Anak Macam Apa

Ayahku sedang mengupas jagung yang dipanen tadi pagi. Sedari sore dengan jeda buka puasa, shalat maghrib, lalu isya', dan tarawih, ayah masih terus berusaha menyelesaikan pekerjaannya, mengupas berkarung-karung jagung itu dari kulitnya (yang dalam bahasa jawa disebut klobot). Sedari tadi juga aku hanya seliweran melewati beliau, ngobrol sedikit, bertanya basa-basi kenapa belum tidur (yang dijawabnya dengan menyebut pekerjaan yang belum selesai -klobot-klobot itu-), menuju ke kamar tengah untuk menyisir rambut, mengambil handuk, cuci muka, lalu kembali lagi ke kamar, menghadap netbook, menyelesaikan pekerjaan yang sudah harus selesai besok pagi sebelum aku berangkat ke Solo lagi.

Yes, sekarang aku memang sedang di rumah. Setelah sehari menunda kepulanganku, akhirnya Senin lalu aku bisa ketemu lagi dengan ayah, ibu, dan adikku yang superlucu. Meskipun pulang, aku malah menghabiskan sebagian besar waktuku duduk di depan netbook, seperti yang kutulis di atas itu, menyelesaikan pekerjaan yang sudah harus selesai besok pagi sebelum aku berangkat ke Solo lagi.

Yes, besok aku mau ke Solo lagi. Ngapain? Mau jadi mahasiswa sok sibuk ngurusin ini itu. Hahaha gaya banget. Padahal, diantara banyak idealisme ingin jadi orang kelak, ini semua untuk orang tuaku di rumah, ini semua juga untuk membahagiakan mereka, dan lain-lain sebagainya, mungkin sebenarnya ayah dan ibuku nggak butuh itu semua. Mungkin bagi mereka, dengan aku yang kalau pulang ngerti kerjaan rumah dan nggak melulu mikirin tetek bengek urusan kuliah yang nggak begitu mereka ngerti, itu sudah cukup.

Komentar

Postingan Populer