Kepiye Kabare, Penak Jamanku to?

Yakin?
Hari ini BBM (Bahan Bakar Minyak) resmi naik dari Rp4500 per liter jadi Rp6500 per liter. Rakyat Indonesia masih pada ribut. Di dunia nyata maupun dunia maya, semua urun pendapat soal kenaikan harga BBM ini, seriusan maupun guyonan. Mahasiswa dan buruh berorasi, mereka (tentu saja) menuntut agar kebijakan ini ditangguhkan. Akan membikin susah rakyat miskin yang telah susah katanya. Mereka berteriak atas nama rakyat sambil bakar ban, naik truk dinas pemerintahan, merusak fasilitas-fasilitas umum, apapun deh, yang penting BBM nggak jadi naik. Lantas, slogan "Kepiye kabare, penak jamanku to?" pun jadi tren, nggak lupa beserta gambar Pak Harto yang melambaikan tangan sambil senyum ganteng.Melihat fenomena "Kepiya kabare, penak jamanku to?" ini, agaknya kita semua lupa bahwa lebih dari satu dekade lalu kita (mahasiswa) juga melakukan orasi yang sama untuk menurunkan presiden yang memerintah selama 32 tahun, menghilangkan aktivis-aktivis Indonesia yang dianggap berbahaya bagi pemerintah, membungkam mereka yang berani bicara, menegakkan nepotisme di bumi pemerintahannya, dan lain sebagainya ini.

Di grup Ikatan Mahasiswa 2012 pun topik yang lagi ramai diperbincangkan adalah soal kenaikan harga BBM ini. Banyak yang menolak, tentu saja. Tapi nggak sedikit pula yang datang dengan solusi. Juga ada mereka yang menerima dengan lapang dada, be wise katanya. Kita nggak bener-bener tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas sana soal Rp1500 harga BBM yang naik ini. Kalau mau berbaik sangka, para wakil rakyat ini pasti sudah memikirkan matang-matang soal Rp1500 ini.


Tapi, ada salah satu postingan yang menarik di sana:


Harga BBM, Rp 700 (1993) vs Rp 6500 (2013)
Mana yang lebih murah?
  • Dari segi harga minyak dunia dan penurunan kurs rupiah.
    Perubahan harga minyak dunia:
    16,75/ barrel (1993) > 87,13/barrel (2013): naik5,2 kali lipat

    Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar:
    1.842/dollar (1993) > 9.890/dollar (2013): turun 0,19 kali lipat  (sekitar 1/5)


    Jadi, jika ingin mengambil tingkat keuntungan yang sama dengan tahun 1993,
    harga Rp 700 (1993) setara dengan harga Rp 19.550 ( di tahun 2013)


  • Dari segi daya beli masyarakat (berdasarkan GDP)
    Kenaikan pendapatan per kapita kita:
    1.600 dollar(Thn 1993) > 4.670 dollar (Thn 2012): Naik 2,92 kali lipat

    Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar:
    1.842/dollar (1993) > 9.890/dollar (2013): turun 0,19 kali lipat (sekitar 1/5)


    Jadi, dari segi daya beli, nilai Rp 700 di tahun 1993 setara dengan Rp10.970 di tahun 2013


Jika ingin tahu mana yang sebenarnya lebih murah, jangan bandingkan Rp700 (1993) vs Rp 6.500 (2013), tapi bandingkanlah angka Rp19.550 vs Rp6.500  (dari segi rasio terhadap harga normal dunia) atau Rp10.970 vs Rp6.500 (dari segi daya beli masyarakat).


Jadi, harga Rp700 di tahun 1993 itu ternyata jauh kurang ajar mencekiknya.

sumber: googledocs@kaskus


Entah postingan tersebut benar adanya atau tidak, yang pasti, kita memang nggak bisa membandingkan yang dulu dengan yang sekarang. Jelas beda. Pacarmu yang sekarang aja pasti nggak rela kalo kamu bandingin sama mantanmu. Setelah melalui Orde Baru, ibaratnya kita lulus SD dengan baik. Setelah reformasi, kita lulus SMA dengan buruk. Seburuk apapun kita di SMA, masa iya kita mau balik lagi ke SD? Kan enggak? Bahkan kalo mantan minta balikan lagi aja seringnya kita nolak. Siapa yang mau masuk ke lubang yang sama dua kali? Seperti kata Keris Patih, sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu, sejuta kata maaf terasa kan percuma~

Well, sepanjang apapun tulisan ini, harga BBM juga sudah naik. Stop arguing, enjoy the price, and everybody can buy BBM (Bahan Bakar Minyak) in peace. 

Jadi, "Kepiye kabare, penak jamanku to?" Sebelum menjawab iya, mari kita berpikir ulang, jangan asal ngomong, jangan asal aksi, *jangan asal nulis juga Im!* pokoknya jangan asal-asalan. Piye, penak jamane sopo sidane? Be wise.

Komentar

Postingan Populer