Sambil Nugas
![]() |
| Ini mimpi, bukan obsesi (?) |
Aku sedang mengerjakan tugas Filsafat Ilmu tentang dimensi aksiologi. Dimensi ini membahas tentang nilai guna dari ilmu yang telah diperoleh seseorang. Dari dua halaman pembahasan yang kutulis, kurasa intinya begini: ilmu itu akan menjadi bermanfaat kalau dimiliki oleh orang yang tepat. Kalau tidak, bukan mustahil ia bisa menjadi senjata penghancur seluruh rakyat. Kalau kata Einstein, "Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh." Begitulah.
Tugasku belum selesai. Aku masih harus memikirkan beberapa kalimat untuk menjadi penutup ulasan tentang dimensi aksiologi ini. Kuketikkan beberapa kalimat di Microsoft Word, lalu kuhapus lagi. Berapa kali sudah kuulangi kegiatan itu. Karena nggak juga nemu kalimat yang pas, maka jadilah aku twitteran, lalu menemukan sebuah kicauan tentang novel yang ditulis dalam blog, judulnya A Heart of Yours. Aku membaca beberapa bagian dalam novel itu, juga kritikan-kritikan yang menyertainya. Ah, aku barus menyadari sesuatu. Kan bisa juga menulis novel di blog. A dedicated blog for novel. Keren. Tapi bukan itu yang membuatku memosting segini sore.
Setelah membaca novel blog tadi, aku jadi ingat kata-kata Mbak Addin, pendamping kelompokku waktu ospek setahun silam. Katanya, "Kalau kamu menginginkan sesuatu, simpan keyakinan itu dalam diri kamu, terus kamu lakuin hal yang lain-lain (mungkin maksudnya nggak terlalu fokus sama keinginan itu), nah, suatu saat keinginan itu pasti terkabul." Dia sendiri buktinya. Mbak Addin adalah Mawapres FISIP tahun lalu. Katanya, dia emang pengen jadi Mawapres, tapi nggak pernah sekalipun dia jadi terobsesi mengejarnya. She just put that belief on her heart, lalu dia melakukan hal yang lain-lain sebaik mungkin: menjadi pelayan yang baik bagi orang lain, ikut DEMA, dan lain-lain sebagainya. Setelah itu, akhirnya, waktu dia udah semster 6, dia mengajukan proposal untuk Mawapres seminggu sebelum DL, lolos, jadilah dia wakil dari FISIP untuk maju ke Mawapres tingkat Universitas. Ah, manis.
Setelah membaca novel blog tadi, aku jadi ingat kata-kata Mbak Addin, pendamping kelompokku waktu ospek setahun silam. Katanya, "Kalau kamu menginginkan sesuatu, simpan keyakinan itu dalam diri kamu, terus kamu lakuin hal yang lain-lain (mungkin maksudnya nggak terlalu fokus sama keinginan itu), nah, suatu saat keinginan itu pasti terkabul." Dia sendiri buktinya. Mbak Addin adalah Mawapres FISIP tahun lalu. Katanya, dia emang pengen jadi Mawapres, tapi nggak pernah sekalipun dia jadi terobsesi mengejarnya. She just put that belief on her heart, lalu dia melakukan hal yang lain-lain sebaik mungkin: menjadi pelayan yang baik bagi orang lain, ikut DEMA, dan lain-lain sebagainya. Setelah itu, akhirnya, waktu dia udah semster 6, dia mengajukan proposal untuk Mawapres seminggu sebelum DL, lolos, jadilah dia wakil dari FISIP untuk maju ke Mawapres tingkat Universitas. Ah, manis.
Setelah mengingat ini semua, aku jadi sadar. Kalau kuingat-ingat, postingan di blogku ini kebanyakan memang tentang aku yang pengen jadi penulis, motivasi-motivasi untuk terus menulis, ah, apapun, pokoknya endingnya pasti soal pengen jadi penulis. Bahkan, tumblrku yang dulu (sebelum berubah haluan jadi album gambar) alamatnya writingismyworld yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa ibuku kurang lebih menjadi begini: menulis adalah duniaku. Wow. Dulu alamat itu emang aku banget rasanya. Postingannya pun isinya tentang perkembangan novel yang tengah aku tulis, mimpi-mimpi jadi penulis, motivasi, quotes, ah, pokoknya nggak ada hal lain selain tentang menulis disitu. Tapi, setelah kubaca-baca lagi, uh, rasanya gimana gitu. Seems like I'm too obsesed with being a writer.
Haah meskipun membacanya membuatku yakin pada mimpiku ini lagi, kayaknya aku dulu terlalu berlebihan. Terlalu fokus sama duniaku sampai-sampai nggak tahu menahu tentang yang lain-lain, jadi nggak ada inspirasi nulis, dan akhirnya bosen nulis. Hahahaha. Yah, aku sungguh tahu kalau menjadi penulis adalah salah satu daftar teratas dalam mimpi-mimpiku. Tapi, rasanya nggak tepat juga kalau aku mengabaikan yang lain-lain. Kurasa aku akan menulis dengan lebih baik kalau aku melakukan banyak hal yang lain dengan baik juga. Oh, satu lagi: membaca dengan baik. Well, I'll just doing what I like.
"Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok" (Sang Alkemis, Paulo Coelho)
PS.
Inti dari filsafat sebenarnya adalah mendapatkan kebenaran yang sejati (bukan kebenaran mutlak, karena yang itu cuma milik Tuhan), melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang biar bertindak secara adil, lalu akhirnya mendapat pencerahan. Tapi, sampai saat ini aku merasa masih belum tercerahkan -_-


haha setuju. . jika kamu ingin menulis, menulis lah, ingin menggambar menggambarlah...
BalasHapushaha koyok aku ae sing gak jelas :D
kowe kan emang ket mbiyen ra jelas njes :p
BalasHapus