Ramadhan Kali Ini: Kebas
Hai kamu. Apa kabar? Ah, rasanya lama banget nggak menyapamu ya? Postinganku belakangan ini sepertinya benar-benar nggak asik. Biasanya aja nggak asik, apalagi kalau aku lagi merasa nggak asik begini. Entah apa namanya. Yah, habis mau bagaimana lagi? Kegiatan-kegiatan yang membuatku sok sibuk sampai nggak liburan di rumah ini benar-benar menghabiskan waktuku. Bukannya karena kerjaannya banyak banget, tapi lebih karena malas dan sebagainya, dan sebagainya. Sebenarnya sih nggak gitu-gitu amat. Tapi, yah, kamu tahu sendiri kan? Manusia.
Sudah beberapa hari ini aku mencoba menuliskan sesuatu yang berguna, atau seenggaknya cukup layak untuk kamu baca, tapi hasilnya nihil. Bukan entah kenapa, tapi emang lagi nggak bisa mengutarakan apa yang ada dalam pikiran ke dalam kata-kata. Lalu apakah sekarang bisa? I'm trying to do it now.
Well, Ramadhan sudah berlalu hampir selama seminggu. Hanya dua hari saja Ramadhan ini kulalui di rumah -dua hari yang tidak begitu berasa pulang-, sedangkan sisanya aku habiskan di Solo dengan nggak produktif-produktif amat. Begadang, lalu bangun kesiangan -jam tiga pagi sadar hanya untuk niat puasa-, nggak salat subuh, telatan kalau janjian, jarang tadarus, bahkan sering khilaf kalau ini bulan Ramadhan. Aku jadi bertanya-tanya pada diriku, apakah hatiku sedang dimatikan oleh-Nya soal hal-hal religius begini? Men, jangan sampai.
Kurasa bukan aku satu-satunya remaja akhir -ya, kata Anggie umur 19 itu termasuk dalam kategori remaja akhir- yang kebas terhadap Ramadhan kali ini. Kata Anggun, teman sekosku yang juga merasakan hal yang sama, makin dewasa dan makin banyak kita nglewatin Ramadhan emang semakin nggak berasa Ramadhannya. Ya, bisa jadi sih. Bisa jadi bisa jadi bisa jadi. Mungkinkah ini semua karena udah nggak main petasan lagi? Nggak hobi beli kembang api, atau rusuh di tarawih malam hari, atau juga karena udah nggak puasa cuma sampai tengah hari? Entahlah. Kurasa alasan paling paling pas untuk otak mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS yang memasuki semester tiga ini adalah karena aku memang nggak benar-benar berusaha melalui Ramadhan ini dengan semestinya. Nggak mengisi hari-hari -yang meskipun lagi direpotkan oleh urusan duniawi- dengan seenggaknya salat lima waktu -yang nggak bolong-bolong-, dhuha, tarawih, dan tadarus setiap hari ... Nggak lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang lebih menyukseskan misi pendekatanku pada-Nya ... Dan nggak-nggak yang lainnya. Memangnya Ramadhan harus gitu? Ya memang nggak harus sih. Tapi, yah, dengan kadar iman yang segini tipisnya, rasa-rasanya aku memang butuh menghabiskan Ramadhan ini dengan semestinya. Kalau ngeluh terus Ramadhan ini beda, yah, ini memang akunya aja yang membuatnya begitu. Bagi mereka yang memang sudah bersiap untuk Ramadhan sejak jauh-jauh hari sebelumnya, lalu menyambut dan menjalani Ramadhan ini dengan sepenuh hati, Ramadhan ini tetaplah bulan yang lebih baik, tetaplah ia paling istimewa diantara bulan-bulan yang lain. Seperti soal menulis, you don't find time to write. You make time. Aku nggak seharusnya cuma menunggu biar Ramadhan ini berasa Ramadhan banget. I've to do something to make it. Kalau udah melakukan prakteknya kan pasti berasa. Iya kan?
Yah, selamat berpuasa ya buat kamu yang menjalankan. Semoga kamu nggak se-kebacut diriku ini :')
.png)

rung kebacut kok :3 apalagi nek orangnya tau apa yang salah dari dirinya
BalasHapusmove on ke hal yang lebih baik emang ga gampang, ane sepakat banget.
tapi satu hal yang gamau ane rasain adalah ketika sudah lewat ramadhan tapi gaada satu pun bekas bekasnya kalau ane melewati ramadhan (oke, ini lupa sumber dan kutipannya)
tetep semangat kawan, kalo mau minta temenin, ane di solo ampe lebaran In syaa Allah :p
Iyaaa hir, thankyouuu :')))
Hapus