Lukisan pada Truk

Hari Jumat kemarin, rapat majalah XX LPM Kentingan UNS membahas tentang tema untuk rubrik Sekitar Kita. Dari 15 usulan yang masuk, terpilihlah tiga usulan dengan peminat (?) paling banyak: mall-isme, penjual baju bekas, dan lukisan pada truk. Aku sendiri termasuk tim sukses tema ke-3. Waktu ditanya alasannya,  kujawab begini, "Soalnya selama truk masih eksis di dunia ini, lukisan di truk nggak akan lekang oleh waktu." Nggak intelek banget ya. Setelah melalui perdebatan yang cukup seru, akhirnya lukisan pada truk keluar sebagai pemenang. "Yeee!" Sorak sorai terdengar membahaa dari sekre Kentingan tercinta.

Kami semua gembira, Han yang kebagian menulis merana. Hahaha. Kenapa? Karena selain seru aja gitu lho, belum ada yang ngulas, dan alasan-alasan nggak mutu lainnya tapi emang kuat banget itu, semuanya masih kesulitan menentukan dari sudut pandang mana (angle) lukisan pada truk ini akan ditulis. Pertanyaan-pertanyaan dan asumsi-asumsipun muncul sore itu: lukisan pada truk adalah media interaksi (atau iklan) yang lain, ada pesan-pesan tertentu yang ingin disampaikan melalui lukisan-lukisan pada truk itu, kenapa harus dilukis di bak truk dan bukan kendaraan-kendaraan yang lain, dan masih banyak lagi. Semuanya mencoba menelaah maksud dibalik tulisan "Kutunggu jandamu", atau "Papa pulang mama basah" di bak truk-truk yang setiap hari melewati jalan raya Indonesia.

Aku sendiri bingung juga masalah angle ini. Dilihat dari sudut pandang manapun (apalagi dari sudut pandangku sendiri), cukup sulit mencari bagian cerdas yang kiranya bisa ditulis mengenai lukisan pada truk biar tidak terkesan dangkal. Aku jadi ingat kata-kata Mas Haris kemarin, "Manusia itu aneh. Sok-sok an intelek membahas hal-hal kayak ginian, padahal mungkin lukisan ini emang dibuat untuk seneng-seneng aja."

Bisa jadi, lukisan ini hanyalah lukisan.
Manusia memang terlalu banyak berasumsi.


Komentar

Postingan Populer