Karena Tulisan

Pram menghabiskan hampir separuh hidupnya di penjara. Tiga tahun dalam penjara Kolonial, satu tahun pada masa pemerintahan Orde Lama, dan 14 tahun pada masa Orde Baru. Ketika ia memperoleh surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S PKI, Pram masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih dua tahun. Namun, tentu saja, penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional.
-
Wiji Thukul, penyair cadel aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu hilang tak diketahui rimbanya hingga kini. Entah ia masih bernafas, entah tidak. Rezim Orde baru menganggapnya sebagai penyebar propaganda melawan pemerintah melalui  sajak-sajak yang dikarangnya. Dua tahun dalam masa pelarian, berpindah-pindah kota, akhirnya pada tahun 2000 ia dilaporkan hilang oleh istrinya, Dyah Sujirah alias Sipon.
Wani,bapakmu harus pergi 
kalau teman-temanmu tanya 
kenapa bapakmu dicari-cari polisi 
jawab saja:"karena bapakku orang berani" 
(Puisi dalam pelarian)
Sultan telah melarang beliau memberi pena, kertas, dan tinta. Karena keinginannya yang kuat untuk menulis, ia meminta muridnya itu untuk melemparkan arang-arang ke dalam penjara yang mengungkungnya. Mulai hari itu, arang yang menari di atas tembok menjadi saksi salah satu karya besarnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah. Kalau Pram menghabiskan hampir separuh hidupnya di dalam penjara, Wiji Thukul hilang entah kemana, maka Ibnu Taimiyah benar-benar wafat di dalam penjara Qal'ah Dimasyq disaksikan oleh muridnya itu, Ibnul Qayyim al Jauziyah. Ketika wafat, buku-bukunya dibakar dan dihancurkan, Ibnul Qayyim diarak keliling kota, terikat di atas gerobak sampah. Orang-orang mengejek, mengolok, meludahi, dan melemparinya dengan buah busuk. Hari ini, dalam katalog hampir semua perpustakaan orang menjumpai nama Ibnu Taimiyah, di toko-toko buku. Ada. Selalu ada.
-
Karena tulisan Pram dipenjara. Karena tulisan pula Wiji Thukul si Penulis Pamflet hilang entah kemana. Pun karena tulisan Ibnu Taimiyah, syaikhul islam itu harus meregang nyawa. Betapa besar pengaruh tulisan pada masa itu. Ia adalah senjata yang ditakuti oleh penguasa. Karena dari tulisan tersebar propaganda, kebenaran yang kerap berusaha disembunyikan, lalu muncullah perlawanan, kemudian penguasa jahanam berhasil ditumbangkan. Tulisan-tulisan itu, kupikir, dibuat dengan niat-niat yang baik, ada tekad demi tegaknya kebenaran di sana. Ada misi agar orang-orang juga ikut melawan. Tak ada niat memperoleh uang di dalamnya. Apalagi ketenaran.

Lalu aku? Tulisan-tulisan di dalam sini jelas menyebutkan bahwa aku ingin menjadi seorang penulis, yang dalam kata lain aku ingin dikenal sebagai seorang penulis. Ingin dikenal sebagai seorang penulis bisa diartikan juga sebagai ingin terkenal sebagai penulis. Hahaha. Ini ... Entahlah, lucu atau miris. Dibalik semua inginku jadi bermanfaat buat orang lain lewat tulisan, ternyata kedok ingin terkenal jadi penulis masih menyertai. Cetek banget ini otak. Ah, tulisan-tulisan disini bahkan sangat mungkin membuat orang-orang yang membacanya lebih melihat padaku ketimbang tulisanku. Kata Ali bin Abi Thalib, tulislah sesuatu yang membuatmu bahagia di akhirat nanti. Aku? Jauh.

Komentar

Postingan Populer