Lebih Banyak
Belakangan, setiap kali aku sampai pada benda dengan tuts-tuts keyboard yang diatasnya tercetak huruf a sampai z dan simbol-simbol ini, juga pada halaman dokumen kosong tempat ia seharusnya diisi dengan kalimat-kalimat, aku tak tahu harus menuliskan apa. Bukan, bukan karena aku tak punya sesuatu untuk kutuliskan. Bahkan di saat seperti itupun, bukankah aku masih bisa menghasilkan kombinasi kata-kata, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf, meskipun hanya sekedar keluh kesah aku sedang tak bisa menulis? Kali ini, aku tak bisa menulis apapun mungkin karena aku punya terlalu banyak hal yang mengisi kepala ini. Mungkin. Meskipun ketika aku mengatakan punya terlalu banyak hal seperti ini, ada banyak orang lain yang ternyata mempunyai lebih banyak lagi daripadaku. Mereka yang lebih banyak membaca buku. Mereka yang lebih banyak ditempa oleh pahit manis kehidupan. Dan aku merasa semakin kecil, semakin kerdil. Dan dunia ini memang tak hanya seluas daun kelor.

Komentar
Posting Komentar