Semacam Tiang Pancang
![]() |
| Metamorfosis |
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Halo kamu! Sudah hampir seminggu ya kita nggak berbagi cerita? Bagaimana kabarmu? Ah, semoga kamu baik baik baik baik saja yaa! Well, dua minggu ini benar-benar minggu yang berat. Tugas-tugas, seperti biasa, mengantri dengan indahnya kalo udah sampai di penghujung semester. Untungnya semester ini nggak seberat semester lalu. Yang bikin agak keteteran itu yang lain-lainnya. Yes, sekarang aku jadi mahasiswa (sok) sibuk sampai mau-maunya nggak pulang selama sebulan lebih. Niatnya sih menyelesaikan tanggungan-tanggungan yang tersisa, eh, nyatanya tetep aja jadi pengejar deadline. Hari ini pun aku bertanya-tanya kenapa nggak juga pulang ke Ponorogo. Padahal (kayaknya) aku sudah dirindukan mati-matian oleh keluarga. Aaaaaa there're so much things happened akhir-akhir ini, di permukaan laut maupun di dalamnya. Maksudku, di luar maupun di dalam diriku. Hahaha. Baiklah, aku nggak tahu harus memulai ceritaku dari mana. Sebenarnya sih, aku mau cerita banyaaaak banget, tapi apa daya ini otak isinya lagi kusut. Jadi, aku akan mencoba menceritakannya sebaik mungkin padamu :)
Ehm. Jadi, seperti yang selalu kutulis, waktu memang selalu berlalu bagaikan peluru. Tanpa kamu sadari, ketika kamu memutuskan untuk berlari bersamanya, menikmati angin yang meniup-niup puncak kepalamu, maka kamu akan sampai pada tujuan bahkan sebelum kamu benar-benar menyadarinya. Well, kurasa, itulah yang sedang terjadi padaku. Rasanya, baru kemarin aku membuat blog ini sebagai tugas ospek kuliahku, memosting apakah aku akan bertemu dengan spesies-spesies langka seperti waktu SMA, lalu menjalani hari-hari sebagai mahasiswa baru dengan setengah hati, sampai-sampai kutulis dalam salah satu daftar mimpiku: mencintai UNS dengan sepenuh hati. Rasanya benar-benar baru kemarin. Sekarang, aku sudah sampai pada penghujung semester lagi. Nggak kerasa ya, setahun berlalu begitu cepat. Postingan di blog ini pun sudah lebih dari seratus jumlahnya, dan kita sudah berbagi banyak cerita.
Kayaknya baru kemarin aku bilang "Tuh, kampusku!" waktu keliling UNS dan melewati FISIP sehabis SNMPTN Tulis, sekarang sudah hampir tes masuk perguruan tinggi lagi aja. Ya, empat hari lagi SBMPTN akan dilaksanakan. Kalau menaati jadwal yang sudah kubuat sejak April lalu, seharusnya detik ini aku masih berada di dalam kereta Bengawan, menikmati perjalanan menuju Stasiun Jatinegara. Seharusnya sih begitu. Tapi, setelah menggalau beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan tiket yang sudah kubeli sejak sebulan yang lalu itu. Yes, aku membatalkan perjalananku ke Jakarta hari ini. Menyerah sebelum berperang, eh? Hahaha, mungkin, mungkin. Yang terlihat memang seperti itu. Tapi, asal kamu tahu saja ya, setelah berhasil membatalkan tiket keberangkatanku tadi dan aku keluar dari Stasiun Solojebres, entah kenapa, hatiku lega luar biasa. Kalau nggak salah ingat, aku pernah menulis juga padamu bahwa semester ini akan menjadi semester yang patut kukenang sebagai tonggak baru perjalanan hidupku. Yah, harus kuakui, it does, dengan berbagai cara.
Kalau Justin Timberlake dalam film In Time saja bilang bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam sehari, apalagi dalam satu semester, eh, setahun? Aku sama sekali nggak punya prasangka bahwa aku akan berubah pikiran sedemikian rupa sehingga menjadi seperti ini. Kamu tahu? Things have changed. Dan seperti yang kerap kutulis padamu, perubahan memang selalu terjadi tanpa bisa kita pungkiri. Setahun telah berlalu, dan mereka yang pernah, atau masih, dekat denganku benar-benar sudah berubah. Aku nggak bisa mendeskripsikannya dengan jelas, I'm just feel it. Genjes, Tito, Nia, Niken, Ikanov, Anggie, Fida, Evi, Chamim, Mufid, dan terlebih lagi aku.
Aku telah mengambil beberapa keputusan besar semester ini, I'm on it now: the change. Keputusan yang nggak bisa kuceritakan padamu, tapi yang pasti, akan ada lebih banyak hal lagi yang berubah dariku. Mungkin (mungkin lho yaaaa) kamu nggak akan menemukan aku yang dulu padaku nanti. Tapi, semoga aku nanti jadi lebih baik dari sekarang dalam berbagai hal *baca: jadi istri-able huahahaha*. Pokoknya, yang ingin kulakukan sekarang adalah melihat semua keindahan dunia dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok. Apapun konsekuensi yang harus kuterima atas keputusan ini, I'll take it. Pun kalau kamu pada akhirnya akan memandangku dengan cara yang berbeda (apapun itu artinya, positif maupun negatif), yoh, sak bahagiamu men. I'm just gonna do what I think I should do. Aku akan mengejar mimpi-mimpi yang sempat kuabaikan selama beberapa bulan ini *sudah ku re-write lho*, berusaha sekeras yang kubisa, dan semoga aku juga masih bisa memilikimu di hari-hariku selanjutnya. Meskipun kita tak pernah bersua, setidaknya, aku kan masih bisa menulis padamu, just as always.
Yang sedang dalam fase kepompong *uhuk*
Na'im.
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan-kenangan
Dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru


Komentar
Posting Komentar