Highest Gift in The World
Sudah pernah kubilang padamu kalau aku kangen naik gunung. Kangen capeknya, kangen maksain kaki untuk terus melangkah, kangen tidur di pelukan sleeping bag, bahkan kangen bawa beratnya tas carrier. Seminggu setelah ulang tahunku yang ke-19 empat Mei lalu, seorang temanku dari MAHAFISIPPA (Mahasiswa FISIP Pecinta Alam) mengajakku naik ke Gunung Sumbing yang terletak di tiga kabupaten: Wonosobo, Magelang, dan Temanggung. Ketika dia mengajakku beberapa hari sebelum ulang tahunku, kubilang ya padanya. Ya, tentu saja. Kan sudah pernah kubilang kalau aku kangen naik gunung. Dia semangat banget waktu itu.
"Siapa aja yang dari sini?" Tanyaku.
"Aku, kamu, Kiky, Mbak Dika. Ntar naiknya sama anak-anak dari Bandung juga." Begitu jawabnya.
"Waaa asik bangeet!"
"Makane, kowe kudu melu. Awas nek ora!" Nah. Dia selalu begitu. Kowe kudu melu.
Hari-hari pun berlalu semenjak dia mengajakku melakukan hal yang kukangeni: naik gunung. Dia mengirim daftar perlengkapan apa aja yang musti kami bawa, SMS ngajakin fisik, yah, pokoknya semacam koordinator yang baik deh. Tapi, menanggapi itu semua yang kulakukan malah menghilang dari peradabannya sampai semalam sebelum (seharusnya) kami berangkat. Malam itu, kukirimkan pesan ini padanya lewat facebook:
I'm going to make you dissapointed of me. So much. Because I'm not going to Sumbing this Wednesday. I'm not gonna say what's the reason, 'cause I know, whatever I'm saying to you, it will not use at all. So, I'll ask an apologize to you, my dear friend. I'm sorry. I'm so sorry. I broke our plan all the time. I'm sorry for that....I'm so sorry Jik. I'm terribly sorry. I'm really not a good friend. Hehe. See ya.
Begitulah. Akhirnya aku nggak jadi ikut naik ke Sumbing. Aku nggak jadi ikut naik gunung. Satu kegiatan yang kukangeni setengah mati. Dia? Tentu saja dia tetap berangkat. Katanya, sehabis dari Sumbing dia dan teman-teman naik ke Sindoro sekalian. Padahal logistik menipis.
"Pas liat Sindoro, wah, menggoda. Nggak lengkap rasanya kalo ke Sumbing nggak sekalian ke Sindoro. Anak-anak juga pada pengen sih. Akhirnya, pake uang seadanya kami beli roti. Tapi, tetep aja kehabisan air di sana." Sebenernya, nggak tepat begitu juga sih kalimatnya waktu dia cerita ketika akhirnya kami ketemu sehabis dia mendaki. Tapi, intinya mereka naik ke Sindoro juga, kehabisan air, lalu menanti pertolongan dari pendaki yang lain. Hahaha. Nekat. Untunglah mereka selamat.
![]() |
| Mereka sampai di puncak |
![]() |
| Mbak Dika |
| Temannya Ajik |
![]() |
| Si Yangmau-maunyarepotbikinpapercraftdanmembawanyasertanaikgunung: akhirnya kutemui juga spesies manusia langka di sini |
![]() |
| Thankyou :)) |
Still,
A-happy-May-girl










Komentar
Posting Komentar