Ini Menyedihkan

Satu

Jam pertama mata kuliah hari ini adalah Manajemen. Kelas dimulai pukul 09.25, dan aku sudah di kampus setengah jam sebelumnya. Janjian sama siapa? Nggak ada. Habis, di kos udah mati gaya sih, jadilah aku berangkat kuliah lebih awal. Aku berencana sarapan di kantin dulu sebelum naik ke kelas. Tapi, karena kantin penuh banget, jadilah aku menghabiskan waktu di Hutan FISIP sambil merevisi draf pertama novelku.

Pukul 09.17, aku naik ke lantai tiga Gedung II, duduk di barisan kedua, lalu kembali menekuri draf pertama novel yang harus segera kuselesaikan revisinya kurang dari tiga hari lagi. Tapi, aku harus rela konsentrasiku buyar oleh teriakan lagu ulang tahun dari arah pintu masuk. Rere dan anak kelas B yang lain, membawa sekotak brownies dengan lilin-lilin menyala di atasnya. Mereka semakin bersemangat menyanyi diikuti oleh teman-teman sekelas yang lain. Mira, si gadis ulang tahun tampak sangat bahagia menerima kejutan menyenangkan ini. Ah, tentu saja dia bahagia. Tanpa sadar, bibirku tertarik ke atas melihat semua ini. Kelas B mengingatkanku pada kelasku dulu, X9. Tiba-tiba aku merasa kesepian.


Dua


Genjes membuat status berjudul "Epilog untuk Sahabat" di facebooknya untuk memperingati ulang tahun kami -Aku, Genjes, Tito, Ikanov, Nia, dan Niken- yang ke-4. Wow. Seharusnya sekarang ini kami menghabiskan waktu bersama, kemah kek kemana, mengelilingi api unggun sambil berceloteh ria. Just like the past. But it's impossible. Dengan hubungan LDR macam begini. Kemudian yang kurasakan adalah sepi.  Lagi. Saat menulis ini aku merasa jauh sekali dari mereka. Dari dulu aku memang merasa demikian. Ah, bahkan ketika dunia maya nggak lagi membuat jarak berarti. Di facebookpun yang kulakukan hanyalah sekedar memberi jempol pada status yang mereka buat -itupun kalau benar-benar kusukai-, ikut berkomentar kalau ditag -itupun kadang nggak ikut komentar juga-, dan yang paling banyak porsinya adalah stalking. Aku tahu segala kegiatan yang sedang mereka lakukan, emosi yang mereka rasakan, semuanya  melalui update status yang mereka buat. Tapi sungguh jarang kulakukan sesuatu terhadapnya -berkomentar, ngelike-. Jangan tanya soal SMS-an. Itu lebih jarang lagi kulakukan. Kecuali kalau ada yang SMS duluan, pasti aku balas.

Sampai disini aku masih merasa sepi. Tapi entah kenapa aku nggak bisa ngomong ke mereka. Hah, nggak taulah. Dari dulu aku nggak bisa ngomong frontal soal yang beginian. Satu-satunya hal yang membuatku merasa dekat dengan mereka adalah menulis seperti ini, lalu kutujukan tulisan yang kubuat untuk mereka, teman-teman terbaik pertamaku. Ya, sementara mereka semua berusaha peduli dengan sekedar menyapa hai duluan di SMS, ngetag status kangen di facebook, dan lain sebagainya, aku hanya mengeluh jauh dari mereka di sini, dengan kemungkinan mereka membaca sangat kecil. Kurasa pangkal kesepian ini juga datang dariku sendiri. Dari dulu, yang selalu kulakukan hanya menulis untuk mereka tanpa berusaha membuat mereka mengetahui semua yang kurasakan. Ini menyedihkan. 

Komentar

  1. mulai biasakan dengan hal2 yang baru, tapi dengan tidak melupakan yang lalu ...
    soalnya tidak semuanya bisa berjalan seperti yang dulu ..

    #kepercayaan sajalah yang sebenernya dibutuhkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer