Sampai Halaman 269
Separuh sudah buku Anak Semua Bangsa-nya Pramoedya Ananta
Toer kubaca. Kau tanya bagaimana pendapatku? Nah, aku tak tahu juga bagaimana
harus mengatakan apa yang kurasa setelah sampai pada halaman 269 ini.
Minke (baca: Mingke), sejak sepertiga halaman Anak Semua
Bangsa telah didakwa sebagai pribumi yang tak kenal bangsa sendiri. Ia seorang
terpelajar, pribadi terpelajar pertama-tama, barangkali, yang setiap hari
dicekoki oleh pendidikan eropa, hingga pada saat ia menjadi wartawan pun belum
pernah sekalipun ia menulis menggunakan Bahasa Melayu, bahasa ibunya sendiri.
Pikirnya, Bahasa Melayu ini hanya digunakan oleh orang-orang tak terpelajar
saja.
“Apa akan bisa ditulis dalam melayu? Bahasa miskin
seperti itu? Belang-bonteng dengan kata-kata semua bangsa di seluruh dunia?
Hanya untuk menyatakan kalimat sederhana bahwa diri bukan hewan?” Begitu
katanya, si Minke ini menjawab anjuran Kommer, laki-laki paruh baya yang bukan
pribumi Hindia untuk menulis dalam melayu. Nah, si pria paruh baya ini
menjawab, kutuliskan sedikit saja kalimatnya, “ ... Bahwa Tuan mahir berbahasa
Belanda memang mengagumkan. Tetapi bahwa Tuan menulis Melayu, bahasa negeri
Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri.”
Tak cuma Kommer yang meminta Minke menulis dalam melayu,
juga Jean Marais (baca: Syang Mare), sahabat Minke berkebangsaan Perancis.
Menyedihkan juga mengetahui bahwa yang lebih banyak
menuntut dan mengatakan ia tak kenal bangsa sendiri bukanlah pribumi, melainkan
Indo dan Perancis. Lalu, mengapa Kommer –yang juga wartawan- ini juga menulis
dalam melayu, sedangkan ia sendiri lebih banyak eropa daripada pribumi?
“Lihat, Tuan, keturunan tidak banyak berarti. Kesetiaan
pada negeri dan bangsa ini, Tuan. Ini negeri dan bangsaku, bukan Eropa. Yang
Belanda hanya namaku. Tak ada salahnya orang mencintai bangsa dan negara ini
tanpa mesti pribumi, tanpa berdarah pribumi pun ...”
Inilah mulanya aku teringat tentang Prambanan.
*
Liburan semester yang lalu, aku melakukan perjalanan
selama tiga hari dua malam bersama seorang kawanku. Kami sudah merencanakan
perjalanan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Biaya, penginapan, logistik, dan yang
paling utama tempat tujuan sudah kami susun dengan baik.
Pagi-pagi sekali, kami berangkat naik kereta Prameks
menuju Stasiun Tugu, Jogjakarta. Kereta tidak terlalu penuh hari itu. Aku
memerhatikan penumpang-penumpang yang megisi kereta ini. Di samping kananku,
ada seorang bule dengan tas carrier hijau
yang tampak penuh dengan barang-barang. Ada jahitan berbagai bendera negara di
tas itu, termasuk Indonesia. Aku ingin sekali ngobrol dengannya sebenarnya, bertanya
kemana saja ia pernah pergi. Namun karena nggak
pede soal nanti aku bisa mengerti ucapannya atau tidak, aku mengurungkan niatku,
dan akhirnya hanya mengamati gerak-gerik tenangnya dari samping. Sesekali, aku
mengalihkan pandangan pada wajah-wajah penumpang yang masih menampakkan kantuk.
Setelah dua jam perjalanan di dalam kereta, kami langsung
blusukan ke Benteng Vredeburg yang letaknya dekat saja dengan
Malioboro. Ketika melihat dan membacai deskripsi dari tiap diorama yang ada di
benteng tersebut, kurasai kesungguhan yang berbeda daripada ketika aku
mengunjungi benteng-benteng atau tempat bersejarah sebelumnya. Saat itu, aku
benar-benar merasa bahwa kita sempat keren banget
sebelum merdeka. Ah, ya, kita sempat cinta banget
sama tanah ini, dulu, ketika kita belum benar-benar memilikinya.
Dua hari berikutnya,
kami mengunjungi Keraton Jogjakarta, Malioboro, Pantai Pok Tunggal, dan Museum
Affandi. Destinasi terakhir sebelum kami bertolak kembali ke Solo di hari
ketiga adalah Candi Prambanan, tempat yang kunanti-nantikan sejak awal
perjalanan.
“Berangkat jam berapa
ntar?” tanyanya.
“Jam delapan?” Jawaban
yang berupa pertanyaan dia peroleh dariku.
“Oke. Yuk siap-siap,
keburu siang.” Dengan komandonya yang terakhir, kami pun packing, memastikan tak ada barang yang tertinggal di penginapan,
kemudian melaju menuju perbatasan kota Jogja dengan Klaten.
Seumur hidup, belum
pernah aku menginjakkan kaki pada kompleks candi-candi. Bahkan ke Borobudur
yang sebagian besar teman-temanku sudah bosan dengannya pun. Maka, normallah ketika
memasuki kompleks Candi Prambanan aku sama sekali kehilangan kata-kata. Dari
dekat, candi-candi yang melatari legenda Roro Jonggrang itu sungguh tampak
megah, agung. Langit biru tanpa cela yang menjadi background candi-candi ini tampak hanya sejengkal saja dari puncak
bangunannya.
“Eh, fotoin dong!”
Narsisku kumat.
“Ntar dulu, gue mau
motret candinya. Minggir gih!” Anak
asal Jakarta itu mengusirku, lalu asyik menjepret kompleks candi dengan
kameranya. Aku menunggu bete di belakangnya, lalu mengamati sekitarku. Banyak
turis berlalu lalang dari tempat kami berdiri, lokal maupun asing. Semuanya
tampak bersemangat mengabadikan Candi Prambanan.
“Udah ah, ayo masuk!”
Nggak sabar, aku pun menarik tangannya menuju undakan yang akan membawa kami ke
barisan bangunan-bangunan luar biasa itu. Setelah berada lebih dekat dengannya,
tak kurang kekagumanku terhadap Prambanan.
“Keren banget, ya?”
Desisku sambil meraba relief yang terukir pada dinding batu. Aku sangat
penasaran bagaimana batu-batu ini bisa merekat kuat begitu rupa sehingga bisa
bertahan selama ratusan tahun sampai sekarang.
Yang kuajak bicara tak
menggubris kata-kataku. Lagi-lagi dia asyik dengan kameranya. Aku pun mengikuti
kemana dia dan kameranya menuju, masih dengan kekaguman yang tiada habisnya.
Kali ini, satu kesadaran hadir seiring dengan pandangku mengikuti gerak-gerak
manusia yang mengagumi karya sesamanya di masa silam itu. Semua ini milik
Indonesia, negeriku, tempat dimana tanahnya kupijak setiap hari, udaranya
kuhirup setiap detik, tanah dimana aku lahir dan tumbuh besar. Sekelumit
kebanggaanpun mencuat dari dalam hatiku, membuahkan senyum yang lebih lebar
daripada yang sejak tadi tak kutanggalkan ketika memasuki kompleks candi.
“Mau foto nggak?”
Akhirnya dia menawariku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku pun berpose di depan
candi yang katanya adalah Roro Jonggrang. Beberapa jepretan bersamanya, lalu
kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan ini.
Aku masih ingat dengan
jelas kata-kata kawanku itu sewaktu kami berjalan meninggalkan kompleks Candi
Prambanan, “Gue pengen lahir sebagai orang asing, datang ke sini, terus jatuh
cinta sama negeri ini.” Kata-kata itu mengganti bangga yang kurasakan dengan
malu. Malu karena sadar bahwa yang bangsa Indonesia miliki ini begitu keren,
tapi pemiliknya malah seringkali abai dan menganggap bahwa Paris jauh lebih
indah, Belanda jauh lebih ramah, dan lain-lain, dan lain-lain.
Ah, barangkali kita memang akan lebih mencintai dan lebih
banyak berbuat bagi negeri ini jika kita tak memilikinya. Bukankah sesuatu yang
bukan milik kita seringkali terasa lebih berharga daripada apa yang kita punyai
sendiri? Ah, betapa aku merasa sebagai Minke yang belum lagi mengenal bangsa
sendiri.
Surakarta, Juni 2013

Komentar
Posting Komentar