Mahasiswi di Bulan Juni (?)


Jadi, tanggal 26 Mei yang lalu hasil SNMPTN Undangan diumumkan pada pukul 16.00. Menurut berita dari Kompas, sekitar 100.000 calon maba dinyatakan lolos dan 500.000 yang lainnya harus bersabar sedikit. Waktu pengumuman, aku masih dalam perjalanan menuju Pok Tunggal, salah satu pantai di Gunung Kidul dengan beberapa temanku sekelas. Waktu pulang hari Sabtu dan mengecek twitter serta facebook, sungguh, ternyata di sana sudah ramai dengan adik-adik kelas yang berucap syukur karena diterima di PTN idaman maupun yang menyemangati diri karena keterimanya bakalnya lewat SBMPTN, bukan SNMPTN. Sang kakak kelas alias maba yang hampir selesai masa jabatannya pun ramai-ramai pasang status nyelamatin dan menyemangati. Karena nggak mau ketinggalan, aku pun nyetatus begini di facebookku:


Dek, kamu tuh sebenernya nyari kuliah buat apa? Kebanggaan? Mati aja deh! Hahaha
And you know what? Status itu menuai banyak kontroversi. Well, sebenernya cukup kejam juga sih itu status. Kalo kata temen-temenku yang ngomen, frontal banget. Adik-adik lagi pada stres, eh malah digituin. Kayaknya harusnya aku kali yang mati. Hahaha. Yah, nggak bisa dipungkiri kalo yang ada di pikiranku dulu waktu mau ikut SNMPTN Tulis adalah pokoknya aku harus kuliah di sana. Ada unsur nyari bangga juga di dalam hatiku. Maklum, kan calon mahasiswa baru. Kalau sekarang sih, setelah setahun berlalu, rasa-rasanya kebanggaan itu luntur begitu saja. Bukan karena almamaterku yang nggak prestis-prestis amat dibanding beberapa yang lain -lagipula prestis enggaknya kan tergantung yang make juga-. Cuma, apa pula bangganya jadi mahasiswa kalo nggak bisa berkontribusi apa-apa? Bahkan buat diri sendiri? *Harakiri* Sebenarnya, statusku itu hanya interpretasi atas kegalauan yang sedang kualami: andai dulu pas aku lulus SMA pikiranku pengen kuliah nggak cuma nyari bangga jadi maba di universitas ternama.

The point is: Aku CEWEK!

Yah, tapi itu dulu. Normalnya emang gitu sih. Setelah mereka di-OSPEK, menjalani kehidupan perkuliahan yang hell, dan tentunya enggak salah gaul, mind set mereka pun pasti akan tercemar oleh berbagai idealisme khas mahasiswa.


Nah, sekarang, setelah hampir setahun berlalu dan aku sudah hampir libur lagi, it seems like waktu memang benar-benar berlari. Dan kurasakan sejak pertengahan semester dua lalu, idealismeku pergi entah kemana, daftar mimpi-mimpi itu lebih sering kuabaikan, dan aku hidup bagaikan bola yang diperebutkan oleh dua tim, nggak tau siapa yang bakal ngegolin. Halah.

Eniwei, halo Juni. Tahun lalu hari-harimu sungguh jadi yang paling menguras emosi dalam hidupku. Setelah setahun berlalu dan hari ini aku sampai padamu lagi, aku nggak tau harus bagaimana menyambutmu. Teman-temanku seangkatan banyak juga yang mau ikut SBMPTN. Aku? Ehm. *Memandang kartu peserta SBMPTN yang siap cetak* Ah, aku jadi ingat. Sewaktu aku mengeklik kanan dan memilih save image as untuk kartu pesertaku ini, tiba-tiba saja hatiku menanyakan satu hal yang sebelumnya jawabannyalah yang membuatku yakin melakukan ini: kenapa kamu pengen banget ke sana? Detik itu, aku sama sekali nggak menemukan jawaban yang cukup kuat untuk pertanyaanku itu. Sewaktu aku beres-beres buku beberapa hari setelahnya, aku menemukan catatan harian yang kutulis sekitar tiga bulan yang lalu. Aku nggak ngerti kenapa aku masih jalan terus padahal kurasa kalimat-kalimat di block note yang sekarang harus kurekatkan dengan selotip berwarna merah itu ada benarnya juga.
Jumat, 25 Januari 2013
... Tadi waktu mau maghrib aku menyempatkan diri untuk melamun sambil memakai mukena. Aku melamunkan UNS, birokrasinya yang nggak banget, pelayanan kemahasiswaannya yang mengecewakan, dosen-dosennya yang seenaknya aja dan nggak ada transparansi nilai sama sekali, bus kampusnya yang bayar, dan lain-lain sebagainya yang jauh dari bayanganku selama ini. Lalu pikiranku beralih ke Linda, teman sesama (calon) penulis, LPM Kentingan UNS, dan daftar mimpi-mimpiku yang sebagian berlatar UNS. Setelah itu, aku tiba di masa depan dimana aku menyadari bahwa akan selalu ada hal-hal terbaik dalam hidup yang nggak selalu bisa didapatkan di tempat-tempat terbaik sekalipun. Hal-ha yang nggak senilai dengan uang maupun prestis. Sampai di sini aku sudah memakai mukenaku, lalu memandang aku yang lain di balik cermin yang sudah tertarik ke atas kedua ujung bibirnya. Tiba-tiba aku merasa bahagia menyadari semua ini.
Nggak peduli dimanapun berada, asal bisa menjadi seseorang yang berguna, bermanfaat bagi orang lain, itu sungguh berkali lipat lebih baik daripada berada di tempat terbaik tapi cuma jadi pelengkap aja, nggak ada juga nggak apa-apa.

Komentar

Postingan Populer