22 Juli
22 Juli. Senin. Kamar yang sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba di setiap sudutnya itu kali ini terlihat sedikit rapi. Tak ada buku-buku berserakan di atas meja, tak ada pakaian-pakaian yang seharusnya ada di lemari menggantung di sembarang tempat: di sandaran meja, di balik pintu, di hanger yang kemarin digantungkan sekenanya di paku yang menancap di sisi sebelah kiri lemari. Tak ada pula alas kaki yang berserakan tak beraturan di depan pintu masuk. Bukan karena apa-apa sih, hanya saja kemarin adik-adik kelas dari kampung halaman datang untuk menginap. Mau ujian katanya. Lagipula, sehabis mereka pulang kemarin sore, penghuninya tak tidur di sana, melainkan berjubel di kamar depan, milik penghuni yang lain.
Kamar itu tampak tua ketika aku memasukinya, lebih dari ketika pertama kali aku kemari setahun yang lalu. Cat putihnya mengelupas di bagian bawah, sebagian basah oleh rembesan kamar mandi di baliknya, lantainya yang terbuat dari tegel berwarna krem sudah ternoda oleh entah apa disana sini -setiap kali disapu dan dipel pun tak berpengaruh apapun padanya-. Meja belajar dengan rak kecil yang dipenuhi oleh buku-buku fiksi, diktat kuliah, buku harian, dan segala barang yang sebenarnya tak penting membisu di ujung dipan. Gorden merah jambunya bergerak-gerak perlahan tertiup angin pagi. Di luar, tanah belum mengering karena hujan deras semalam. Kawat-kawat jemuran barangkali semakin banyak karatnya dibanding sebelumnya, membuatnya semakin tak layak untuk mengemban tugas sebagai tempat jemuran.
Aku duduk di meja itu. Meja yang sudah berganti posisi dua kali sejak aku tinggal di kamar ini. Dari posisi pertama di ujung dipan yang satunya, sama-sama menghadap tembok, mepet dengan lemari di ujung kamar, kupindah di ujung dipan dekat jendela, menghadapnya juga, mengharuskanku duduk di dipan kalau aku ingin bekerja di atas meja itu. Kali kedua kuubah, hanya kuhadapkan ke tembok seperti sekarang dengan letak yang sama. Dengan begitu, aku bisa menikmati cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah kain gorden merah jambu yang menutupi jendelaku, seperti sekarang ini. Kutatap baris-baris buku di hadapanku, lalu kuambil salah satunya, yang tebal, bersampul hitam, sebuah organizer. Ada barisan mimpi-mimpi yang tertulis di sana, beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum mati.
Cukup lama aku terdiam di sana, di meja dan kursi tempatku menulis segala yang terjadi setahun ini. Lalu, kututup buku bersampul hitam itu, kukembalikan pada tempatnya semula. Aku menatap kamar ini sekali lagi, kali ini benar-benar mengamati detailnya. Sebentar lagi aku tak akan di sini. Sebentar lagi suasana kamarku tak akan seperti ini. Dan, barangkali, sebentar lagi aku tak begini.

selamat berproses :)
BalasHapus