick Andy, saya membawakan cerita tentang jalur lambat yang diubah jadi trotoar di salah satu ruas jalan di Magelang. Secara tidak langsung, perubaha tersebut telah memaksa tukang becak yang mencari nafkah disana untuk berdampingan dengan kendaraan berkecepatan tinggi lainnya. Ini jelas merugikan. Cerita ini saya maksudkan untuk menyindir para birokrat yang mengurusi kota ini. Saya sudah menyiapkan berbagai argumen kalau sewaktu kembali ke Magelang akan diomeli habis-habisan." Pria berambut gimbal itu menghisap rokoknya. "Tapi yang saya dapat malah di luar dugaan. Saya dielu-elukan seperti pahlawan. 'Bagus Mas, tingkatkan lagi!' Saya tidak mengerti apakah mereka benar-benar tidak merasa sudah saya sindir atau pura-pura tidak mengerti." Kami semua tertawa getir mendengar realitas yang ia tuturkan.
"Ini sudah selesai, kan?"
![]() |
| Bersama para karakter wayang. |
"Oh, iya Mas. Udah." Jawab Wiwin. Aku memandang coretan-coretan pada setiap pertanyaan yang telah kami ajukan.
"Silahkan, diminum tehnya."
"Iya Mas."
Selama beberapa saat, kami sibuk dengan gelas masing-masing.
"Mas nggak pernah pengen kuliah?" Tiba-tiba aku nyeletuk.
"Saya dulu pernah kuliah di pertanian. Tapi belum ada satu semester sudah keluar. Nggak betah." Jawabnya.
"Lho, kenapa Mas?"
"Sebelumnya saya mau tanya. Sebenarnya esensi kuliah itu apa to? Kalian kuliah buat apa?" Dia mengedarkan pandangan pada kami. Aku berkata lirih soal cita-cita, pekerjaan, lalu kemudian terdiam. Sebenarnya buat apa aku kuliah?
"Buat nyari pekerjaan? Memangnya kalau kerja harus kuliah dulu?"
"Tapi kan kalo kuliah kesempatan bekerja jadi lebih besar, Mas."
"Nah, kalian kuliah untuk mencari ijazah kan?" Tembaknya kemudian. Mbak Dani mengangguk-angguk setelah sekian detik terdiam.
"Belajar tidak harus dari bangku kuliah kan? Saya belajar dari banyak hal. Dari teman-teman, kehidupan orang lain, semuanya. Mumpung masih muda kita itu harus kaya. Kaya pengalaman." Nah, kupikir inilah kekayaan yang nggak bisa ditukar dengan materi apapun. Kaya pengalaman. "Selain itu, emang karena nggak ada biaya juga sih. Kalau ada, ya saya kuliah. Kan asik ketemu banyak teman-teman baru, ngobrol-ngobrol ..." Suaranya sudah nggak aku dengar. Aku sedang ngomong sama diri sendiri. Aku beruntung bisa kuliah."Terus, kenapa Mas memilih jadi dalang?" Itu pertanyaan dari Mbak Dani.
"Karena mudah. Seseorang diciptakan ke dunia itu pasti punya misi. Dan inilah misi saya." Jawabnya singkat. Aku jadi ingat kata-katanya Pak Has, dosenku Komposisi. Setiap orang itu sudah punya tempat dan perannya masing-masing di dunia ini.
Setelah hampir dua jam ngobrol-ngobrol dan kenalan sama karakter-karakter wayang onthel, kami pun pamit pulang, membawa oleh-oleh yang lebih berharga dibanding hasil liputan itu sendiri. Hujan membungkus kota Magelang sore itu.
"Silahkan, diminum tehnya."
"Iya Mas."
Selama beberapa saat, kami sibuk dengan gelas masing-masing.
"Mas nggak pernah pengen kuliah?" Tiba-tiba aku nyeletuk.
"Saya dulu pernah kuliah di pertanian. Tapi belum ada satu semester sudah keluar. Nggak betah." Jawabnya.
"Lho, kenapa Mas?"
"Sebelumnya saya mau tanya. Sebenarnya esensi kuliah itu apa to? Kalian kuliah buat apa?" Dia mengedarkan pandangan pada kami. Aku berkata lirih soal cita-cita, pekerjaan, lalu kemudian terdiam. Sebenarnya buat apa aku kuliah?
"Buat nyari pekerjaan? Memangnya kalau kerja harus kuliah dulu?"
"Tapi kan kalo kuliah kesempatan bekerja jadi lebih besar, Mas."
"Nah, kalian kuliah untuk mencari ijazah kan?" Tembaknya kemudian. Mbak Dani mengangguk-angguk setelah sekian detik terdiam.
"Belajar tidak harus dari bangku kuliah kan? Saya belajar dari banyak hal. Dari teman-teman, kehidupan orang lain, semuanya. Mumpung masih muda kita itu harus kaya. Kaya pengalaman." Nah, kupikir inilah kekayaan yang nggak bisa ditukar dengan materi apapun. Kaya pengalaman. "Selain itu, emang karena nggak ada biaya juga sih. Kalau ada, ya saya kuliah. Kan asik ketemu banyak teman-teman baru, ngobrol-ngobrol ..." Suaranya sudah nggak aku dengar. Aku sedang ngomong sama diri sendiri. Aku beruntung bisa kuliah."Terus, kenapa Mas memilih jadi dalang?" Itu pertanyaan dari Mbak Dani.
"Karena mudah. Seseorang diciptakan ke dunia itu pasti punya misi. Dan inilah misi saya." Jawabnya singkat. Aku jadi ingat kata-katanya Pak Has, dosenku Komposisi. Setiap orang itu sudah punya tempat dan perannya masing-masing di dunia ini.
Setelah hampir dua jam ngobrol-ngobrol dan kenalan sama karakter-karakter wayang onthel, kami pun pamit pulang, membawa oleh-oleh yang lebih berharga dibanding hasil liputan itu sendiri. Hujan membungkus kota Magelang sore itu.
Bagian Tiga
Sekarang - Hatimu
Di kata pengantar dalam buku The Journey's terbitan Gagasmedia, tertulis akhir dari sebuah perjalanan adalah menemukan. Semoga, meskipun hanya lewat blog ini, kamu juga dapat merasakan oleh-oleh yang kubagi dari Solo dan Magelang. Semoga oleh-olehnya sampai ke hatimu sekarang :)
Epilog
Nah, begitulah ceritaku selama seminggu ini. Kalau kamu penasaran apa itu wayang onthel, silahkan googling aja atau baca di rubrik profil Buletin Civitas 35 LPM Kentingan UNS nanti! Yiihaaa! Hahaha. Oke-oke, cukup. Aku harus segera belajar buat UKD Azaz Manajemen besok. Oh iya, dan nulis. Progress novelku sudah 80% lhoo! Tapi ceritanya masih acak-acakaan. Huhuhu. Ah, satu lagi. Baca Bumi Manusia-nya Pramoedya. Yak, sori lho ya gue emang kuper hari gini masih mau baca ini novel. Tapi nggak papa kan? Lebih baik telat daripada enggak sama sekali. Nah, dari semuanya itu, yang pertama kali harus kulakukan malam ini adalah mandi. Yak, ciao cemun-cemun cemuanyaa! Aku cungguh cayang kaliaan! Muuaaah! Blogger alay mandi duyu eaaa~ *Kabuurrr*



Komentar
Posting Komentar