Petrichor

Rinjani
Di luar hujan deras. Tapi, dinding-dinding aula Gedung 2 membuat gadis berwajah tirus dengan alis tebal yang menaungi kedua bola mata seperti kaca itu tak bisa menikmati rintiknya. Ia sudah lama merindukan hujan, salah satu hal yang paling ia senangi, mencium aroma khas tanah basah yang menguar karena tetesan-tetesan air dari langit itu, lalu pada akhirnya sampai pada setangkup rindu.
“Hujan mempunyai lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu.” Gadis itu mengingat kata-kata yang pernah diucapkan seseorang padanya. Seseorang dengan senyum yang selalu bisa membuatnya merasakan kebahagiaan lain dari yang bisa ditimbulkan oleh mimpi-mimpinya selama ini jika terwujud: mengubah negeri ini menjadi lebih baik, berkontribusi, pokoknya berjuang, bergerak, demi rakyat Indonesia yang tergilas kemiskinan karena tikus-tikus pemerintahan. Tiba-tiba ia rindu melihat senyum itu. Rindu sekali.
            “Baiklah teman-teman. Kita akhiri rapat koordinasi hari ini. Besok kita berkumpul di bulevar pukul tiga sore. Sudah saatnya kita bergerak! Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia!” Teriak seorang pemuda yang tengah berdiri di podium, meninjukan kepalan tangannya ke udara. Seluruh penghuni aula yang tak seberapa, tak terkecuali gadis bermuka tirus itu, mengikutinya.
            “Fyuh!” Gadis itu menghembuskan nafas panjang setelah beberapa menit kemudian pertemuan itu berakhir.
            “Nggak pulang, Ni? Hujannya udah reda, tuh.” Gadis yang dipanggil Rinjani itu menoleh pada sumber suara. Pemuda yang tadi berada di tengah podium itu kini tengah menatapnya.
            “Belum, Lang. Duluan aja.” Jawab Rinjani pendek. Sementara itu, yang disuruh duluan malah duduk di sampingnya.
            “Kamu kenapa sih, Ni?” Cowok bernama Galang itu memang paling tahu kalau Rinjani sedang tidak baik-baik saja.
            “Nggak, nggak papa. Serius. I’m fine.” Rinjani memaksakan seulas senyum pada temannya sejak SMA itu. Dia memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi, saat ini ia tidak ingin seorang pun tahu apa yang tengah ia pikirkan, apalagi Galang.
            “Yaudah kalo kamu belum mau cerita. Aku pulang duluan ya, Ni? Nggak mau bareng?”
            “Nggak Lang, makasih.” Rinjani tak enak hati karena terus-terusan menolak tawaran cowok berkacamata itu. Galang pun berlalu dari aula diikuti lambaian tangan sekenanya dari Rinjani. Beberapa menit kemudian, Rinjani masih menjawab sapa dari teman-temannya yang belum pulang juga, baru kemudian ketika aula benar-benar dihuni oleh dia sendiri, Rinjani duduk menggeloso di lantai. Air matanya tumpah satu-satu. Ia merasa sungguh capek dengan semua yang dia lakukan belakangan ini: kuliah, ikut berbagai aksi, diskusi, kegiatan sosial, dan lain-lain sebagainya dalam rangka berkontribusi untuk negeri.

            “Buat apa sih kita melakukan semua ini? Toh suara kita banyak nggak didengarnya. Kegiatan-kegiatan kita sering dipandang sebelah mata. Diskusi-diskusi kita sering kali diangap nggak berguna, nggak memberi solusi katanya.”Keluh Rinjani suatu sore saat ia dan teman-teman BEM-nya menikmati nasi kucing di angkringkan belakang kampus. Teman-temannya menghentikan kegiatannya sejenak memandang cewek yang selama ini dikenal sebagai aktivis paling getol tersebut.
            “Ini orang pasti lagi ngetes kita, nih!” Seseorang nyeletuk diikuti tawa dari yang lain.
            “Ehm. Begini Ibu Jani.” Galang yang juga ada diantaranya saat itu mengeluarkan suaranya.        “Ini bukan soal kita yang nggak didengar, dipandang sebelah mata, lebih lagi dianggap nggak berguna. Kita nggak melakukannya buat itu. Tapi ini soal kita yang berbuat, melakukan sesuatu yang memang sudah seharusnya kita lakukan, apa yang menjadi tugas kita sebagai mahasiswa. Ingat Tri Dharma perguruan tinggi yang ketiga kan?” Galang menatap teman-temannya satu per satu. Rinjani sendiri mencetak kata pengabdian masyarakat besar-besar di otaknya.
            “Iya sih. Tapi kan sekarang sering kali kita yang aksi atas nama rakyat malah dimusuhi sama mereka yang kita bela. Katanya nggak melakukan yang bener, malah nambah-nambahin repot karena kerusakan yang ditimbulkan sewaktu demo.”
            “Anarki ya ...”
            “Tapi kan nggak semuanya gitu. Buktinya, kita damai-damai aja tuh kalau aksi.”
            “Jangan sampai hal-hal kayak gitu membuat kita berhenti bergerak. Logika kita adalah logika politik nilai. Kajian kita berdasarkan logika rakyat. Jika rakyat menderita atas kebijakan pemerintah, maka kita bela!”
            “Terus, gimana soal mahasiswa kasih solusi yang nyata?” salah sau diantara segerombol kecil manusia yang masih beridealisme tinggi itu memotong.
            “Ini nih yang membuat mahasiswa di deskritkan. Kita kan udah bayar pajak dan gaji wakil rakyat biar mereka kerja bener dan serius mikirin kebijakan. Masa nanya ke kita kebijakan yang baik? Kalau emang pejabat-pejabat itu mau mahasiswa yang mikir dan nyari solusi kebijakan yang baik, ya ayo kita tuker tempat!”
            “Ya tapi kan nggak gitu juga kali, Lang. Sebagai mahasiswa, kita juga nggak boleh asal bertindak gitu aja.”
            “Itu sih pasti. Yang penting, jangan sampai kita berhenti bergerak. Gitu aja sih.” Galang yang tadinya berapi-api mendapatkan kembali kontrol dirinya. “Udah ah, jangan ngomongin gerakan melulu. Ntar kita mabuk nggak jadi bisa gerak deh. Makan yuk!”
            Rinjani ingat, sore itu saat mereka menghabiskan waktu bersama-sama lagi, ia merasa sungguh bahagia memiliki teman-teman seperti mereka. Biarkan orang lain berkata apa, yang penting mereka masih memiliki satu sama lain, dan mereka sama-sama bergerak untuk negeri ini yang lebih baik. Yang penting, jangan sampai kita berhenti bergerak.
            Kata-kata Galang tempo hari kembali mengiang di telinganya. Setelah diulang berkali-kali, Rinjani pun bangkit berdiri. Ia merasa lebih kuat dari beberapa menit yang lalu.
            “Ni!” Rinjani menoleh pada sumber suara yang sepertinya dikenalnya. “Gue tungguin dari tadi kemana aja sih? Lama amat.” Andys, cewek bertubuh semampai bak model itu memberengut –yang membuat wajah cantiknya bertambah cantik- kesal.

Andys
            Dia tak habis pikir kenapa teman sekos yang juga merangkap jadi teman lekatnya sejak setahun yang lalu ini hobi sekali mikirin negara. Gara-gara hobinya, ia sering kali harus menunggu Rinjani sampai sore begini. Meskipun Rinjani menyuruhnya pulang duluan, tetap saja. Untunglah tadi hujan. Jadi, ritualnya menunggu jadi tak membosankan-membosankan amat karena ia bisa mencium aroma khas tanah yang basah karena hujan, sekaligus menikmati suara rintik yang baginya adalah lagu paling indah selain suara ombak dan angin sepoi.
            “Bau wangi yang khas dari tanah basah sewaktu hujan itu namanya petrichor.” Kata cowok berambut kriwil gondrong dan berkacamata itu. Namanya Lomo. Mereka sedang berada di jembatan asmara, jembatan yang menghubungkan Gedung 1 dan Gedung 2 kampusnya, menunggu Rinjani yang lagi rapat sekaligus hujan reda.
            “Oh. Iya ya? Baru tau gue kalo ini ada namanya.”
            “Wah, Piye sih? Masa nggak tau?”
            “Ya maap-maap aja ya, gue kan anak sosial, mana ngerti sama yang begituan.” Gerutu Andys sebal.
            “Lah, emang anak sosial nggak boleh ngerti ilmu sains?”
            “Bodo! Lu tuh bisa nggak sih nggak nyebelin gitu? Bete gue. Udah si Rinjani lama banget, elu lagi mengacaukan ritual gue nikmatin hujan!”
            “Nikmatin apaan? Galau sih iya.”
            “Maksud el?”
            “Status facebook sama kicauan kamu di twitter tuh, kalo udah musim hujan bawaannya pasti galau mulu.”
            “Biarin, siapa tahu dengan datangnya musim hujan tahun ini, Prince Charming yang  gue idam-idamkan bakal turun bersamaan dengan rintiknya. Hahaha,” Andys tertawa sebal pada cowok yang duduk di sampingnya itu. Ini semua gara-gara Rinjani sampai dia lagi-lagi harus dibully sama cowok ini.
            “Nikmatin hujan tuh jangan cuma diliatin doang! Sini!” Tiba-tiba Lomo menggandeng tangannya menuruni undakan pendek, menuju halaman kecil di dekat jembatan itu.
            “Eh, lo ngapain sih, gembel? Ogah gue basah-basahan!” Tapi, tentu saja sebelum kata-kata itu berakhir, hujan sudah mengguyur kedua tubuh manusia itu.
            “Woi, kalian berdua ngapain ujan-ujanan gitu?” Rinjani yang dinanti dari tadi muncul dari koridor.
            “Ni, sini!”

            “Eh, woi!” Andys tersadar dari lamunannya ketika melihat lambaian tangan dari Rinjani. “Nglamunin apa sih pake senyum-senyum segala?”
            “Enggak. Tiba-tiba aja keinget waktu kita hujan-hujanan bertiga di deket jembatan asmara. Konyol banget tau nggak sih? Bener-bener MKKB, Masa Kecil Kurang Bahagia.” Andys sudah melupakan kekesalannya karena terlalu lama menunggu Rinjani.
            “Oh, yang waktu itu ya? Hahaha! Kita emang konyol banget sih, diliatin sama sisa-sisa anak FISIP yang belum pulang, tapi aku seneng banget bisa menikmati hujan sama kalian.” Rinjani tersenyum tulus. Andys pun merasakan hal yang sama. Dia sungguh bahagia. Karena sejak saat itu, ia melihat Lomo dengan cara yang benar-benar berbeda.
            “Lo besok jadi demo lagi?” Andys memulai obrolan dalam perjalanan menuju parkiran.
            “Jadi dong!”
            “Masih soal nolak kenaikan harga BBM?”
            “Iyalah. Apa lagi?”
            “Sampe sekarang gue masih  nggak ngerti kenapa lo hobi banget ngelakuin hal-hal kayak ginian.” Mendengar kata-kata darinya, Rinjani lagi-lagi hanya mengendikkan bahu.
            “Ngapain juga sibuk mikirin negara, orang mikirin hidup sendiri aja susah.”
            “Kan dulu aku udah nyeritain alasanku ke kamu. Males ah jelasi lagi.” Muka Rinjani tampak kusut.
            “Ya maksudnya percuma aja gitu lho. Lo demo, diskusi, sibuk ngurus ini itu, kuliah terbengkalai, IP anjlok, terus pemerintah yang lo protesin nggak jadi mikirin rakyat juga kan?”
            “Masih mending aku ngelakuin sesuatu! Daripada kamu, mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang, galau mulu mikirin cowok. Buat apa bayar kuliah mahal-mahal kalo cuma buat dengerin dosen di kelas yang belum tentu ngajarnya bener?” Rinjani tampak panas menanggapi kata-kata yang dilontarkan oleh Andys.
            “Lo kok jadi ngotot gitu sih?”
            “Ya kamu! Ah udahlah! Susah kalo ngomong sama orang yang di pikirannya cuma ada diri sendiri!” Rinjani mempercepat langkahnya mendahuluinya.
            “Apa lo bilang?! Dasar manusia idealis! Lo nggak bakal bisa ngrubah negeri ini dengan maksain kehendak terus-terusan!” Teriak Andys pada lorong kampus yang lengang. Rinjani sudah menghilang di tikungan yang menuju parkiran, entah mendengar kata-katanya atau tidak. “Ah, bodo!” Dengusnya.
            Andys pulang agak larut malam itu. Tugas kelompok yang harus dikumpulkan besok menahannya sampai pukul 22.30.
            “Jan ...” Ia urung meneruskan kata-katanya, ingat kalau tadi sore mereka bersinggungan. Melalui jendela kamarnya, Andys dapat melihat gadis yang sudah berbaju tidur itu tengah menulis. Alih-alih melaksanakan niatnya mengetuk pintu yang tertempeli banyak stiker itu, Andys berjalan menuju kamarnya.
            Begitu membuka engsel pintu, pandangannya langsung tertumbuk pada sebentuk pigura berisi sebuah foto tiga mahasiswa di tengah hujan: Andys, Lomo, dan Rinjani. Mereka tampak begitu bahagia. Tanpa pikir panjang, Andys meraih ponselnya, lalu memencet beberapa tombol.
            “Halo, Lomo?”

Lomo
            Jalanan bising oleh teriakan-teriakan demonstran yang menolak kenaikan harga BBM. Setelah setengah tahun ditangguhkan, wacana bahwa BBM akan benar-benar naik Juni ini membuat berbagai pihak, termasuk mahasiswa, naik darah. Dimana-mana, berbagai aksi digelar. Tak sedikit pula yang berakhir dengan kericuhan, menimbulkan kerugian yang lebih besar.
            Lomo memperhatikan kerumunan manusia beralmamater biru telur asin yang bercampur dengan demonstran entah dari kelompok mana itu dengan pandangan kosong. Di bahunya tersampir pula almamater yang sama dengan tambahan kamera nikon yang memberatinya. Sesekali, ia membidik pemandangan di hadapannya. Teriakan-teriakan yang memenuhi udara bercampur dengan asap hitam dari ban yang dibakar entah oleh siapa, entah dapat darimana.
            Lalu, entah bagaimana awalnya, beberapa demonstran tampak terlihat ricuh di salah satu sudut. Aparat militer menunjuk beberapa wartawan yang tampak tengah berusaha meliput aksi yang sedang berlangsung.
            “Pokoknya kami tidak peduli ada wartawan, yang penting segera pergi!” Kata salah seorang demonstran, diikuti demonstran-demonstran lain. Sebelum kericuhan yang lebih parah terjadi, aparat segera membubarkan kerumunan. Sehabis maghrib, barulah para demonstran mulai membubarkan diri. Lalu lintas yang sempat macet cukup panjang pun mulai berjalan dengan normal. Lomo, dengan pandangan yang agak kabur karena minus matanya bertambah, mencari seseorang. Ia menemukan Rinjani duduk di teras sebuah toko yang sudah tutup. Wajah itu menatap jalanan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sejenak, melihatnya seperti ini membuatnya bertanya-tanya sendiri apa benar gadis dengan mata yang tampak selalu berkaca-kaca ini adalah seorang aktivis yang keras kepala.
            “Ni ...” Wajah itu menoleh padanya. Ia tampak terkesiap melihat Lomo berada di situ.
            “Lomo? Ngapain kamu di sini?” Cowok itu hanya mengendikkan bahunya, menunjukkan jas almamater dan kamera yang menyampir di sana.
            “Nggak pulang?” Sebelum pertanyaan itu memperoleh jawaban, titik-titik air menetes besar-besar dari langit. Rinjani tersenyum, senyum yang selalu membuat Lomo rindu untuk melihatnya kembali, lalu menelengkan kepala pada hujan yang mulai menderas.
            “Hujan.” Jawabnya pendek.
            Mereka berdua duduk berdampingan, menikmati titik-titik hujan favorit mereka itu dengan tenang. Bau petrichor menguar memenuhi udara bersama dengan angin yang menjadi dingin. Beberapa orang yang juga berteduh di teras toko itu merapatkan jaket. Mereka pun membunuh waktu dengan mengobrol.
            “Kata Andys, kamu ngambek sama dia ya?” Lomo memulai topik pembicaraan.
            “Dia sih, nyebelin banget.”
            “Kamu kayak nggak kenal dia aja.” Ditanggapinya gerutuan itu ringan.
            “Tapi yang kemarin itu benar-benar menyebalkan. Mungkin karena suasana hatiku lagi buruk, jadi deh supermenyebalkan.”
            “Sekarang masih ngambek?”
            “Nggak lah, kayak anak kecil aja ngambek lama-lama.” Lomo sudah menduga jawaban itulah yang akan dikeluarkan oleh gadis itu. Dia selalu nggak bisa ngambek lama-lama. Apalagi sama Andys yang selama setahun ini sudah seperti kakak beradik yang sulit dipisahkan. Kemudian hening tercipta diantara keduanya. Hujan kelihatan agak mereda.
            “Mo ...” Akhirnya, Rinjani mengeluarkan suara lebih dulu untuk memecah keheningan. Lomo menoleh pada wajah di sampingnya, menunggu. “Aku capeeek banget.”
            “Capek kenapa?”
            “Ya capek. Capek sama semua ini, Mo. Aksi, diskusi, segala urusan soal kontribusi ini. Yang bertahan semakin sedikit, banyak program yang nggak jalan maksimal ... Di awal-awal doang mereka semangat, waktu eksekusi pada minggat semua. Kita kan ngelakuin ini bukan buat ngeksis doang, tapi mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga!” Wajah gadis itu semakin mengeras seiring dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Lomo yang sejak tadi mendengarkan kini mendesah pelan.
            “Ni.” Panggilnya. Gadis itu menoleh. “Santailah sedikit.”
            “Apa? Santai katamu? Mana bisa gitu! Aku nggak bakal bisa santai sebelum mimpi-mimpiku tercapai”
            “Tapi nggak dengan terobsesi sampai kamu lupa sama yang lain-lain gini, Ni.”
            “Aku bukannya terobsesi Mo, tapi berusaha sebaik yang kubisa.”
            “Dasar keras kepala.”
            “Apa katamu?”
            “Keras-kepala!” Lomo mengulangi kedua kata itu, pelan, tapi tegas, lalu menunggu semprotan kata-kata keluar dari gadis penyuka cokelat itu. Tapi, yang ia bayangkan tidak terjadi. Sejenak, Rinjani seperti akan mengeluarkan kata-kata. Namun, urung dan berganti dengan hembusan nafas yang panjang.
            “Memangnya apa kebahagiaan lain yang ada bagi orang idealis kayak aku ini selain mimpi-mimpiku yang muluk itu tercapai?”
            “Aku, Ni!”

Andys
            “Memangnya apa kebahagiaan lain yang ada bagi orang idealis kayak aku ini selain mimpi-mimpiku yang muluk itu tercapai?”
            “Aku, Ni!”
            Andys yang sedari tadi berada di teras yang sama tanpa kedua temannya itu sadari semakin merapatkan jaketnya mendengar kata-kata itu. Ternyata selama ini Rinjanilah yang Lomo sukai. Bukan dia. Setelah akhirnya dia menemukan seseorang yang dia sukai, perasaannya bertepuk sebelah tangan. Ia ingin sekali bumi menelannya saat itu juga, tapi tak terjadi. Ia ingin pergi dari situ sekarang juga, tapi kakinya seperti dibebani berton-ton entahlah. Pokoknya sesak aja rasanya.
            Ia bisa melihat dengan jelas semburat merah yang tiba-tiba muncul di wajah tirus sahabatnya itu. Kenyataan yang lain memburunya, bahwa ternyata Rinjani juga menyukai Lomo. Dia tak pernah bilang, sama seperti Andys yang tak pernah menyebut Lomo diantara daftar nama cowok-cowok gebetannya. Ia ingin marah, tapi tak tahu kepada siapa. Pada akhirnya, ia hanya memandangi kedua orang yang disayanginya dalam cara yang berbeda itu saling mengucap cinta lewat senyuman.
            “Gue salah ngomong ya Mo, ke Jani?”
            “Ya jelas, sih.” Suara di seberang sana menjawab amat jujur.
            “Sial.” Gerutunya. “Ya habis, dia gitu amat. Keterlaluan mikirin negaranya.”
            “Yah, gimana ya? Ibaratnya kalo semua orang tuh kaya, yang namanya kaya itu jadi nggak ada. Semua orang itu punya perannya masing-masing dalam kehidupan, Ndys. Lo yang apatis itu ada biar orang-orang kayak Rinjani bisa didefinisikan. Kamu nggak bisa nyalahin dia gitu aja. Sebaliknya juga demikian.” Jelas Lomo panjang lebar.

            Ingatan tentang percakapan teleponnya dengan Lomo kemarin malam tiba-tiba menyadarkan Andys akan satu hal. “Lo bener, Mo. Gue ngerti sekarang. Rinjani belajar buat nggak terlalu idealis sama lo, dan gue belajar buat nggak terlalu apatis.” Batinnya berucap. Tiba-tiba, ia merasa lega sekali.

            Lalu, hujan pun mereda. Aroma petrichor yang memenuhi penciumannya terasa sangat berbeda kali ini.
Petrichor - END

PS.
Semoga beberapa bulan ke depan bisa jadi novel dan terbit. Aamiin! (:

Komentar

Postingan Populer