Kamis, 20 Juni 2013

Setelah Tanjakan Cinta
Seseorang  : Nem Semeru, Nem
Aku           : Kapan kooohh?
Seseorang  : Kamis berangkat Malang, Jumat siang track (Ranu) Kumbolo
Aku           : -______________-

Percakapan lewat facebook itu terus berlanjut sampai detik ketika aku menuliskan ini. Mas alumni GP (Ganesha Pala) itu terus menggerecokiku dengan betapa nikmatnya tidur di dalam tenda yang dilumuri embun yang mengkristal, ngecamp di balik bukit agak jauh dari Ranu Kumbolo, minum kopi pahit yang direbus menggunakan spirtus, makan pancake buatannya -katanya ala porter pas dia naik ke Rinjani-, dan sebagainya, dan sebagainya. Kata-katanya langsung mengingatkanku pada pagi menjelang siang yang superdingin di lereng hampir puncak Semeru ketika aku memeluk gunung tertinggi di Jawa itu dengan kedua tanganku yang yah, boleh dikatakan hampir beku. Maksud hati memeluk gunung, dan aku sampai! Ah, aku ingin sekali mengulangi saat-saat itu. Ketika ajakan nak gunung ini datang, kerinduanku semakin menjadi-jadi pada jalan-jalan berkelok menuju puncak itu. Kalaupun bukan Semeru, aku pun pasti merasakan hal yang sama: kangen naik gunung.

Hatiku sudah bilang ya aja dari tadi soal Kamis nanti (20/7) ketemu di Malang jam entahlah. Tapi, kamu tahu sendiri kan aku sudah sebulan lebih nggak pulang? Ditambah hari itu juga ibuku akan berangkat ke Bali selama lima hari penuh? Yah, jadilah ... I've to go home. Kalau ijin terang-terangan naik gunung? Ah, kecil kemungkinan nggak dibolehin. Kalo nekat? Bisa aja sih, tapi ... Ah, iya. Uang. Aku nggak punya uang. meskipun transport udah ada yang bayarin sih, tapi ... Ah, tugasku belum kelar juga. Piye? 

Well, no execuse. I've to find the way. Kamis, 20 Juni 2013. Semeru, kau rindu padaku tidak?

Komentar

Postingan Populer