Hidup Dunia Nyata!

Wow. It's been quite long I'm not writing to you. Apa kabar kamu? Baik-baikkah? Pasti baik kan? Kalau nggak baik, sugestikan dirimu untuk baik-baik saja. Katanya Sabda PS, "lo adalah hasil karya lo sendiri." Jadi, jangan biarkan orang lain merusak diri kamu dengan hal-hal negatif yang sebenarnya nggak perlu. Begitulah.

Jadi, setelah sekian lama nggak menulis dan curhat padamu, kali ini aku akan menulis tentang ... Well, entahlah. Aku juga nggak tahu mau menulis apa. Hahaha. Rasanya akhir-akhir ini tulisanku kok nggak jelas banget. Nggak tau deh, beberapa hari ini aku memang merasa jengah dengan dunia maya, jadi nulis di sini pun jadi nggak ada rasa. Apalagi menulis di social media. Hampa. Sempat selama dua hari facebookku aku matikan pula. Tanya kenapa.

Kalau dalam makalah Komunikasi Massa yang beberapa hari lalu kukumpulkan, dunia maya yang artinya segala hal diakses melalui internet ini disebut sebagai media baru. Dengan media baru ini kamu dan aku tentu bisa merasakan kemudahannya bukan? Dari rumah sambil ngeteh pun kita bisa belanja apapun yang kita mau lewat online shop. Kalau harus hidup tanpa internet, entahlah, membayangkannya saja sulit rasanya. Tanpa internet, hampa hidup terasa. Bagaikan sayur tanpa garam. Bagaikan bumi tanpa langit. Bagaikan malam tak ada siang. Bagaikan aku tanpamu. Tsah ... Internet mendekatkan mereka yang jauh, tapi tak jarang juga menjauhkan yang dekat. Bagai kuman di ujung dunia terlihat jelas, gajah di pelupuk mata berefek gaussian blur yang parah.

Yah, begitulah. Era digital memang membuat jarak sudah lagi tak berarti. Kecuali kalau sinyal atau sekalian internetnya mati. Itu pasti. Tapi, dengan segala kemudahan yang ada, sekali lagi, aku merasa jengah. Jenuh. Bosen. Bahkan ilfeel pun sempat. Kenapa? Karena rasanya apapun yang orang-orang katakan di dunia maya, utamanya, social media itu sungguh ... Aku bahkan nggak tau kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku terhadap, utamanya, ciptaan Mark Zuckerberg itu. Astaga. Lagi ngambek nyetatus. Lagi patah hati nyetatus. Udah telat berangkat sekolah atau kuliah aja masih sempat bikin status. Lagi sakit apalagi. Bukannya segera berobat dan istirahat yang cukup aja malah memberi pengumuman di facebook atau twitter kalau lagi sakit. Pacaran di facebook -sekarang di twitter juga udah mulai ramai juga sih, manas-manasin yang masih pada single aja-. Bahkan berdoa pun kiranya malah dianggap lebih efektif kalau lewat facebook atau social media yang lain daripada langsung meminta pada-Nya. Habis, nggak jarang aku menemukan status Ya Allah bantu aku melewati semua ini dan semacamnya di timeline. Astaga.  Demi Tuhan! Marah-marah lewat facebook. Nyindir orang lewat facebook. Nusuk teman dari belakang lewat facebook juga. Malahan lahir istilah perang status segala. Astaga. Astaga. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi ini? Haruskah seluruh dunia mengetahui segala yang kita rasakan saat ini? Haruskah seluruh dunia tahu kalau kita baru saja makan enak, keluar sama pacar, marahan sama seseorang, galau, dan semuamuanya. Haruskah? Haruskah? Kalau dunia bisa ngomong, mungkin sehabis aku atau kamu nyetatus sampai kapan derita ini akan berakhir dunia bakal bilang, mana gue tau? Emang penting gitu elu ngomong ke gue? He?

Ya ampun. Dari segala hal positif yang bisa kita lakukan dengan dunia maya utamanya media sosial kayak mempermudah publikasi event, bersua dengan sahabat lama, membagikan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi orang lain, kenapa kita malah menggunakannya untuk membagikan segala apa yang ada dalam hidup kita ke orang-orang yang sering kali nggak begitu kita kenal (kan pernah juga kita asal menerima permintaan teman)? Aku dulu juga kayak gitu. Apapun yang kualami dan kurasakan aku share ke facebook. Sekarang sih, postingan-postingan begituan sudah mulai kukurangi. Emang sih kalau dapet like banyak plus menuai komentar bejibun rasanya ngeksis, (kelihatannya) punya banyak temen, seneng aja gitu. Eh, lama-lama rasanya kok aku malah mengumbar privasi. Facebook berubah jadi buku harian digital, eh, buku detikan bisa kali kalo emang niat banget nget. Mana yang privasi sama enggak jadi nggak kelihatan. Aku sedih, marah, patah hati, lagi dimana, sama siapa, ngapain, semua teman-temanku bisa tau. Well, tentu saja tau yang kumaksud ini termasuk pula keadaan jiwaku (kalo statusku lagi super galau). Astaga. Baru sekarang aku merasa ini semua seram sekali.  Rasanya aku jadi sama sekali nggak punya ruang pribadi (meskipun akun facebook itu milikku sih) untukku sendiri karena semuanya udah ada di sana. kalau ada yang niat ngepo (kayak ada aja hahaha), langsung terkepolah (?) seluruh hidupku tanpa mereka bersusah payah berkorespondensi dengan teman-teman dekat yang benar-benar mengerti tentang diriku *halah*. Oh men, ini nggak asik banget. Nggak keren pula. 

Yah, sebenarnya berbagi itu nggak papa juga sih. Meskipun merasa jengah begini, aku juga masih berbagi status dengan teman-temanku kok. Tapi nggak seintens dulu. Habis, waktu mikir apa yang bisa orang lain lihat tentangku setelah membaca status yang sebenarnya nggak penting-penting amat dan malah cenderung cuma berniat ngeksis, aku jadi merasa nggak nyaman.  Sekarang aku mencoba untuk nyetatus seperlunya aja, kalo emang lagi kangen banget sama teman-temanku dan nggak bisa telepon atau mereka lebih sempat facebookan daripada membalas SMS yang masuk, dan tentunya belajar berbagi hal-hal yang bermanfaat juga. Gitu aja sih. 

After all, aku memang nggak terlalu suka dengan yang namanya dunia maya. Tapi, nggak bisa dipungkiri juga kalau aku juga nggak bisa hidup tanpanya. Kalau kita emang bisa memanfaatkannya dengan baik, akan ada banyak hal baik juga kok yang bisa kita dapatkan daripadanya. And now I'm trying to get a good one. Oh iya, satu lagi. Seasik-asiknya dunia maya, sebenarnya masih super asik dunia nyata. Serius. Coba kamu bayangkan kita semua (semua orang di dunia ini tanpa kecuali) jadi terlalu asyik dengan dunia maya, berdekatan dengan mereka yang jauh, setiap detik fokus sama segala gadget yang menghubungkan dengan dunia virtual itu tanpa melihat gajah di pelupuk mata (maksudnya jadi anti sosial). Yang bisa kita lakukan tentunya adalah membaca teks-teks yang orang lain kirimkan tentang pemandangan-pemandangan yang indah, mendengarkan suaranya yang ingin melihat pemandangan itu bersama kita, dan melihat wajah berseri-serinya lewat monitor ketika menceritakan semua itu. Pendeknya, bayangkan saja kita orang-orang yang ada di dalam kapal The Axiom dalam film Wall-E yang sibuk sendiri-sendiri dengan monitor di depannya tanpa punya perhatian dengan sekitarnya. Di sana memang terjadi sosialisi, komunikasi, tapi dengan mereka yang tak pernah benar-benar mereka temui. Kalau kehidupan jadi seperti itu, alangkah kesepiannya hidup kita tanpa kita sendiri sadari. Aku bahkan terkadang merasa kesepian sewaktu melihat status orang-orang di beranda facebookku tanpa seorangpun yang bicara padaku. Kalaupun ada, aku nggak pengen bicara lewat dunia maya begitu. Aku ingin benar-benar melihat wajah mereka yang gembira waktu bercerita, merangkul bahu mereka, berjalan-jalan bersama ke suatu tempat. Entahlah. I mean, just the real one. Benar-benar menyentuh kulitnya, benar-benar mendengar suara bersama intonasi dan ekspresi wajahnya, benar-benar berjalan di sampingnya, pokoknya yang nyata deh. Yang terlihat wujudnya. Seperti Mary dan John yang akhirnya  teralihkan dari monitor yang selalu ada di hadapan mereka, lalu menyadari indahnya benar-benar hidup di dunia nyata karena Wall-E.

The Axiom dan penduduknya.
John
Mary

Mereka belum kenalan.
Tangan mereka bersentuhan.




Dunia maya memang ajaib. Tapi, kamu tentu tahu kalau sehebat apapun dunia maya, ia tak akan bisa menukar beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari dunia nyata, semisal pelukan hangat dari orang yang kita sayangi. Hidup dunia nyata!



Salam literasi media,
Bocah yang lagi ilfeel sama dunia maya (utamanya media sosial) tapi ngeluhnya di dunia ini juga.


Na'im keren.

Komentar

Postingan Populer